Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Hukum tabur tuai


__ADS_3

Suara helikopter memecah ketegangan. Para tamu yang ada berlarian mencari tempat yang aman dari kibasan angin yang di keluarkannya. Mereka mengintip, siapa yang akan turun dari Heli itu.


"Itu Tono? Pesawatnya punya siapa?" tanya salah seorang dari mereka.


Pintu terbuka, dan Rayan mulai melangkahkan kakinya untuk turun dari Heli nya.


"Mas Tono," panggil Aida lirih. Ingin berlari, namun tangan nya masih di tahan kuat oleh Amrul.


"AI!!" Mei berlari, menghampiri Aida dan merebutnya dari genggaman Amrul. "Bisa-bisanya, kamu!" tatapnya tajam seperti Suzzana.


"Maaaasssss!" Tante Rum pun berlari, menghampiri suaminya. Menggenggam erat tangannya dengan begitu takut. Apalagi, dengan tatapan Amrul padanya.


Rayan berjalan, perlahan tapi pasti menuju sang Istri. Tak perduli, meski angin yang di ciptakan Heli nya begitu kuat.


Ia kini tiba diantara mereka. Diantara para durjana yang selalu saja mengusik ketentraman hidup istrinya. Tatapan nya tajam, pada Amrul, dan pada Tante Rum.


"Mas!" Aida langsung berlari menghampirinya. Rayan pun langsung merentangkan tangan menerima tubuh mungil itu dalam dekapan nya. Sebuah kecupan, tak lupa di berikan untuk Nur nya itu.


"Maaf, Aku terlambat." sesalnya.

__ADS_1


"Lebih baik telat, daripada tak datang." jawab Aida. Rayan langsung menggenggam tangan Aida, dan menariknya agar berlindung di belakangnya.


"Kau mau istriku?" tanya Rayan pada Amrul.


"Aku lebih dulu mengenalnya, daripada kau. Jika kau tak ada, kami sudah menikah dari dulu." balas Amrul. Tampak, wajahnya tegang dan gemetar saat ini.


"Dan kau?" tatap Rayan pada Tante Rum. "Kalau kau punya hutang, kau bayar sendiri. Jangan pakai istriku untuk membayar hutangmu."


"Aku sudah menyekolahkan dia. Jadi wajar, jika aku menagih balas budi darinya."jawab Tante Rum, bersembunyi di balik ketiak sang suami.


"Hukum tabur tuai? Kau seperti nya lupa, jika kau kehilangan sebelah antingmu. Apa kau ingat, dimana?" tanya Rayan dengan santai.


Tante Rum langsung gugup. Wajahnya tertunduk dan tak mampu menjawab apapun lagi.


"Apa ini, Rum? Apa maksudnya?" tanya Om Edo.


"Ng-ngga ada. Dia ngaco. Mentang-mentang kaya, bisa berbuat apa saja." sergahnya.


"Makanya, kalau tahu Mas Tono kaya, jangan main-main. Mampus lah." tukas Mei.

__ADS_1


Mei menghampiri: Aida. Menggenggam tangannya diantara Rayan dan dirinya. Aida berada ditengah, antara takut dan bingung.


"Mei. Ada apa? Katakan." pinta Aida.


Mei angkat bicara. Meminta maaf atas segala telatnya pada Aida. Bahwa, Ia melakukan perintah Rayan melaporkan Tante Rum ke kantor polisi.


"Mas Tono, nemuin anting itu di warung. Dan, Dia minta Mei motret bekas darah di kursi panjang yang ada di teras. Itu darah Nenek. Jadi, Nenek meninggal di warung, bukan di laut." jelas Mei.


"Dan di pantai, Nenek sudah dalam keadaan meninggal. Betul, Tante Rum?" tanya Ray.


"Hey, selesaikan urusan kalian dirumah. Jangan buat keributan di pestaku. Kembalikan......"


Buuggg! Sebuah bogem mendarat di rahang Amrul. Sam mewakili Rayan. Amrul pun langsung menangis meraung karenanya. Tasya, sang istri langsung menghampiri dan menenagkan suaminya.


"Arum!" pekik Om Edo. Amarahnya tak dapat di tahan kali ini.


"Dia bohong, aku ngga ngelakuin itu. Ibu jatuh sendiri." Tante Rum kelepasan.


"Untuk apa kamu kesana? Untuk apa menemui Ibu?"

__ADS_1


"A-aku cari Atm itu." balasnya, dengan suara yang bergetar hebat.


__ADS_2