
"Nur, Mei sakit? Kenapa diem aja?"
"Mei begitu kalau naik mobil, Mas. Mabok." jawab Aida dengan senyumnya.
"Astaga, Mei," toleh Ray dengan penuh simpati.
"Katrok," celetuk Mami Bian.
"Maaaam," tegur Ray. Untung saja, mereka tepat tiba di tempat pesta. Hingga perdebatan tak berlanjut lagi diantara mereka.
Sam memarkirkan mobilnya dengan rapi. Semua turun perlahan, dan Ray dengan spontan menggandeng Mei untuk turun dari tempatnya.
"Mei ngga papa?"
"Ngga papa, Mei okey." jawab nya. Aida pun menghampiri dan merapikan rambut Mei yang sedikit berantakan.
"Yuk," ajak Aida. Mei menggeleng, "Ai gandengan sama Mas Ray. Mei dibelakang."
Ketiganya berjalan beriringan. Tidak dengan Mami Bian, yang mendahului jauh disana. Ia segera menuju teman-teman sepermainannya, yang tak lain adalah para sosialita.
"Siapa itu, Jeng? Cantik sekali." tanya dan puji beberapa rekan nya.
"Ehm, Dia... Istri Rayan," jawab Mami Bian, sedikit tertolak antara hati dan ucapan nya.
__ADS_1
"Hah! Kapan nikahnya?"
"Ah, besok lah. Besok kalau mau di pestain, pasti diundang." timpalnya. Mencoba mengalihkan pembicaraan dari segala yang mencecarnya dengan pertanyaan yang sama ber ulang-ulang..
Tak salah, semua tamu yang ada disana memang memperhatikan mereka. Menatap Ray yang akhirnya kembali, tapi menggandeng seorang wanita cantik di sebelahnya. Terkejut, dan takjub.
"Hey, Tuan Ray. Anda sehat?" sapa seorang teman padanya. Dia lah pemilik pesta itu. Tuan Firman.
"Tuan, Maaf sebelumnya. Tapi, Ray masih belum pulih benar. Ingatan nya, masih...."
"Oh, iya, Tuan Sam. Saya mengerti, maaf." Tuan Firman pun akhirnya memperkenalkan diri kembali pada Ray untuk yang kedua kalinya.
Acara kembali berlangsung sesuai dengan susunan. Ray berdiri tegap tanpa pernah melepas Aida di sampingnya. Ia pun dengan gampang, menyesuaikan diri dengan keadaan, meski harus kembali mengajak berkenalan orang-orang disana.
"Ray, kau datang?" sapa Dev, yang tampak sendirian.
"Mas Dev, apa kabar?" tanya Aida, mengulurkan tangan nya.
"Aku baik, Da. Sangar baik," jawab Dev, menatapnya sedikit nanar dan menjabat tangan Aida agak lama. Namun, Ray menarik tangan nya dari sang istri.
"Kau sendirian, Dev?" Ray mengalihkan pembicaraan.
"Ya, Ray. Aku sendirian. Dengan siapa lagi?"
__ADS_1
"Mama Lia? Aku bahkan belum sempat mengunjungi, untuk kembali mengenalnya." timpal Ray, dengan menyeruput minuman di tangan nya.
"Ya, seperti biasa. Dia lebih nyaman tinggal dirumah, dibandingkan harus keluar dengan banyak orang."
"Mas, boleh kah Aida sesekali main kerumah Mas Dev? Aida penasaran, bagaimana Mama Lia." tanya Aida.
"Ya, bermainlah jika membuatmu senang. Ingat, Mei harus selalu ada di dekatmu." jawab Ray.
"Sebuah kehormatan, jika kamu datang kesana. Aku, akan sangat senang, bahkan bisa menyambutmu dengan istimewa," ucap Dev, dengan senyum berlesung pipitnya.
Aida hanya tertawa, membalas semua gurauan yang Dev berikan padanya. Obrolan mereka pun tampak begitu nyambung, dipenuhi ke akraban bagai sudah begitu sering bertemu.
"Nur, aku kesana dulu. Kau disini. Dev, jaga istriku," pinta Ray. Dev hanya mengangguk, dan merasa senang diberi kesempatan untuk mengobrol dengan pujaan hatinya itu.
Dev pergi beberapa lama. Tak kunjung kembali, hingga Aida tampak gelisah.
"Da, kenapa?" tanya Dev, menatapnya cemas.
"Mas Tono. Ehm, maksudnya Mas Rayan. Kemana? Kenapa tak kembali?" tanya nya, gusar.
"Tak apa, Dia tak mungkin pergi jauh, Da."
"Bukan jauhnya, tapi..."
__ADS_1
Byuuuur! Suara seseorang jatuh ke dalam kolam renang. Aida langsung menoleh, dan berlari menuruti nalurinya.
"Mas Tono!" pekik Aida. Ia pun berlari mengangkat kedua sisi gaun nya.