
Aida seolah meragu. Ia makin banyak mempertimbangkan sesuatu saat ini. Menatap Tono yang Ia tahu memang hidup dalam segala trauma besarnya. Dan semua misteri tentang kematian sang Nenek.
"Mas?"
"Ya, Nur?"
"Aida keluar dulu. Mas istirahat aja di dalem."
"Iya, nanti aku keluar." jawab Tono.
Aida menemui semua tamunya. Ada juga Mang Usman disana, yang melayani para tamu dengan baik.
"Mang, bisa bicara sebentar?"
"Iya, Da. Ada apa?" tanya Mang Usman, yang lalu menghampirinya.
Mereka duduk, sedikit menyudut di bagian belakang ruangan.
"Bagaimana kondisi Nenek, ketika di temukan?" tanya Aida.
"Sudah lemah. Tapi, Mamang ngga tahu bagaimana persisnya. Tono membawanya dan menggendong langsung ke angkot. Mamang ikut dibelakang."
"Oh, iya, Mang."
"Ada apa, Da? Ada sesuatu?" tanya Mang Usman.
__ADS_1
Aida kemudian menceritakan semua ucapan orang-orang itu. Ucapan yang membuatnya meragu akan kebenaran yang diberikan Tono padanya. Mang Usman hanya diam, lalu menghela nafasnya dengan panjang, lalu menghembuskannya dengan lega.
" Da... Kamu lebih tahu Tono. Kalau menurut Mamang yang ngga ngerti apa-apa, tindakan Tono itu sudah benar. Bukan membela. Tapi, jika Tono nekat dalam keadaan begitu, yang ada malah mereka terkapar berdua disana."
"Maksud Mamang?"
"Ya, Mamang lihat, Tono sudah sangat pucat saat itu. Tono, sudah seperti orang yang kehabisan darah. Tapi, Dia masih tetep berusaha lari cari bantuan. Coba Aida fikir. Jika Tono ngga bisa ambil sikap benar, pasti Tono juga ikut pingsan disana."
"Iya, Mang. Maaf, Aida sudah curiga." sesalnya. Aida hanya menundukkan kepalanya, dengan semua rasa gundah yang ada.
*
Malam telah tiba. Dirumah itu sudah begitu banyak orang berkumpul untuk mengadakan pengajian. Tono pun ikut, meski wajahnya memang tampak pucat.
"Iya, kuat. Cuma duduk, kan?"
"Iya," angguk Aida.
Acara itu pun berlangsung tenang. Meski, masih belum juga tampak Om Edo disana. Bahkan, Aida pun menunggu hingga tengah malam di ruang tamu, dan duduk beralaskan tikar itu.
"Nur?"
"Ya, Mas?"
Tono menghampiri, dengan menggenggam amplop ditangannya. Ia pun memberikan amplop itu pada Aida. Yang seharusnya moment bahagia, tapi justru dengan moment yang seperti ini.
__ADS_1
"Ini?"
"Gaji pertamaku, Nur. Kita sepakat, akan ganti mas kawin ke Tante Rum, kan?"
"Iya, Mas. Terimakasih." jawab Aida, menggenggam erat amplop itu.
"Tadinya, aku fikir uang itu masih bisa menyelamatkan Nenek. Meski, aku harus kembali mendapat cibiran dari Tante Rum."
"Memang sudah janji nya Nenek, Mas."
"Iya," jawab Tono.
"Aku terus berusaha mencari uang, untuk menggantikan semua yang kamu berikan. Tapi, ketika aku punya uang, bahkan untuk menyelamatkan nenek saja aku tak bisa. Dan baru aku sadar. Aku tak berhutang uang sama kamu. Tapi, aku berhutang nyawa, Nur. Tak sebanding seluruh uang yang ku berikan, karena kamu telah memberi nyawa untukku."
Nur kembali menangis. Ia spontan memeluk Tono yang duduk disampingnya. Dan Tono, dengan hati yang berdebar begitu kuat, mengusap rambut Aida agar sedikit menenangkan hatinya.
"Haish.... Ssssssttt! Bisa-bisa nya mereka. Dalam keadaan begini, tapi begitu." cebik Mei, yang muncul dari ruang belakang. Dan akhirnya, Ia mundur lagi perlahan untuk memberikan ruang pada keduanya.
"Tidur, yuk." ajak Tono padanya.
"Aida, tidur kamar Nenek, ya? Mau beresin semuanya."
"Baiklah. Aku tidur duluan. Nanti, kalau ada apa-apa panggil saja."
"Iya, Mas." angguk Aida lagi, lalu melepas pelukan pada suaminya itu.
__ADS_1