
Pagi ditemani sarapan yang begitu nikmat. Motor pun telah di lap dan di panaskan. Hanya tinggal pergi setelah semuanya siap.
"Nanti, jadi bawain bekal?"
"Ngga janji tapi. Aida ada kerjaan."
"Gimana? Nanti aku udah makan siang, kamu dateng. Ditunggu-tunggu, kamu ngga dateng."
"Iya nanti. Pokoknya, kalau lebih dari Lima belas menit di jam makan siang, makan aja dulu. Tandanya Aida ngga datang. Okey?"
Tono memasang wajah lesu. Sedih dengan ketidakpastian yang di berikan sang istri padanya.
"Udah, ngga usah kayak anak kecil. Malu sama umur."
"Memangnya, umurku berapa?"
"Mungkin, Dua enam. Atau, diatasnya."
"Haish, umur saja tak ingat." keluh Tono.
Ia memundurkan kursi, berdiri dan beranjak dari sana. Aida mengikuti untuk melepasnya pergi. Memang hanya berdua, kerena Nek Mis sudah pergi pagi-pagi sekali untuk membereskan warungnya. Jelas, Ia menarik Mei untuk membantunya menyusun barang baru.
__ADS_1
"Hati-hati kerjanya. Jaga keselamatan. Jangan makan sembarangan."
"Iya, ngga sembarangan kalau kamu yang antar."
"Iya, di usahain. Ih! Itu helmnya dipakai. Nanti ada Razia, identitasnya ngga ada."
"Iya, Nur." kesal Tono, yang pagi-pagi sudah mendapat ceramah dari istrinya itu. "Galak sih, tapi.... Ah, udah lah."
Tono mengengkol motornya, lalu pergi setelah Aida mencium tangannya. Aida pun kembali kebelakang, untuk membereskan rumah itu. Mencuci, dan semuanya. Meski agak canggung, ketika harus mencuci segitiga bermuda milik suaminya.
" Tuhan. Aku memang belum siap. Tapi, ini harus. Sebagai baktiku terhadap suami. Meski, kami belum menjadi suami istri seutuhnya." lebay nya, dengan segala tumpukan pakaian kotor yang ada.
Memang pernah terbesit dalam kepala Aida, mengenai Tono. Karena biar bagaimana pun, selupa apapun akan dirinya, Tono adalah pria dewasa yang tentunya memiliki hasrat. Apalagi, mereka selalu berdua.
Tono tiba di tempatnya kerja. Beberapa rekan langsung menyambutnya ramah. Mereka melihat motor, yaitu motor yang familiar bagi mereka sejak dulu.
" Motor almarhum, kan?".
" Iya, Pak. Nenek suruh pakai, daripada nganggur katanya. Lagian, ngga enak sama Om Edo, kalau harus nebeng terus."
"Ngga enak sama istrinya, kan?" tambah salah seorang disana.
__ADS_1
"Eeehhh, iya..." angguk Tono, dengan menggaruk kepalanya.
"Dahlah, kami tahu dan sudah khatam." rangkul mereka pada Tono. Pekerjaan pun di mulai seperti biasa. Bertambah semangat, karena hari ini adalah hari dimana Ia mendapat gaji pertamanya.
**
"Nek, nanti Mei ikut Ai ke pusat. Nenek bisa sendiri?"
"Bisa. Nanti tunggu Tono aja tutupnya. Dia pulang ngga terlalu sore."
"Okelah." jawab Mei. Tak lama, Aida pun datang membawa rantang makanannya...
"Cieee, yang mau anter mamam siang buat Ayank. Uhuuuk!"
"Ngga usah ngeledek, Mei. Yuk, anter sekalian kita ke kantor pusat. Udah ditungguin datanya." ajak Aida pada sahabatnya itu.
Mereka berdua pun pergi setelah pamit dengan Nek Mis. Rasanya, entah kenapa tak tega meninggalkannya sendirian hari ini. Padahal, memang sudah terbiasa sendiri ketika Aida tinggal dirumah Om Edo.
"Kalau ada apa-apa, hubungi Aida, ya? Hp kan ada. Lumayan, ada pulsanya buat nelpon." pamit Aida.
"kamu, kok seperti cemas begitu. Nenek ngga papa loh, Nur." ucapnya.
__ADS_1
Entah kenapa juga, Aida tak mengomel dengan panggilan itu kali ini.