
"Iya, ini Mami, Sayang. Mami Bianca. Kenapa, apa kamu lupa?"
"Maaf, Madam. Tuan amnesia. Memorinya menghilang setelah kejadian itu." sahut Mona, sedangkan Sam hanya diam karena lelahnya.
"Astaga, Sayangnya Mami. Kamu harus segera berobat. Kamu ngga boleh seperti ini. Rayan nya Mami harus sehat dan gagah seperti sedia kala."
"Sudah lah, Tante. Rayan itu lelah." tegur Sam.
"Iya, Mam. Aku sangat lelah. Dan lagi, kepalaku sakit. Seperti ini, jika aku memaksa untuk ingat akan sesuatu." jawab Rayan.
"Baiklah, Mami antar kamu ke kamar," gandenganya.
Rayan menoleh pada Sam. Rasa sedikit ragu dan bahkan takut dengan perlakuan Mami Bian padanya. Tapi, Sam mengisyaratkan agar Ia tetap tenang dan menurutinya.
"Ini kamar kamu." Mami Bian membuka pintu dan membawanya masuk. Horden pun Ia buka, tampak indah pemandangan di luar sana.
"Kamu yang buat pemandnagan itu. Mami membantunya bersama Sam dan Dev. Masih indah hingga sekarang, Mami selalu menjaganya."
Suasana menyerupai sebuah kebun asli yang begitu hijau. Menyegarkan mata jika memandangnya. Menenangkan hati dengan suasana yang begitu nyata. Rayan menghirupnya dengan begitu lega.
__ADS_1
"Aku beberapa bulan berkutat dengan suasana pantai. Dan kali ini, dengan kebun buatan yang sangat indah." lirihnya.
"Sayang, kamu dimana selama ini?" tanya Mami Bian, yang mengajaknya duduk berdua.
"Aku.... Aku ditolong seorang nenek, dan Ia rawat alakadarnya" jawab Rayan, menuruti Sam agar tak membawa Aida saat ini.
"Oh, kasihan. Andai saat itu cepat di temukan, pasti ngga akan separah ini." tatapnya sendu.
Ada sebuah rasa yang janggal bagi Rayan. Tatapan, dan semua perhatian. Meski sebenarnya senang, ketika seorang Mami tiri pun begitu tampak sayang padanya.
"Bisa, biarkan aku istirahat?"
"Oh, baiklah. Mami akan pergi. Kamu istirahat dengan nyenyak disini," Mami Bian beranjak dengan beberapa kali mengusap telapak tangannya di paha.
"Dimana kamu menemukan Rayan?"
"Di desa tepi pantai. Di Rumah sakit yang Rayan beli dan tengah di renovasi."
"Lantas, kenapa Dev tak menemukannya? Bahkan dia lebih lama disana."
__ADS_1
"Takdir." jawab Sam, singkat. Ia memejam kan mata, dan menutupnya dengan pergelangan tangan. Kaki nya lurus, dan Ia naikkan ke satu sisi sofanya yang tinggi.
"Kalau Tante ngomong, itu di jawab yang bener, Sam."
"Aku sudah menjawab, apa adanya. Jika takdir belum mempertemukan kami pada Rayan, maka semua tak akan terjadi."
"Haish! Kau, menyebalkan." tukasnya, lalu berdiri dan langsung pergi.
Rayan berbaring setengah duduk. Mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Meski fikirannya masih pada Aida. Dan sesekali, perasaan De javu selalu hadir di kepalanya.
Memang rumah itu tak asing. Banyak yang kenangan yang harus Ia ingat, dan yakin akan kembali secara perlahan.
"Sebentar saja, Nur. Aku mohon, sabarlah." pejamnya, menghayalkan wajah sang istri dengan segala pesonanya.
Baru saja akan terpejam mata Sam. Telepon kembali berdering. Ia pun segera mengangkatnya meski dengan begitu lesu. Melihat Mona, tapi Ia tahu jika Mona juga sangat sibuk dengan semua panggilan yang masuk padanya. Hal apa lagi yang di bahas, jika bukan karena mereka mempertanyakan pasal penemuan Rayan.
"Ya, hallo."
"Kau benar-benar menemukannya? Dimana? Kenapa denganku tak bertemu?"
__ADS_1
"Dev, dia selalu berada di dekatmu kala itu. Hanya saja, kau tak menyadarinya."
"Ah, benarkan? Memang jahat takdir ini. Masih saja mengharuskanku menjadi orang yang tak berguna di mata kalian." keluhnya.