
"Aida, apa masih marah sama Om, Tono?"
"Tono kurang tahu, Om. Tono juga tak tahu akar permasalahan kalian. Om sendiri, yang bisa menafsirkan nya." jawab Tono, yang kini beralih tugas menyetir motor matic itu.
Om Edo tak menjawab lagi. Hanya menepuk bahu Tono dan sesekali mengusap matanya. Tak menangis, hanya sesekali ber air ketika terkena udara yang berdebu.
Tiba di tempat kerja. Tono bertemu dengan Bima dan langsung menyapanya dengan ramah. Sama seperti Tono, Bima pun membalas keramahn itu dengan senyumnya yang manis.
"Gimana, Mas? Enak kerja disini?" tanya Bima.
"Ya, enak sih. Dapet pengalaman dan temen baru. Meski, rasanya tak terbiasa bekerja berat begini."
"Atau, asalnya Mas itu selalu kerja kantoran?" tanya Bima lagi.
"Entahlah. Bahkan sampai sekarang, belum ada tanda saya mengingat sesuatu secara spesifik." jawab Tono.
"Sabar, Mas. Semua perlu proses. Dan pastinya, tak akan secepat di sinertron." tepuk Bima di bahunya. Tono hanya tertawa, sembari menikmati kepala dan telinganya yang berdenging.
__ADS_1
"Bima? Aku... Seperti familiar dengan nama itu. Tapi...."
"Tono, ayo mulai kerja. Nanti akan ada inspeksi dari Pak Dev untuk proyek ini." panggil Om Edo, memotong lamunan Tono.
"Mas Bima, saya tinggal dulu."
"Iya, Mas Tono. Saya juga mau lanjut kerja lagi" balas Bima, dan mereka saling berlambai tangan ketika pergi.
Tono menghampiri Om Edo, lalu mengganti pakaiannya dengan seragam proyeknya. Tak lupa, memakai masker.
"Ngga sesak pakai itu terus?" tanya Om Edo.
"Aida itu anak yang baik. Dia selalu tulus ketika melakukan apapun. Hanya, kadang memang Ia tak mau melakukan sesuatu jika terpaksa." ucap Om Edo, menjelaskan watak keponakan nya itu pada suaminya.
"Kuliah kebidanan karena terpaksa. Dipaksa oleh tantenya dengan berbagai alasan. Untung saja, masih lulus dengan nilai yang baik. Padahal Om kira, dia akan berhenti di tengah jalan karena jengah."
"Lalu, kenapa Nur tak mau kerja di Rumah sakit, Om?"
__ADS_1
"Itulah Aida. Ia tak pernah mau dipaksa. Apalagi, ketika melihat semua kendala yang ada. Tahu lah, bagaimana. Aida memilih menjadi sukarelawan di pantai. Katanya, buat apa kerja terikat, kerja serius jika gajinya main-main. Mending sukarela aja sekalian. Prinsipnya kadang aneh. Tapi Om suka." jelasnya panjang lebar.
Tono mengangguk, dan senang ketika Ia semakin mengetahui akan Nur nya itu. Ia segera pamit, dan melakukan pekerjaannya. Melakukan semua, agar bisa membahagiakan Nur sebagaimana mestinya. Mungkin, rasa kagum telah tumbuh di hati pria itu. Dan tak mungkin, jika akan menjadi cinta di kemudian hari.
*
"Nuuuur! Enuuuuur!" panggil Mei yang datang ke warung Nek Mis. Gaya tengilnya selalu menjadi ciri khas, meski orang sering mengatainya seperti anak kecil.
"Mei, apaan sih manggil Nur. Ngeselin kamu tuh."
"Tapi suka, Nur... Nurrrrrr." ucapnya dengan bibir manyun Lima centi.
"Ku tabok loh kamu. Ikut-ikutan panggil Nur begitu. Aku ngga suka!" sergah Aida pada sahabatnya itu.
"Iya deh, iya. Kamu lagi apa? Sibuk bener?" tanya Mei, pada Aida yang sibuk dengan laptopnya itu.
"Ini akhir bulan, Mei. Aku lagi buat laporan tentang orang hanyut dan meninggal. Biasalah,"
__ADS_1
"Ooooooooh." jawabnya panjang. "Terus, itu. Si anu, eh siapa lagi... Mas Tono. Kamu masukin daftar ngga? Siapa tahu, nanti ketemu keluarganya."
Ucapan itu, seketika membuat Aida diam. Memunculkan ketakutan dalam dirinya. Ada rasa, ketika Ia akan di tinggalkan oleh Tono saat ini.