Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Semua familiar


__ADS_3

"Mei, tutup yuk." ajak Aida.


"Oke," balasnya langsung menghampiri. Mereka menutup warung itu berdua. Hingga selesai dan kembali pulang bersama. Seperti itu terus, hingga tak terasa sudah Satu minggu mereka menjalani kegiatan monoton itu.


Ini malam ke Delapan mereka berpisah. Ya pastinya rasa rindu semakin menggebu. Apalagi, seharusnya mereka adalah pasangan yang sedang hangat-hangatnya saat ini. Sayang harus terpisah jarak dan waktu. Hanya berkomunikasi lewat video call, dan itu hanya Tono yang dapat memulainya.


Hp Aida bergetar, Ia berlari seketika usai mandi sore itu. Sedikit cepat dari jadwal seharusya, tapi tak apa. Ia tetap bahagia.


"Hallo, Mas. Tumben jam segini udah nelpon?" tanya Aida pada sang suami. Tapi, Tono justru bengong ketika melihat pemandangan indah dihadapan nya.


Bagaimana tidak. Aida masih mengenakan handuk yang hanya menutup dada dan bagian atas lututnya. Bayangkan saja, bagaimana perasaan Tono saat ini.


" Hallo, Mas. Kok diem?" tanya Aida.


"Kamu, abis mandi, Nur?" tanya nya, gugup.


"Iya. Aida baru pulang dari warung, langsung mandi. Kenapa?" Aida kini sedang mengganti pakaiannya.


"Apa, kamu tak perduli perasaanku. Ketika aku mendapatimu begini? Sakit, Nur." ucapnya yang tampak gelisah.


"Sakit kenapa? Aida ganti baju, kok Mas yang sakit?" tanya nya polos.

__ADS_1


"Aaargh, entah lah." jawabnya kesal.


Tampak jelas di hadapan Tono, tanpa Ia tutup sedikitpun. Hingga tubuhnya berbalut sebuah pakaian tidur berlengan sejari. Tono/Rayan, mengulurkan tangannya, seolah ingin mendekap Aida dalam pelukannya. Memeluk erat, gemasnya dan tak ingin Ia lepaskan hingga lelah.


"Aaah, sangat... Eeeerrrrgghhh!" gerutunya dalam hati.


"Kamu, saat aku ngga disana, kenapa ngga pernah pakai baju begitu?" tatap nya sinis.


"Heh? Aida baru beli. Ada tetangga nawarin baju tidur, murah loh. Seratusan ribu.


" Murah, gampang dirobek." celetuk Tono.


" Hah, gimana?"


"Serius?"


"Kapan aku pernah main-main? Bahkan aku rela nyemplung ke air laut di tengah segala trauma ku." Tono menyipitkan matanya.


Obrolan berlangsung menyenangkan. Tono menceritakan semua pengobatan yang Ia jalani selama ini. Apalagi, besok adalah hasil dari MRI nya. Dokter akan membacakan dan dapat mengambil tindakan yang lebih baik untuknya.


Tatapan Aida begitu membuat Tono terenyuh. Tatapan penuh dengan rasa rindu yang begitu menggebu. Tapi sayang, harus berakhir dengan segala halangan yang ada.

__ADS_1


"Ray, kok kamarnya di kunci?" panggil Mami Bian.


"Mas, itu?"


"Ya, siapa lagi. Mami Bianca datang. Dan tandanya, obrolan kita harus berakhir. Maaf."


"Ya, Aida ngerti. Yaudah, matiin dulu."


"Okey, selamat sore, sayang." kecup Tono dari Hpnya.


Aida menerimanya dengan ikhlas. Apalagi yang bisa di lakukan dalam hal ini. Ia pun kembali merapikan dirinya dan keluar menghampiri Mei.


*


"Ya, Mam? Ada apa?" tanya Rayan lesu, menghampiri Mami Bian yang semakin hari tampak semakin protektif padanya.


"Kamu, teleponan sama siapa?"


"Ngga ada. Cuma... Sama Mona dan Sam. Membicarakan masalah esok." jawab Rayan.


"Oh, baiklah. Maaf, sayang. Kamu sedang dalam kondisi seperti ini. Mami hanya takut, semua orang akan memanfaatkan kamu, nanti. Memanfaatkan segala lupamu, memanfaatkan segala kepolosanmu yang tak disengaja ini." ucap Mami Bianca, dengan merapikan kerah kemeja anak tirinya itu.

__ADS_1


Jantung Rayan berdegup sedikit kuat. Bukan karena teringat Aida dengan pakaian minim yang begitu menggodanya. Tapi, dengan ucapan itu. Ucapan yang lagi-lagi begitu familiar untuk dirinya.


__ADS_2