
"Ton, makan siang, Ton."
"Iya, Pak. Bentar lagi." jawab Tono, yang duduk termenung menatap pintu Rumah sakit itu.
"Kamu nungguin apa?"
"Katanya, Nur mau antar makanan. Tapi ngga janji sih."
"Terus, gimana? Jadi ngga? Bentar lagi jam makan siang abis. Telat makan bisa sakit kamu."
"Katanya, tunggu sampai Lima belas menit, Pak." harap Tono pada sang istri. Andai Ia memiliki Handphone, pasti Ia akan lebih mudah menghubungi Aida dan bertanya. Tapi, fokusnya adalah pada cincin saat ini.
Tono terus menggenggam jam tangan milik salah seorang temannya. Seolah tengah berpacu dengan waktu, setiap detik Ia hitung sembari terus menantikan Aida datang untuknya.
"Tinggal beberapa menit. Kalau ngga makan, nanti ngga bisa kerja." fikirnya. Ia pun membalik badan meski sedikit berat. Melepas harapan tertingginya kala itu, padahal Ia sangat ingin merasakan kiriman makan dari Aida.
"Mas Tonooooo!" bunyi melengking suara Mei, disertai suara klakson yang dibunyikan dengan begitu panjang. Memekakkan telinga semua orang disana.
"Apa-apaan sih, Mei!" tegur Aida, dengan menepuk bahu sahabatnya itu.
"Sengaja, biar semua orang lihat. Biar tahu, kalau Aida itu udah punya suami."
"Lah kan emang tahu." jawab Aida, yang kemudian berlari dengan makanannya.
__ADS_1
Tono mengulurkan senyumnya. Nyaris terharu dengan datangnya sang istri yang menepati janji. Ia melangkah agar lebih dekat menyambut dan menerima makanan dari Nur-nya itu.
"Maaf, lama. Tadi Aida bantuin Nenek sebentar. Ngga telat 'kan?" tanya Aida.
"Nyaris, Da. Udah mau nangis dia tadi." ledek Pak Nasir, di sahut dengan teman-temannya yang lain. Bahkan, dengan puas mentertawakan mereka berdua.
"Apa sih, Pak." tegur Aida dengan lirikan tajamnya. Sontak, semua terdiam dan tertunduk melanjutkan suapan ditangannya.
"Masih mau ngeledek Aida?"
"Engga," jawab mereka kompak.
Tono hanya diam, dan terus menatap kotak bekalnya dengan penuh haru. Andai bukan makanan, mungkin Ia akan menyimpannya di lemari kaca sebagai koleksi benda kesayangan.
"Iya," balas Tono, dengan mengulurkan tangan untuk Aida cium.
"Cieeee," sorak sorai semua yang disana. Air muka Tono langsung memerah seperti tomat yang tarlanjur matang.
"Udah, Aida pamit."
"Oh, iya. Hati-hati istriku." ucap Tono dengan manis.
" Udah Ton, udah. Ayo cepetan makan, bila perlu bagi-lauknya." tegur Pak Nasir. Tono pun menoleh, lalu menghampiri mereka untuk kembali makan siang bersama.
__ADS_1
"Rupanya, begini rasanya dikirim makanan sama istri." ucap Tono.
"Gimana, seneng?"
"Ya seneng lah, Pak. Kan kata Bapak, kami pengantin baru. Pacaran aja engga, tiba-tiba disuruh nikah. Saya aja, ngga kenal diri sendiri." jawab Tono.
"Tapi, meski begitu kamu harus selalu bersyukur, Tono. Aida menerima kamu dengan tulus."
"Iya, Pak. Sangat sangat bersyukur." jawab Tono, dengan menggigit sepotong paha Ayam kiriman Nur padanya.
***
Nek mis duduk manis di warungnya. Hari memang sepi, karena bukan hari libur atau pun week end. Orang belanja pun, hanya beberapa dari orang yang memang tinggal di sekitar sana.
" Buk, Ibuk..." panggil seorang wanita. Nek Mis tahu benar itu siapa, dan akhirnya keluar menemuinya.
"Rum, ada apa? Tumben sekali kamu kemari."
"Ibu pegan ATM yang di tinggal kan Ayah Aida? Mana?" pintanya mengulurkan tangan.
"ATM Apa? Ibu ngga tahu kalau Ayah Aida ninggalin ATM."
"Bohong kalau ngga tahu. Aida selalu titipin apapun sama Ibu. Apalagi ATM dengan jumlah banyak itu. Kasih ke Rum. Dia harus ganti biaya yang Rum keluarkan untuk dia kuliah."
__ADS_1
"Rum! Astaga, sebegitunya kamu perhitungan sama keponakan sendiri."