
"Ma, sudah tidur?" tanya Dev, yang menghampiri sang mama di kamarnya.
"Kenapa?" Mama Lia membuka matanya, dan bertanya dengan nada datar.
Dev berjalan perlahan, duduk di tepi ranjang Mama Lia dan mengusap rambutnya dengan lembut. Begitu sayang Ia, dengan wanita yang sudah mengurusnya lebih dari separuh hidupnya itu. Namun, Mama Lia justru perlahan menyingkirkan lengan itu dari wajahnya.
"Ma?" tatap Dev, nanar. Apalagi, dengan wajah Mama yang tampak tak senang dengan kedatangannya.
"Mama mau istirahat? Baiklah, Dev pergi." ucapnya.
"Kapan kamu kembalikan Aida kerumah Ray?"
"Ma?"
"Mama nanya, Dev. Kamu tahu, Aida itu milik Ray. Jangan kamu tahan dia disini, hanya untuk semua emosimu. Aida tak salah apapun. Bahkan, Ia tak tahu apapun tentang keluarga kita."
"Dev hanya ingin, Mama mendapat pengganti Fany. Dev hanya ingin, Mama sembuh dari sakit yang menyiksa Mama selama ini.".
__ADS_1
"Dia Aida, bukan Fany. Sekeras apa kamu berusaha, Aida tak akan pernah bisa menjadi Fany. Dan tentang perasaanmu... Dia sudah memiliki suami."
Dev hanya bisa menundukkan kepalanya. Yang Ia tahu, adalah ketika Ia berjuang demi kebahagiaan sang Mama. Hanya itu saja. Meski Ia sendiri seolah harus menentang perasaannya sendiri. Ya, Ia begitu menyayangi Aida, tak ada yang lain.
" Mama sayang Aida, dan Mama sayang Mei. Tapi dengan diri mereka sendiri. Terutama Mei, yang persis cerianya seperti Fany. Bahkan wajahnya, mungil seperti adikmu, Dev."
"Mei... Akan menikah dengan Sam, sebentar lagi. Hanya itu yang Dev tahu."
"Dan harusnya, kamu berada diantara mereka untuk membantu semua persiapan. Bukan disini, menahan istri Ray. Kamu merusak kebahagiaan mereka, hanya demi...."
"Ma, sudah lah. Mama hanya cukup, menghargai semua yang Dev berikan. Ini semua untuk Mama. Hanya ingin melihat Mama tersenyum dan bahagia, entah itu karena Fany, Aida, atau Mei."
" Aku bahkan tak melihatmu sedih, ketika kau ku pisahkan dengan Ray. Kau yang terlalu kuat, atau aku yang terlalu meremehkanmu?" batin Dev. Karena memang tak pernah melihat ada kesedihan dimata Aida sejak kepergiannya.
***
Pagi bersambut. Ray telah duduk di ruang makan, bersama Mami Bianca disana. Namun, sang Mami hanya bisa diam mematung tanpa bisa berlakon seperti biasa. Ia tampak begitu tertekan, apalagi ketika Ray mulai menatap nya. Ya, tatapan tajam yang diberikannya kali ini. Bukan tatapan ramah seperti biasa.
__ADS_1
Semua kini hanya bisa menekan dirinya, dalam situasi yang rumit. Ia sudah tak memiliki harga diri disana. Meski para pelayan masih hormat, itu semata karena Ia adalah istri mendiang Papi Rayan. Dan untuk semua status kehormatannya, semua sudah hilang.
"Pagi, Mas." sapa Mei, memecah senyap yang ada.
"Hey," sapa Ray padanya, begitu ramah menghilangkan arogansi yang ada.
"Hari ini, Ibu Mei datang. Insyaallah sore,"
"Sendiri?"
"Ya, dengan siapa lagi? Toh, Mei juga udah ngga punya wali. Nanti, nikahnya pakai wali hakim."
"Andai aku bisa menikahkanmu, pasti bahagia..." harap Ray, seketika membuat Mei begitu terharu dengan apa yang Ia dengar.
"Aaaah, Mas Tono... Mei terharu. Nanti, Mei tanya ke pakarnya. Kalau bisa, Mei mau banget." harapnya kuat.
Mami Bian hanya diam memainkan makananya. Kesal, marah, apalagi dengan sebutan Tono yang berkali-kali Mei lontarkan. Yang selalu bisa membuatnya geram dengan segala amarahnya.
__ADS_1
" Tumben?" fikir Mei yang merasakan kejanggalan itu.