
Warung telah dibuka. Aida dan Mei membereskan semuanya. Memasak air panas untuk pesanan kopi dan Mie instean cup yang biasa di pesan para pengunjung pantai itu. Ketika semua siap, barulah Aida dan Mei duduk santai di kursi luar.
"Mana laporanmu? Sini, ku bantu kerjain." pinta Aida.
"Orang ngga ku bawa kok. Kan udah dibilang, aku libur hari ini."
"Kalau libur terus, kapan bisa nya, Mae?"
"Besok kan bisa," gerutunya dengan bibir manyun.
Aida hanya kembali menggelengkan kepalanya. Saat seperti ini, dalam lamunannya. Terbayang kembali akan semua kejadian yang pantai itu berikan padanya. Kematian Ayah, Nenek, dan disana lah Ia menemukan cintanya.
" Mei, ada jual Hp second ngga?"
"Buat?"
"Buat Mas Tono. Pengen cariin dia Hp, tapi yang agak bagusan."
"Oh, nanti aku cariin. Kayaknya ada sih, sesuai lah sama Mas Tono. Setidaknya, ngga jadul jadul amat." ledek Mei dengan menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
Obrolan terhenti, ketika pantai mulai ramai. Liburan anak-anak sekolah pasalnya. Mereka bahkan berkelompok menaiki bus bersama agar dapat liburan satu kelas dan berenang bersama. Disana lah, tuga Mei berlipat ganda. Apalagi, Aida sudah pensiun dari tugasnya.
"Pak, tolong awasin siswanya masing-masing, ya? Kami hanya beberapa, sedangkan kalian puluhan. Kami ngga bisa mengawasi dengan maksimal." Mei memberi pengarahan pada mereka.
Aida duduk santai, tersenyum melihat kesibukan Mei saat ini. Dan hatinya, masih saja merasa sedikit aneh yang entah kenapa.
**
Pertemuan di mulai. Semua orang sudah diruang rapat. Kecuali Tono yang mendadak harus mengecek barang sejenak.
Senyum, sapa dan ramah tamah menghiasi pertemuan itu. Pak Habib pun dengan bangga mencertikan mengenai proyek mereka yang berjalan dengan baik. Terutama, dengan adanya Tono diantara mereka.
"Hah, kenapa belum?" tanya Sam.
"Tono itu, pria yang ditemukan Aida di pantai. Tergeletak dan lupa ingatan. Jadi, kami sulit juga untuk memberi data, jika Ia harus dapat posisi yang tinggi. Bahkan, Ia yang membenarkan denah gambar milik Pak Edo tempo hari." jelas nya.
"Sebegitu hebatkah? Saya penasaran, orangnya seperti apa." balas Sam, tanpa rasa curiga sama sekali.
"Sebentar lagi Ia kemari. Ada barang dan bahan yang harus Ia periksa."
__ADS_1
"Baiklah," timpal Sam, lalu meminum kopi yang staf sediakan untuknya.
Obrolan berlangsung santai, mengenai semua yang memang harus mereka bahas. Hingga sebuah langkah kaki terdengar masuk, dengan langkah yang cepat. Langkah itu tepat menuju ruang rapat, dan masuk dengan sedikit tergesa-gesa.
"Maaf, Pak. Saya telat. Perkenalkan, saya, Tono." sapa nya dengan begitu ramah.
"Perkenalkan saya....." ucapan terhenti. Sam menegapkan kan kepalanya sedikit dan mengamati wajah yang tepat ada di depan matanya itu.
Seketika matanya menatap nanar. Genggaman tangan pun langsung Ia lepas demi dapat menyentuh wajahnya. Tono hanya diam, menatap nya heran sembari sesekali melirik Pak Habib yang mengedikkan bahu padanya.
"Maaf, Pak?" ucap Tono.
"Kenapa kamu begini? Kenapa kamu disini, tapi Dev tak dapat menemukanmu. Kau tahu? Kau tahu kami mencarimu setengah Mati! Bahkan aku. Aku yang bahkan sudah hampir menyerah, Ray." ucap Rayan, yang bahkan spontan menitikan air matanya.
"Ray? Siapa?" tanya Tono.
"Ray, Rayan. Kau Rayan. Kau sepupuku, Arrayan Bima Hartono. Aku yakin, kau Rayan kami."
Semua mata terbelalak kaget. Menatap Rayan yang selama ini berada diantara mereka sebagai Tono.
__ADS_1