
Aida duduk di sofa. Tampaknya sedikit gelisah sembari beberapa kali menatap layar Hpnya. Rayan pun sampai terganggu fokusnya gara-gara sang istri.
"Nur, kenapa?" tanya nya, yang langsung berdiri menghampiri sang istri.
"Mei, Mas. Mei lama banget," jawab Aida, mulai cemas. "Katanya ke kamar mandi, tapi udah sejam ngga nongol juga."
"Hubungi, dong..." bujuk Ray, sembari menyibakkan rambut Aida yang terjatuh kedepan.
"Hpnya sama Aida, Mas." sedihnya.
"Hey, jangan nangis. Ayo kita cari dulu," Ray langsung mengenggam erat tangan sang istri, dan membawanya keluar dari ruangan. Berjalan kesana kemari untuk mencari Mei yang hilang tanpa kabar.
*
"Lain kali jangan nekat. Kan sakit jadinya, kaki mu." ucap Sam yang tengah menggendong Mei di belakangnya.
"Kalau Mei ngga nekat, Kak Sam tamat." celetuknya kesal.
Sam menyunggingkan senyumnya, meski sembab di matanya belum hilang. Namun, ada sedikit perasaan yang membuatnya lega.. Bahwa setidaknya masih ada gadis yang begitu perduli padanya. Ia berjanji dalam hati, bahwa tak akan pernah menyia-nyiakan Mei untuk lain kali.
__ADS_1
"Kalian darimana?" tanya Ray, yang ketika melihat langsung mendatangi keduanya. Disusul Aida, yang semakin tampak cemas menarap Mei lemah dalam gendongan Sam.
"Mei kenapa?" sambung Aida.
"Maaf, aku membuat Mei jatuh. Aku, akan segera mengobatinya." jawab Sam, dengan segala sesal di raut wajahnya.
"Aida nanya, Mei kenapa? Dan kalian darimana?" lanjut Aida, yang mulai kesal dengan Sam. Wajar, karena sejak awal Aida sudah tahu jika Sam adalah dalang dari semuanya.
"Ai, Mei sakit nih. Diobati dulu lah," tegur Mei, menunjukkan kaki dan siku nya yang memar.
Aida menghela nafas, meski wajahnya masih cemberut. Ia meminta Sam membawa Mei ke dalam ruangannya, dan meminta Ray mengambilkan kotak P3K untuk mengobati Mei.
Sam akhirnya jujur, bahwa Ia sempat ingin mengakhiri hidupnya dari atas gedung. Hanya saja, Mei datang dan langsung menggagalkan aksinya itu. Meski, Ia sendiri harus terluka sekian banyak di tubuhnya
"Aku salah, Da. Maaf," sesalnya bertubi-tubi.
"Aida tahu, jika Kak Sam begitu banyak kesalahan. Tapi, bisakah tak memperkeruh keadaan? Jangan menyeret banyak orang, dengan masalah yang Kak Sam buat sendiri." ucap Aida, tanpa ekspresi dari mata dan wajahnya.
"Ai, jangan gitu...." tegur Mei. Apalagi, Ia sudah dengan susah payah menguatkan hati Sam barusan.
__ADS_1
"Ya, aku sadar. Maka dari itu, berjuta maafku untuk kalian." ucap Sam lagi, tampak sedikit bangkit. Ia pun menatap Ray, yang sedari tadi hanya diam dan duduk menyilangkan kedua tangan nya di dada.
"Mei?" panggil Sam, yang berlutut di hadapan Mei dan menatapnya begitu tulus.
"Ya, Kak. Kenapa?"
"Aku, mau mengajakmu menikah. Apa kau mau?" tanya Sam, tampak begitu bersungguh-sungguh.
"Kak Sam, jangan bercanda." tatap Aida, yang masih tampak trauma dengan pria itu.
Sam menghadap Aida. Ia tahu, jika wanita itu masih menyimpan trauma yang begitu dalam padanya. Apalagi, disini Ia lah yang bertanggung jawab atas diri Mei.
"Aku serius, tak ingin bermain-main lagi."
"Jangan jadikan Mei tameng, Kak. Aida tahu, jika Kakak masih..."
"Ai, Kak Sam ngga begitu. Mei yakin, Kak sam benar-benar mau berubah." potong Mei.
"Berubah bisa. Tapi, masa lalunya masih akan terus terkenang, Mei. Aida tahu, bagaimana rasanya menyimpan trauma. Bahkan dengan kata ikhlas saja, Aida masih begitu sakit mengingatnya."
__ADS_1