Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Petunjuk itu berjalan mundur


__ADS_3

"Sayang, minumlah. Agar kau tenang. Apa, perlu Mami temani kamu malam ini?" tawar Mami Bianca, yang masih larut dalam kecemasan nya.


"No. Ray bisa sendiri, malam ini. Biar Sam disini." tolak Rayan. "Mami, kembali saja kekamar."


Mami Bian hanya bisa mengangguk pasrah. Ia meninggalkan Rayan dan Sam berdua dikamarnya.


"Aku harus bagaimana? Aku tahu, kau menginginkan dia. Tapi, di saat ini jangan dulu. Kau harus tenang dalam semua keadaan. Jika ada dia, justru akan membuatmu terancam."


Sam merasa bersalah. Ia hanya ingin Ray fokus pada kesembuhannya. Tapi nyatanya, memang Ia tak bisa jauh dari Aida. Ia merasa salah langkah kali ini.


"Aku masih sering mendapat mimpi buruk. Kejadian seperti berjalan mundur dari yang seharusnya terjadi." ucap Rayan. Dan biasanya, Aida lah yang selalu dapat menenangkan hatinya.


"Besok, kita periksa lagi. Aku akan menemanimu, malam ini." ucap Sam. Ia membawa Ray tidur, lalu membersihkan pecahan gelas itu.


***


"Ai, Mei duluan, ya? Mei ada pertemuan pagi ini."

__ADS_1


"Iya, Mei. Aku bareng Mang Usman aja." balas Aida, yang masih berada di kamar mandi.


Mei pun pergi, tak lupa menutup pintunya. Aida keluar setelahnya dan langsung mengganti pakaiannya. Meski uangnya banyak, Ia tak ingin hanya di rumah. Ia ingin tetap di warung, agar selalu dapat ingat akan Neneknya.


"Males sarapan. Bawa bekel aja deh." ucapnya. Ia keluar kembali dan menyiapkan makanannya. Kembali terkenang Tono, ketika Ia membawakan bekal di tempat kerja nya kala itu.


"Kalau Aida tahu, Mas. Aida akan sering bawain bekal." sesalnya.


Semua telah siap. Ia pun pergi setelah mencari Mang Usman di pangkalannya. Naik angkot sendiri, dan membuka warungnya sendiri.


"Da..." Tante Rum mendadak datang dan mengagetkan nya.


"Kamu ikut Tante, sekarang." Tante Rum langsung menggandeg tangan Aida, dan menyeretnya pergi dari warungnya.


"Hey, ada apa ini? Ada mau apa lagi, Tante panggil Aida?"


"Tante butuh kamu. Cuma kamu yang bisa tolong Tante."

__ADS_1


"Jangan paksa Aida! Lepasin." tolaknya. Berkali-kali berusaha melepas cengkraman wanita gemuk itu.


Aida sudah terlepas. Ia berlari sekuat tenaga menghindari Tante Rum. Tapi, wanita itu terus mengejarnya. Ia seolah tak ingin, melepaskan Aida sedikitpun.


"Mas, Mei. Tolong!" batin nya. Bingung akan pergi kemana kali ini. Ia meraih Hp, tapi fokus nya hilang setelah itu. Ia pun terjatuh, dan Tante Rum akhirnya dapat menangkapnya. Tapi, ada Amrul kali ini.


Amrul dengan kasar, meraih Hp Aida dan melemparnya ke pantai.


" Hey, Hp ku!"


"Aida, sayang. Nanti akan Amrul belikan Hp, yang lebih bagus dari itu. Tapi, syaratnya, kita menikah dulu." tawanya menyeringai.


"Gila, kamu, Rul! Aku sudah menikah! Ngga bisa begini, lepasin!" berontak Aida sekuat tenaga.


Amrul justru menarik rambut dan mendongak kak kepala Aida, agar dapat menghadap wajahnya dengan intens.


"Kalian nikah siri. Ngga pernah ketemuan lagi, tandanya cerai. Udah lah, jangan berharap terlalu banyak. Kamu itu buat Amrul, bukan buat yang lain." bangganya.

__ADS_1


Tante Rum mengikat lengan Aida. Lalu Amrul membawanya kerumah. Rumah yang Juragan belikan, untuk anak semata wayangnya itu. Aida di kurung di sebuah kamar, dengan bibir yang di lakban.


"Mas, tolongin Aida. Aida mau dipaksa nikah sama Amrul." tangisnya, terdengat hingga keluar ruangan


__ADS_2