
"Hey, kalian! Bermesraan dirumah seperti ini. Tak sopan," tegur Mami Bianca, yang lari menghampiri keduanya.
"Ngga sopan kalau diluar, ini rumah sendiri. Weekkk," Aida menjulurkan lidahnya.
"Kamu, makin lama makin ngga sopan. Iiisssh!"
"Udah, Mam. Mau olahraga juga?" tanya Ray, tampak tenang melerai keduanya.
"Ya, Mami tiap hari libur, pasti olahraga. Sama kamu, kan?"
"Entah, Ray tak ingat." jawabnya singkat.
"Udah ah, Aida capek." keluh Aida, melepaskan diri dari suaminya.
"Aku yang olahraga, kamu yang capek."
"Au ah," Aida berdiri, lalu pergi meninggalkan Rayan yang masih berbaring disana.
Ray meneruskan olahraganya. Kali ini, barbel yang Ia pegang. Tatapan nya sesekali pada Mami Bian. Ia berusaha mengasah kembali, semua kenangan bersama Mami tirinya itu.
"Baik, dan memang sangat menyayangiku. Tapi... Semua terasa ganjal. Apalagi, dengan perhatian yang Ia berikan." fikir Ray.
Terngiang kembali, pada kenangan awal mereka bisa bersama. Ketika Mami Bian yang menjadi wali, dalam setiap acara sekolah ataupun kampus yang Ray jalani.
" Kenapa, sayang? Ada yang mau ditanyakan?" toleh Mami Bian padanya.
" Papa, kenapa meninggal?"
__ADS_1
"Kecelakaan. Mobilnya tertabrak oleh truk. Mami sedang menghadiri kelulusan mu saat itu." jawab Mami.
Rayan kembali merenung, untuk mengasah memorinya.
"Ya, Mami jujur. Aku ingat," batin Ray. Beberapa pertanyaan juga Ia ajukan, dan Mami Bianca menjawabnya dengan spontan dan jujur.
"Sejak meninggalnya Papi. Terjadi sebuah kericuhan di perusahaan. Kamu, Dev, dan Sam. Menjadi alternatif untuk menggantikan posisi Papi. Sam jadi Asisten kamu, dan Dev menjadi manager disana."
"Kenapa, seperti ada perbedaan pandangan, antara Dev dan Sam?" Ray kembali mengulik lebih lanjut.
"Sam penurut, sedangkan Dev terlalu banyak bicara. Kamu tahu, terkadang orang yang banyak bicara, itu banyak musuhnya. Terkadang, lebih baik diam dan pura-pura tidak tahu, itu membuat kita aman."
Ray hanya diam lagi. Kembali mencerna lagi dengan apa yang Ia dapat pagi ini. Menyaring dan mengumpulkan data, yang Ia perlukan untuk kembali mengorek permasalahan yang sebenarnya.
*
" Diajak olahraga. Tapi nenek lampir gangguin, kesel aku."
"Lah, udah tau di gangguin, malah di tinggal pergi."
"Eh, iya. Aku lupa. Tapi.... Ah, udah ah. Kesel aku." Aida memutar badan. Tapi, langkah nya terhenti ketika Seseorang masuk dan menghampirinya.
"Aida, kamu?" tatap Dev, sedikit intens.
"Maaf, Aida baru olahraga." wajah Aida memerah, apalagi dengan pakaian olahraganya yang minim.
Dev pun tersenyum, lalu membuka jas dan memakai kan nya pada Aida.
__ADS_1
"Untung dirumah. Lain kali, jangan." ucap Dev..
"Iya, maaf." angguk Aida.
"Kau datang, Dev?" sapa Ray keluar dari tempat olahraganya.
"Ya... Bukan kah, aku meminta ku datang? Atau, Kau memintaku membawa Aida bertemu Mama? Ah, aku lupa?" canda Dev. Dibalas senyum datar Ray.
"Ya, aku akan mempersiapkan Nur, untuk kau bawa."
"Mas, gimana?" Aida memicingkan matanya. Ray menggandengnya, dan segera mengajak Aida naik ke kamar mereka.
"Mas, kok nyuruh Aida ikut?"
"Bukan nya, mau ketemu Mama Lia?"
"Iya, tapi maunya Mas ikut. Aida ngga mau sendiri."
"Nur sama Mei. Ngga sendiri." jawab Ray, melepas jas Dev yang melekat di tubuh Aida. Ia pun mendorong tubuh Aida, berjalan bersama menuju kamar mandi.
"Mau ngapain?"
"Mandi lah? Mandi sama-sama." gelitik Ray di bahu Aida.
"Aaaaaa, ngga mau. Bohong kalau cuma mau mandi sama-sama. Pasti ada maunya."
"Maunya cuma Satu. Ayo," dorong Ray lagi. Aida menahan tangan nya di pintu, tapi Ray justru mengangkat tubuh mungil Aida. Terasa begitu ringan.
__ADS_1