Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Honey moon. "End"


__ADS_3

"Ray ngga akan melarang Mami pergi. Tapi, Ray ngga akan biarin Mami pulang kerumah Oma. Jangan..." larangnya, dengan mengusap air mata itu.


"Ray?"


"Kita punya Rumah sakit. Ada, dikampung Nur berasal. Ray yang menjadi kuli disana. Ingat, tangan Ray pun pernah kasar dan Mami mengamuk hanya karena itu."


"Ya," senyum sang Mami, dengan segala kekonyolan dari masa lalunya.


"Ray antar Mami kesana. Mami urus semuanya, dengan pengawasan Ray disini."


"Tapi...."


"Oma?" Ray mengerti ketakutan sang Mami pada mama nya disana. "Andai dia mencari sampai kesini, itu akan jadi urusan kami."


Mami Bianca akhirnya dapat tersenyum. Apalagi melihat ketulusan yang mereka berikan padanya. Sebuah ketulusan yang sempat Ia sia-siakan hanya demi sebuah kata tanggung jawab.


"Sam, Mei. Persiapkan keberangkatan kami."


"Kemana?" tanya Mei, masih bingung.


"Pulang kampung, Mei. Kami mau antar Mami. Sekalian, kami mau bulan madu disana. Rindu dengan suasananya yang hangat." jawab Ray, memeluk Aida dan memainkan hidungnya disana.

__ADS_1


"Loh, kami yang baru menikah, kenapa kalian yang bulan madu?" sergah Mei, merasa di langkahi untuk yang kesekian kalinya.


"Masssss!" tatapnya pada sang suami. Yang masih duduk dengan santai, meluncur dengan Hp dan segala jadwal untuk Ray dan Aida.


"Biarin, sayang... Nanti kita bulan mandu sendiri. Tapi, tunggu mereka pulang." ucap Sam, dengan begitu tenang.


"Aaarrrkh! Ini semua rasanya tak adil. Kenapa?" Mei mulai, dengan segala tingkah lebay nya.


"Mama! Mama Lia ikut mereka kah?" tanya nya, pada Mama Lia yang diam dengan senyum hangatnya.


"Engga, Mama ngga ikut. Kasihan Kakak bujang kalian. Ngga punya temen," jawab Mama Lia.


Mei menarik nafas, mengelus dadanya dengan lega. Merasa, setidaknya masih ada teman untuknya. Karena sepeninggal Rayan, pasti Sam dan Dev akan begitu sibuk menggantikannya.


Dengan semua yang serba terburu-buru, Aida dan suaminya pergi bersama Mami Bianca. Menuju kampung kecil penuh kenangan akan kisah keduanya. Genggaman tangan tak lepas, Aida pun terus bersandar pada Ray selama perjalanan yang mereka tempuh. Seakan mereka lupa, ada Mami Bian diantara keduanya.


"Ya, lanjutkan. Aku akan memejamkan mataku, menikmati segala kebebasan yang akan ku raih. Aku janji, akan memanfaat kan kesempatan yang kalian berikan dengan baik," ucapnya dalam hati, sembari memejamkan matanya menikmati perjalanan yang ada.


Setengah jam perjalanan udara, ditambah Satu jam perjalanan darat. Mereka telah sampai di kampung Aida. Dengan jemputan pak supir, dan mengantar kan Mami Bian ke rumah besar mereka di dekat Rumah sakit.


"Kalian, ngga disini bareng Mami?"

__ADS_1


"Engga... Kami pulang kerumah kami sendiri. Kami rindu kesana." jawab Ray, dengan tatapan tajam nya pada sang istri. Dapat cepat diartikan oleh sang Mami.


"It's okey. Segeralah pergi. Daripada nanti Mami larang," usirnya dengan gurauan.


Ray dan Aida pun pergi, diantar supir mereka. Pulang ke rumah kecil sederhana itu. Rumah peninggalan sang Nenek.


"Untung rumahnya bersih," ucap Aida, dengan meletak kan tasnya di kursi.


"Kenapa?"


"Capek lah. Perjalanan jauh begitu. Mau tidur ah," ucap Aida, melangkahkan kaki ke kamarnya. Namun, Ray meraih tangan itu dan menariknya. Membuat Aida tepat jatuh ke dalam peluk hangatnya.


Tak hangat lagi sepertinya, tapi panas.


"Kenapa?" tatap Aida, tampak gugup.


"Kau tanya kenapa? Hey, kita sudah beberapa hari berpisah. Bahkan, semalam kau tinggalkan aku, untuk tidur bersama Mama mu."


"La-lalu?"


"Kau bisa istirahat, setelah aku bermain dengan anak kembar kita," tawa Ray, terdengar begitu kejam ditelinga Aida.

__ADS_1


"Iiish," cebiknya. Ia pun mengalungkan lengan, dan melingkarkan kedua kakinya di pinggang Rayan. Memulai untuk melepas segala rasa rindu yang terpendam lama.


~End~


__ADS_2