
Aida masih menunggu Tono. Tetapi tak dengan diam, melainkan sembari menutup warung sedikit demi sedikit.
"Da...." Amrul datang mengejutkannya.
"Eh, kamu ngapain kesini?" kaget Aida, yang langsung masam menatap wajah pria itu.
"Da, aku mau minta maaf. Aku juga. Aku... Aku tuh cinta sama kamu, Da. Kamu ngga boleh sama orang lain!"
"Apa hak kamu bilang begitu?" sergah Aida padanya. "Rul. Aku itu udah nikah stop gangguin aku. Cari cewek lain, Rul. Capek aku dikejar gini."
"Aida nikah sama Tono, jgara-gara terpaksa. Itu pun, karena kepergok. Kalau engga, pasti Aida belum nikah. Aida ngga cinta sama dia." Amrul terus menghalangi langkah Aida, yang sedari tadi berusaha menghindarinya.
"Tahu apa tentang cinta?" tanya Aida dengan berkacak pinggang ke hadpaannya.
"Kamu katanya ngga cinta sama aku, dan kamu rela kabur. Sama, kamu ngga cinta sama dia. Tapi kamu udah terlanjur nikah. Pasti... Pasti kalian belum melakukan apapun. Iya kan?"
"Amrul!! Asraghfirullah, bener-bener nih anak." Aida tampak begitu kesal, hingga mengelus dadanya menahan sabar.
Rasanya ingin mengamuk dan marah. Tapi kala itu Ia sendirian, dan pasti akan kalah tenaga dengan pria itu. Aida sengaja mengulur waktu, berharap suami dan sahabatnya akan segera tiba dan membelanya.
__ADS_1
"Nah, itu suamiku. Mau apa kamu?" tunjuk Aida, ketika Tono dan Mei datang.
Tono langsung turun, menghampiri Aida dan berdiri didekatnya. Nyali Amrul tampak menciut, ketika Ia sadar, rupanya Tono lebih tinggi dan tubuhnya begitu kekar di banding dia.
"Ada apa ini? Kenapa kamu ganggu istri saya?" tanya Tono, dengan tatapan ganasnya.
"K-k-Kalian menikah terpaksa. Pasti ngga saling cinta. Pernikahan juga ngga sah. Kalian ngga mesra, pasti juga belum melakukan apapun." tunjuk Amrul, yang semakin membabi buta dengan segala argumen konyolnya.
"Hah? Apa-apaan kamu, mencampuri itu. Mesra atau tidak, hanya kami yang rasa. Dan juga....."
Plukk! Tiba-tiba Aida mendekap tubuh Tono dengan erat. Ia pun menyandarkan kepala dengan manja, tepat di dada Tono.
"Kami mesra. Kamu aja yang ngga pernah lihat. Nih, mesra kan?" ucap Aida, meski masih tampak canggung.
"Bohong!" Amrul semakin semprul.
"Mas, cium Aida." bisiknya pelan.
"Hah?" Tono masih tampak bengong.
__ADS_1
"Iiiih, cium. Kening, pipi, apalah."
"Ah, iya, iya..." angguk Tono, lalu mengecup dahi Aida dengan mesra. Terasa getaran-getaran di dada Tono, yang terasa sakit jika terlalu Ia rasakan. Tapi, Ia memilih untuk menahan itu semua.
"Tuh, mesra kan?" tukas Aida, yang semakin menggelendot mesra pada suaminya itu. Dan lagi, Ia meraih lengan Tono untuk merangkulnya.
"Aaaakhhh!" Amrul memegangi dadanya. Wajahnya pucat seketika, dan Ia pun tampak lunglai. "Jahat kamu, Da." ucapnya, dengan air mata berderai.
Amrul tampak terhuyung, seolah akan amburk. Tapi, Mei dengan cepat berlari menangkap dan memapahnya.
"Oeeey, Rul. Jangan pingsan. Bapakmu ngga ada." pekik Mei yang tampak cemas.
Amrul tampak sesak nafas, dan nafas nya mengap-mengap. Mei ingin meminta bantuan kedua sejoli itu. Tapi, rasanya begitu sayang ketika mereka harus melepas pelukan dan kemesraan itu.
" Ai, biar aku yang menderita, asal kau bahagia." batin Mei, yang lalu mengambil Hp untuk menelpon bala bantuan.
"Nur, aku kok seneng, kamu peluk." ucap Tono.
"Eh, kok lanjut?" kaget Nur-nya, yang seketika melepas pelukan itu, dan wajahnya memerah seperti kepiting yang baru saja di rebus.
__ADS_1