
"Besok libur, kita cari cincin, yuk?" ajak Tono, sembari mencuci piring bekas mereka makan.
"Mas Tono ngga mau beli yang lain? Hp, atau yang lain, gitu?"
"Ngga ada, Nur. Fokusku dari dulu adalah kamu. Membayar semua jasa yang kamu berikan padaku. Bahkan, kalau perlu nyawa bayar nyawa." jawabnya santai.
Aida lalu menoleh dan menatapnya. "Aida ngga perlu balasan apapun, Mas. Aida itu ikhlas nolongin. Nenek juga ikhlas bantuin."
"Ya gimana? Aku bahkan belum menjadi suami yang baik buat kamu. Jalan yang paling gampang, adalah tanggung jawabku memenuhi semua kebutuhanmu. Dengan Nenek, andai masih ada."
Itu kejujuran Tono. Dan Aida tahu, Tono memang suka spontan dengan ucapan dan perilakunya. Aida termenung sejenak, lalu melangkah memeluk tubuh Tono dari belakang. Ia bahkan menenggelamkan wajahnya di punggung Tono. Tak terdengar, tapi Tono sendiri tahu istrinya tengah terisak disana.
"Nangis, Nur?" panggilnya, dan Aida mengangguk tanpa suara.
"Udah, ngga usah nangis. Itu kan tanggung jawabku sebagai suami."
"Iya, Mas. Kamu sudah menjadi suami yang baik. Hanya aku... Aku yang belum menjadi istri baik untukmu." batin Aida, dalam isaknya.
Tono hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala. Bahkan, hingga pekerjaan selesai pun, Aida tak juga melepas pelukan itu darinya. Tono justru tetap diam, dan menikmati pelukan hangat itu tanpa mau menegurnya. Entah berapa lama, tapi itu menyenangkan.
"Nur?"
"Hmmm?"
__ADS_1
"Ngga pegel?" tanya Tono, yang akhirnya bicara.
Aida mengangkat wajahnya. Ia melirik jam dinding dan menghitung waktu yang telah berlalu. Terkejut, karena sudah Satu jam Ia memeluk suami nya itu.
"Wuaduh," melototnya, lalu mendongak kan kepala pada Tono yang menoleh padanya. Aida pun perlahan menarik tangan dan melepasnya. Tapi, Tono menahannya disana.
"Lepaas," rengek Aida.
"Nyaman begini,"
"Capek,"
"Tadi engga?"
"Ngga sadarnya bikin seneng, Nur."
"Ish, apaan sih?" Aida melepas paksa pelukan itu, dan Tono menatapnya cemberut.
"Udah jangan ngambek. Jalan yuk?"
"Ke?"
"Itu, pesta Amrul. Besok acara inti, jadi malam ini acara khusus Bapak-bapak. Disana kan banyak orang. Pak Nasir, Pak Habib, Mang Usman."
__ADS_1
"Ya, aku ikut." balas Tono.
Aida pergi ke kamar Nek Mis. Ia mencarikan sebuah baju batik, lagi-lagi bekas Ayahnya. Tapi, semua masih bagus dan begitu rapi tersusun disana. Hanya tinggal diberi parfum, agar lebih segar.
"Ini, pakai." ucap Aida. Tono memakainya, semakin rapi dan semakin tampak gagah. Andai couple dari batik itu masih ada, pasti mereka akan semakin tampak serasi dimata semua orang yan memandangnya.
Mereka bersama dengan motor nya. Tak terlalu jauh dari rumah itu, dan segera sampai. Banyak yang menyambut mereka dengan senyum, tak jarang menyambutnya dengan celotehan anehnya. Terlebih lagi, dengan Tante Rum yang dendamnya semakin menjadi-jadi.
"Datang juga." Tante Rum mendatangi Aida dan Tono.
"Kenapa, gitu? Ada masalah?"
"Ya, harusnya kamu kan masih berkabung. Sempetnya ke pesta. Itu juga, ngga ada rasa bersalah sama sekali? Hah, Tono?"
"Bersalah apa, Tante?" tanya Tono.
"Kalau kamu cepet gerak, kali aja Ibu masih hidup, kan? Semu orang bilang begitu. Kamu, memang ngga bisa diandalkan."
"Tante, saya....."
"Stop, Tante Rum! Ngga bisa berhenti? Udah Aida bilang, stop urusin Aida dan keluarga. Selama ini ngga perduli, kenapa tiba-tiba sok perduli. Ada apa?" tatap Aida dengan curiga.
Tante Rum mulai tampak cemas. Apalagi, tatapan Aida memang tajam dan begitu menakutnya kali ini. Alisnya naik turun, mengharap sebuah jawaban terlontar dari mulut yang terbiasa pedas itu.
__ADS_1
" Kenapa diem? Ada sesuatu?"