Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Masa lalu Aida


__ADS_3

Tono belum sempat menanyakan apapun. Ia masih sibuk berbelanja bersama Mei. Lumayan banyak, sesuai daftar yang diberi Nek Mis padanya.


"Ini, bagaimana bawa nya, Mei?"


"Aman lah, nanti kita minta Mang Usman bawa."


"Mang Usman?"


"Ya, supir angkot. Beliau yang turun tangan gendong Mas Tono ke Rumah sakit. Lupa?"


"Bukan lupa, tapi ngga tahu. Ingetnya, cuma Nur." jawabnya malu-malu. Mei hanya menggelengkan kepalanya, karena Ia tak sempat lagi berbicara saat ini. Dan menyambung obrolan, ketika semua selesai.


"Pak, ini diambil Mang Usman." ucap Mei, pada pemilik toko. Ia kemudian mencolek lengan Tono, dan mengajaknya pindah ketempat lain. Dan Mei, berhenti di sebuah kedai es cendol karena kehausan.


"Mei?"


"Ya, Mas Tono?"

__ADS_1


"Harga cincin emas, berapa?"


"Ehm, tergantung besar dan berat. Kenapa?"


"Mau beliin cincin buat Nur."


"Cieeee, ah. Mulai rasa-rasa nih ye...." ledek Mei.


"Sebenarnya, ingin mengganti cincin Tante dulu. Yang kemarin buat mas kawin."


"Ah, Iya. Mei lupa. Terus, ada lagi. Cincin Aida dijual, buat ngobatin Mas Tono waktu itu. Ooops! Keceplosan." seketika Mei membungkam mulutnya.


"Ehmm... Iya, Mas. Mei jual cincin Aida. Itu  ditoko sana." tunjuk Mei. Kebetulan, toko tempat Aida berhenti waktu itu.


"Yang itu? Pantas, dia berhenti menatapnya." ucap Tono. "Apa, ada sesuatu dengan benda itu?"


Mei mengangguk. Ia melahap cendolnya dengan cepat hingga tandas. Mengusap mulutnya yang basah dengan kerah baju, dan menghela nafasnya dengan panjang. Lalu menghembuskan nya dengan kuat, untuk kembali bercerita.

__ADS_1


Mei menceritakan masa kecil Aida yang pelik. Ketika Ia ditinggal Ibunya ketika baru berusia Sepuluh tahun.. Padahal, kala itu Ayahnya pun tengaj berjuang untuk masa depan mereka dikota.


"Jadi, cincin itu peninggalan Ibunya. Satu-satunya yang ditinggalkan. Asalnya, ya cincin kawin Ibu dan Ayahnya yang dilempar di tanah. Aida pungut."


"Kenapa masih Ia simpan? Bukankan, itu menyakitkan?"


"Menyakitkan. Tapi, bagi seorang Aida, masih bersar harapan bertemu dengan ibunya. Tapi, lama banget. Jalan belum juga ada. Putus asa deh. Pas, butuh duit buat Mas berobat." jelasnya panjang lebar.


Mata Tono kembali nanar mendengar cerita itu. Ia beruntung, ditemukan oleh seorang wanita yang tepat. Mengurusnya dengan baik, meski sedikit galak dan judes. Menerima sesuatu yang terjadi diantara mereka, meski kadang masih suka berprasangka buruk pada Tono. Tapi, itu semua Ia maklumi.


"Nur, memang baik."


"Banget, Mas. Tapi kadang suka dimanfaatin orang. Tuh, nenek lampir salah satunya. Ada aja." gerutu Mei.


Sebenarnya masih banyak pertanyaan di dalam kepala Tono. Tapi, hari sudah mulai gelap. Ia harus mengantar Mei kembali ke warung. Lebih tepatnya, Mei yang mengantarnya kembali pada Aida.


Mereka mengendarai motor dengan terus bercerita. Menceritakan tentang masa kecil Mei dan Aida yang nakal tapi menggemaskan.

__ADS_1


"Sering, lupa waktu kalau dipantai. Taunya pas pulang, Nenek udah nyegat pakai tongkat rotan. Berlarian kami biar ngga kena pukul." tawa Mei, ketika bercerita. Begitu pula Tono yang mendengarnya. Antara tertawa, dan kasihan.


"Tapi biar begitu, nenek sayang. Sayang banget sama Aida dan Mei. Terutama Aida, yang memang cucu kesayangannya. Aida penurut, ngga seperti Tiara, anak Om edo. Nakal banget dia. Suka kena marah nenek." ceritanya panjang lebar.


__ADS_2