Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Dunia begitu sempit


__ADS_3

"Ai, kamu?" tatap Mei pada sahabatnya itu. Aida tanpa sadar meneteskan air matanya. Begitu deras, tanpa bisa di cegah lagi kali ini.


"Mei, kenapa dunia sempit banget, Mei? Aku udah berusaha lupa, dan ngga pernah berharap lagi tentang dia. Tapi... Tapi kenapa justru aku dibawa kembali sama dia, Mei?"


"Ai, sabar, Ai. Kita lihat dulu, dan tanya bagaimana sebenarnya." Mei berusaha menenangkan. Ia mengusap bahu Aida, dan sesekali mengusap air matanya yang telah membasahi pipi sahabatnya itu.


"Sabar dulu. Bentar lagi mereka keluar, baru kita tanyain. Okey?"


"Ya, aku sabar." jawab Aida.


Tak lama kemudian, Dev keluar bersama Mamanya. Mama Lia, seorang wanita paruh baya yang tampak begitu cantik dan anggun. Meski tak di pungkiri, jika kondisi nya tampak begitu lemah.


"Mana, Sayang? Mana istri Rayan? Mama penasaran, wanita seperti apa, yang mampu meluluhkan hati pria itu." tanya Mama Lia, dengan begitu antusias.


"Itu Dia," tunjuk Dev pada Aida dan Mei. "Aida, Mei. Ini Mama ku, Mama Lia."


Deggg! Hati Aida berdebar dengan begitu kuat. Sakit, sesak, bahkan membuat pandangan nya terasa remang. Kembali teringat olehnya, kenangan buruk Lima belas tahun lalu itu.

__ADS_1


"Ai, sabar." tepuk Mei di bahunya.


Dev membawa Mama Lia duduk di sofa. Aida dan Mei pun menyusulnya, dan memberikan senyuman yang begitu ramah.


"Dia, tak mengenalku sama sekali?" fikir Aida. Ia bahkan mendekat, dan tanpa segan mencium tangan wanita ramah itu.


"Ya ampun. Ini istri Ray? Cantik sekali. Ramah, sopan, baik tampaknya." puji Mama Lia.


"Baik, Ma. Aida yang merawat Rayan, selama di tempatnya hilang. Sepertinya, takdir memang belum mempertemukan kami, karena masih ingin mengikat keduanya." jawab Dev, berusaha agar tetap ikhlas.


"Perkenalkan, Tante, saya Mei. Saya sahabat Aida." sambung Mei. Mama Lia pun menyambutnya dengan ramah. Apalagi melihat sosok Mei yang ceria, seperti mendiang Fany kala itu.


"Ngga mau, kalau nantinya malah seperti benang kusut, Mei. Biarkan begini dulu, sampai semuanya selesai. Setidaknya, sampai Mas Ray menuntaskan masalahnya."


"Baiklah. Mei nurut maunya Ai aja." jawab Mei, pasrah. Meski, Mama Lia sedikit tercengang mendengar darimana asal mereka datang.


*

__ADS_1


"Ray, mau kemana?" tanya Mami Bian, ketika melihat Ray telah rapi dengan atribut lengkapnya untuk bermotor.


"Hanya ingin pergi, kenapa?"


"Kau ingat motormu?"..


"Itu ada di garasi, bagaimana Ray bisa lupa?" jawab nya santai.


"Ah, baiklah. Jangan terlalu lama dan terlalu jauh, kamu belum sehat betul."


"Yes, Mam, I know. Rayan pamit dulu," ucapnya.


Rayan pun segera keluar dari rumah itu, memakai helm dan semua peralatannya dengan lengkap. Tak lupa, Ia meletakkan Hpnya di bagian depan, untuk tetap melihat layarnya.


"Maaf, aku harus mulai menguntitmu." gumamnya.


Rayan. memanaskan motor besarnya, dan mulai menjalankan nya, seusai dengan titik koordinat yang di tunjukkan. Ia berjalan cukup jauh, melewati pekotaan hingga menuju sebuah perkampungan kecil. Ia pun telah masuk ke perbatasan kampung itu.

__ADS_1


" Aku kembali kemari. Seolah aku kembali mengulang kejadian Lima bulan yang lalu. Tapi, semua tak akan terulang dengan kekacauan yang sama."


__ADS_2