Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Jaga diri, Mas.


__ADS_3

"Tono," panggil Pak Habib di sela istirahat makan siang. Kebetulan, Tono juga telah usai dengan kegaitannya, dan langsung menghampiri Pak Habib di ruangan itu.


"Ada apa, Pak?" tanya Tono dengan segala ramahnya.


"Nanti, pimpinan dari pusat datang. Dia akan berkunjung meriksa proyek kita. Kamu, harus memperkenalkan diri padanya. Tuan Sam, Samuel Sutopo. Panjangannya, saya kurang tahu."


"Yang kemarin?"


"Itu Tuan Dev. Davish Suryono. Ah, entahlah. Nama mereka panjang sekali, jadi saya sulit mengingatnya. Tapi, Satu yang paling utama. Yaitu pimpinan besar mereka, Tuan Arayan Bima Hartono. Beliau lah pimpinan dari ketiga pimpinan itu."


"Orang sibuk, pasti sulit ditemui." kagum Tono.


"Ehmmh... Bukan sibuk, tapi... Tapi Beliau hilang. Sampai sekarang belum ditemukan. Padahal semua sudah mencarinya. Sudah Dua bulan."


"Kasihan," ucap Tono, spontan.


"Ya, bahkan belum diketahui. Masih hidup, atau sudah meninggal."


Pembicaraan stop sampai disana. Tono pun tak terlalu mau tahu dengan segala urusan Pimpinannya itu. Yang Ia tahu adalah, Ia harus bekerja keras untuk membahagiakan istrinya. Bila perlu, apa yang Nur nya minta, Ia akan berikan.

__ADS_1


" Ya, sesimple itu pemikiran orang miskin sepertiku. Bekerja, demi istri tercinta. Tinggal nanti, buat anak juga." khayalnya begitu indah.


Tono kembali pada rombongan nya. Ia memang sudah begitu nyaman bersama mereka. Mereka lah, yang dapat menerima Tono seperti apa adanya saat ini.


"Aida ngga anter makan?".


"Bapak baru nanya? Makan siang udah selesai, Pak." balas Tono.


"Bapak baru inget," tawa Pak Nasir, yang memang suka menggoda Tono.


Kerja kembali mereka mulai. Tono masih membantu, meski Ia sudah beda jabatan dengan rekannya itu. Ia bertahan meski di larang. Bagi nya, disana Ia bisa melakukan Dua pekerjaan sekaligus.


"Dengan mengolah nya, aku bisa tahu, bagaimana bahan yang mereka pakai." fikirnya kala itu.


"Ai, ini gimana? Susah," Mei menghampiri dengan laptop dalam pangkuannya.


"Yang mana? Itu kan tinggal isi data. Datanya udah dari aku."


"Tapi ini, kenapa ngga sinkron juga? Udah ku otak atik sampai stres," galaunya.

__ADS_1


Aida akhirnya mengalah, lalu menghampiri Mei untuk membantunya mengerjakan tugas. Tapi, Ia seolah dalam keadaan tak fokus kali ini.


"Kamu kenapa?" tanya Mei.


"Entah. Perasaan, sedikit ngga enak, Mei."


"Jangan di rasa-rasain. Nanti kebeneran. Pamali."


"Perasaan yang sama, ketika sebelum Nenek meninggal Mei. Rasanya sesak, tapi tak tahu apa pasalnya. Ingin menangis, tapi ngga tahu alasannya."


"Ai, udah Ai. Jangan di rasa-rasain. Tutup aja warung nya, yuk? Mei bantu. Kita pulang, terus istirahat."  tawar Mei yang mulai cemas dengan kondisi sahabatnya itu.


"Ngga usah. Tapi, kamu bantu jaga warung, ya? Aku, istirahat disini aja. Mau tunggu Mas Tono pulang." ucap Aida.


Ia pun masuk, menuju sebuah ranjang yang biasa di pakai Tono ketika istirahat. Di sana pun ada bantal Tono, yang langsung Ia peluk dengan erat.


"Jaga diri, Mas." batin Aida. Andai Tono memiliki Hp, pasti Ia akan segera menelponnya. Tapi sayang, Tono tak punya. Hp jadul Nek Mis pun tak pernah Ia pakai, apalagi untuk membeli hp baru untuk nya sendiri.


Kali ini, Aida benar-benar kebingungan hanya untuk mencari kabar Tono.

__ADS_1


Hari pun semakin gelap. Angin kencang mulai datang disertai tetesan air hujan yang deras. Mei menutup warung, tanpa mau membangunkan Aida. Ia tahu, jika sahabatnya itu begitu gelisah sekarang.


"Kasihan, baru tidur. Tunggu Mas nya pulang aja, deh. Biar di bangunin." gumamnya.


__ADS_2