
"Nur, ngga beli baju juga?" tanya Tono yang sudah menenteng beberapa tas pakaian barunya.
"Engga, pakaian Aida masih banyak. Mas aja." jawabnya singkat.
Mereka berjalan keluar, dan Aida spontan berhenti di sebuah toko emas. Ia melihat, cincin peninggalan Ibunya terpajang di etalase depan. Biar bagaimanapun, itu adalah satu-satunya yang Ia tinggalkan sebelum Ia pergi.
" Kenapa, Nur? Ada yang kamu mau?"
"Ah, engga. Cuma sekilas lihat aja. Yuk, pulang," gandeng Aida pada suaminya. Perjalanan keluar tak begitu lama, hanya beberapa menit dari tempat mereka berdiri.
Sebenarnya Tono lapar, tapi tak enak jika harus minta makan lagi dengan uang Aida. Hingga, Ia menahannya sampai tiba di rumah. Nenek menyambut dengan segala menu makan yang tergelar di meja makan. Begitu nikmat, membuat Tono menelan salivanya dengan kuat.
"Eh, mandi dulu, kotor." tegur Aida.
"Dikit aja, Nur. Laper banget." rengek Tono, memegangi perutnya.
"Mas abis dari proyek, abis dari pasar pula. Mandi dulu, pokoknya."
__ADS_1
"Iya," tunduk Tono pada sang Istri. Ia pun segera meraih handuk, dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Jangan galak sama suami."
"Ngga galak, cuma mengingatkan. Kan, memang kotor, Nek. Daripada nanti malah sakit perut, besok ngga bisa kerja."
Nek Mis hanya menggeleng kan kepalanya. Tapi senang, ketika Aida diam-diam mengambilkan makanan untuk Tono, dan membawanya ke kamar. Aida masuk, meletakkan piring di diatas lemari kaca nya dan duduk melipat segala pakaian Tono yang baru.
"Mau di cuci dulu, apa mau langsung dipakai?" gumam Aida, yang melepas lebel nya satu persatu. Hingga menemukan sebuah segititiga bermuda milik Tono dan membentangnya.
"Oh, ini? Segini ukuranya?" Aida mengangguk anggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Eng, engga, anu. Ini mau nanya, mau dicuci dulu apa gimana?" tanya nya gugup.
"Satu aja langsung di pakai. Udah seminggu lebih. Ngga pakai itu. Rasanya dingin." jawab Tono begitu polos.
"Hah, dingin? Apanya?" bengong Aida, dengan fikiran melayang entah kemana. Tono menghampiri, mengulurkan tangan meminta segitiga itu pada sang istri. Tapi, Aida masih tampak bengong menggenggamnya.
__ADS_1
"Nur, mana? Ini udah dingin, Nur."
"Hah, apa, Mas? Apa sih yang dingin?"
"Nur, ngga usah main-main, ah." tegur Tono, lalu merebut benda itu dan memakainya.
Aida kembali melotot, tapi entah arahnya kemana. Sedangkan Tono dengan santainya mengganti pakaian di depan Aida. Entahlah, gadis itu sedang memikirkan apa sekarang.
"Masa ngga tahu, Nur. Itu yang kedinginan apa? Harusnya bisa mencerna, kamu lagi pegang apa. Jadi larinya kemana. Bukannya, kamu lulusan bidan? Harusnya khatam dengan benda itu."
"Benda... Itu?" Aida kembali berfikir. Entah, otak nya serasa lemot sekali saat ini. Hingga Ia menyadari akan sesuatu.. "Astaga! Aaaarrrghhh!" teriaknya, lalu keluar terbirit birit meninggalkan Tono yang ada di kamarnya.
"Ngapa lagi? Aneh lama-lama." gerutu Tono, yang tengah menyisir rapi rambut nya.
Aida berlari menuju ruang makan. Ia mengambil segelas air. Meninumnya dengan cepat dan tandas. Lalu menghela nafas beberapa kali mengatasi ke gugupan nya.
" Aida kenapa?" tanya Sang Nenek.
__ADS_1
" Eng, ngga papa, Nek. Aida baik-baik saja. Aman." senyumnya, menyembunyikan segala racun di dalam fikirannya yang kotor itu.
"Mesuum," ledek Tono, yang akhirnya membawa keluar makanannya itu.