Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Apakah ini rindu?


__ADS_3

Malam semakin larut. Tono belum juga dapat tidur dengan nyenyak. Bayangan akan laut, bayangan akan Nek Mis selalu menghantuinya. Terbayang-bayang kembali ketika terombang ambing dalam lautan yang gelap itu. Dingin, dan sesak.


"Aaaakkhh, sakit!" lirihnaya, memegangi kepala dengan posisi menungging di ranjangnya.


Rasanya ingin sekali berteriak. Tapi, Ia takut mengganggu Nurnya yang pasti juga sangat lelah disana. Ia pun berusaha mencari obatnya sendiri, dengan langkah tertatih dan meraba-raba karena pandangannya semakin remang.


"Aaaish, yang mana obatnya?" carinya ke dalam laci, tempat dimana Aida mengambilkan obatnya.


"Ini," ambilnya pada sebungkus obat. Ia hafal, karena setiap minum itu, sakit nya akan sembuh meski sementara. Dan untungnya, Aida selalu menyediakan air didalam kamarnya


"Aaah, lega rasanya." senyum Tono, yang kembali berbaring dengan ringan di ranjangnya. Ia mengambil bantal guling, yang biasa dipeluk oleh Aida ketika tidur..


"Apakah, ini rasanya rindu? Hhhh, padahal hanya berjarak beberapa meter saja. Dan meski dekat, Ia pun selalu galak padaku." gumamnya. Ia kembali memejamkan mata, berusaha kembali tidur meski harus dengan bantuan obat.


***


"Mass! Mas bangun, Mas. Udah siang nih."


Aida datang, dan langsung membuka jendela kamar mereka. Tono menggeliatkan tubuhnya dan perlahan membuka mata.


"Nur, ini hari libur, Nur."


"Iya, tapi katanya mau ajak Aida beli cincin?"

__ADS_1


"Iya, tapi ke pasar kan bisa bentar lagi. Aku masih ngantuk," Tono merebahkan dirinya kembali. Dan Aida, menatapnya dengan mata menyipit dan berkacak pinggang dengan garang.


"Satu.... Dua...."


"Iya, Iya. Aku bangun. Puas? Puas berbuat seperti itu pada suamimu?" tukas Tono. "Tapi, setidaknya kamu telah kembali pada senyum mu, Nur."


"Apa senyum-senyum," tegur Aida pada sang suami.


"Engga, ngga papa. Emang salah, senyum sama istri? Belum minta yang lain."


"Apa? Jangan macem-macem, ya?"


"Engga. Cuma satu macem." ledek Tono, dengan menjulurkan lidahnya.


Buuug! Akhirnya menabrak Mei.


"Mas Tono! Lari-larian udah kayak bocah." omelnya.


"Mei, kamu nginep?" kaget Tono, pada sosok itu.


"Iya. Nemenin Aida. Katanya kasihan Mas Tono, butuh istirahat. Jadi Mei temenin semaleman. Ngga bisa tidur, curhat mulu." celotehnya.


"Eh, dia curhat apa?" tanya Tono, menggenggam lengan Mei dan mengajak nya duduk. Tapi, suara nyaring itu kembali memekakkan telinga.

__ADS_1


"Apa mau Aida hitung lagi, Mas? Disuruh mandi malah duduk lagi!" teriaknya dari dalam.


"Kumat," gerutu Mei.


"Udah, biarin. Daripada mendung terus." ucap Tono. Ia pun kembali berjalan kembali sesuai tujuannya semula.


Aida masih di kamarnya. Ia mempersiapkan pakaian Tono untuk mereka pakai bersama. Sedangkan Mei, mempersiapkan sarapan untuk keduanya. Bukan tanpa alasan Mei disana. Karena beberapa waktu sebelum meninggal, Nenek meminta agar Mei tinggal bersama Aida.


"Nur, motorku masih di warung."


"Pakai motor Mei aja. Biar cepet dan ngga usah bolak balik. Aida, lagi males kesana."


"Iya," Tono kembali mengangguk, pada setiap perkataan istrinya.


"Suami takut istri."


"Mei," tegur pasangan itu dengan kompak.


"Aku kadang ingin menolak, ketika Nenek minta aku disini. Tapi, apa boleh buat. Aku harus kuat hati." keluh Mei, bagai anak kecil yang gagal mendapatkan peremennya.


Aida hanya menatapnya dengan kesal. Tapi Tono tahu, jika Nur nya itu masih dalam duka yang mendalam.


" Kau pandai memainkan peranmu, Nur."

__ADS_1


__ADS_2