
Setelah kejadian di cafe itu Tika kini sedang kalut di kantor.
Hari ini weekend jadi Dino berada di rumah.
Mereka kini sedang menonton televisi di ruang tengah.
"Breaking news."
Di televisi sedang menayangkan kebangkrutan perusahaan Tika.
Diana yang tentunya terkejut melihat berita itu.
"Mas." Panggil Diana pada Dino yang tersenyum ke arah televisi.
Diana menatap menyelidik kepada Dino.
"Kenapa kamu menatap ku seperti itu sayang ?." Tanya Dino.
"Apa ini yang kamu maksud kemarin." Ujar Diana.
Dino tidak menjawab dia hanya tersenyum saja ke arah Diana dan memeluk diana.
"Mas, apa kamu tidak kasihan dengan nya ?." Tanya Diana.
"Untuk apa kasihan dia juga hendak menamparmu kemarin, aku tidak terima istri cantik ku ini nanti kesakitan." Goda Diana.
"Issh mas," gumam Diana.
Diana pun tersenyum dengan langkah yang Dino ambil.
Sekarang mereka hanya bersantai di rumah dan menikmati waktu weekend nya karena Dino sangat sibuk akhir akhir ini.
Diana bangun dari duduk nya dan malah duduk di pangkuan Dino.
Sekarang mereka sedang atas balkon kamar nya.
Dengan berpangkuan di paha Dino Diana mengelus ngelus kepalanya di dada Diana.
Dino memeluk Diana dengan erat supaya Diana tidak terjatuh.
"Sayang." Panggil Diana.
"Kenapa ?." Tanya Dino sedikit menunduk melihat Diana.
Diana mendongak dan melihat mata Dino.
Hari ini Diana ingin bermanja dengannya.
"Sayang kamu ingin anak berapa ?." Tanya Diana tiba tiba.
Dino mengerutkan keningnya, karena Diana sudah menanyakan soal anak beberapa kali selama mereka menikah.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu sayang ?." Tanya balik Dino.
"Tidak aku ingin tahu saja." Jawab Diana.
"Berapa pun yang kamu mau sayang." Jawab Dino.
"Kok gitu sih jawab nya." Ujar Diana kesal karena Dino sibuk dengan ponselnya.
"Harus gimana sayang." Ujar Dino lagi.
__ADS_1
"Mas kalo ngomong itu tatap mata aku bukan malah main ponsel." Gerutu Diana kesal.
Dino heran dengan sikap Diana, yang awal nya bersikap manja kini Diana terlihat sangat kesal.
"Kamu kenapa sayang?." Tanya Dino.
"Tahu ahk." Ketus Diana langsung bangun dari pangkuan Dino.
Diana lantas masuk ke dalam kamar dan masuk kedalam selimut.
Diana membaringkan tubuhnya dengan membelakangi Dino.
Dino menghampiri Diana yang menutup seluruh tubuhnya.
"Sayang, jangan seperti ini." Ujar Dino menarik selimut Diana.
"Kamu akan kehabisan nafas sayang." Dino masih berusaha menarik selimut Diana.
Jadi lah tarik menarik selimut dan sekali hentakan Dino menariknya.
Dino melihat Diana yang sudah menangis.
"Sayang, kamu kenapa menangis." Ujar Dino khawatir.
"Hei, maaf kan aku." Ucap Dino lagi.
Diana tidak menjawab dia hanya diam di pelukan Dino, Dino mengelus punggung Diana dan sesekali mengecup puncak kepalanya.
Dino merasakan nafas teratur Diana dan merasa Diana sudah tertidur.
Dino membaringkan Diana perlahan, dan Dino ikut membaringkan tubuh nya di samping Diana.
Sedangkan di tempat Tika.
Tika tengah iring uringan dengan kejadian secepat ini.
"Aaahhhhhhk." Teriak tika
"Pasti ini gara gara wanita sialan itu." Gumam Tika.
"Ya pasti ini karena wanita itu yang sudah menghasut Dino untuk menghancurkan ku dengan perusahaan ku." Ujar Tika.
"Tunggu saja pembalasan ku." Ujar Tika dengan sorot tajam.
Tika tidak berfikir bahwa apa yang dia rencanakan malah semakin membuat nya sengsara.
Dengan kejadian kemarin Tika tidak belajar apa akibat nya mengganggu anak dari sang penguasa dan istri dari seorang Dino Alexander.
Hingga malam menjelang.
Dino dan Diana sedang mengunjungi rumah orang tua Diana.
Diana yang tadi marah kepada Dino sekarang seakan melupakan kejadian itu.
Diana mengajak Dino untuk mengunjungi papa dan mama nya.
Sudah lama semenjak menikah Diana tidak pulang ke rumah yang sejak kecil Diana tinggali.
Diana berbincang dengan mama nya dan Dino dan papah Tino berada di ruang kerja karena ada beberapa hal yang mereka bicarakan.
"Sayang apa kamu sudah ada tanda tanda ?" Tanya mama Santi yang sedari tadi mengobrol kini mengalihkan pembicaraan yang lebih sedikit serius.
__ADS_1
"Tanda tanda apa ma ?." Balik tanya Diana mengerutkan keningnya.
"Apa kamu belum hamil." Ujar mama Santi sedikit ragu takutnya menyinggung perasaan Diana.
Diana pun tersenyum mengerti mendengar perkataan mama nya.
Namun detik berikutnya Diana pun kembali mengingat kapan dia terakhir datang bulan.
Tiba tiba mata Diana membulatkan matanya terkejut.
"Kamu kenapa sayang ?." Tanya mama Santi.
"Ma, aku udah telat 1 bulan lebih." Sentak Diana.
Mama Santi sedikit terkejut karena Diana berbicara sedikit keras.
"Ssst tidak usah berteriak." Tegur mama Santi.
Diana langsung menutup mulutnya menggunakan tangan.
Mama Santi kembali berbicara pada Diana.
"Besok kamu ke apotik beli tespeck, supaya kamu tahu apa hasilnya." Ujar mama Santi semangat.
Diana hanya mengangguk.
"Ma, jangan dulu kasih tahu mas Dino takutnya mas Dino terlalu berharap dan nanti kecewa dengan hasilnya." Ujar Diana terlihat ragu.
"Emm, baiklah." Jawab mama Santi mengerti.
"Kabarin mama setelah kamu sudah tahu hasilnya." Ujar mama Santi lagi.
Diana kembali mengangguk.
Perasaan Diana terasa campur aduk, antara senang dan takut.
Senang apabila benar dirinya hamil, dan takut bila dia mengecewakan Dino.
Pernikahan nya sudah menginjak 6 bulan namun Diana belum hamil.
Mungkin itu bukan masalah besar bagi mereka berdua, namun kedua orang tua Dino sudah mengharapkan cucu dari Dino, karena Dino anak satu satunya.
Terima kasih buat semua yang masih baca ya.
Bisa koreksi bila ada kesalahan kata maupun tanda baca, namun dengan kata atau kalimat yang tepat ya, tanpa menjatuhkan mental author ya.
Aku akan menerima kritikan dengan bahasa yang sopan dan tepat.
Mohon maaf sekali lagi bila masih banyak kekurangan nya, disini aku masih belajar, dan untuk mengisi waktu luang mengurus bayi.๐๐
Dan jangan lupa untuk
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH NYA JUGA JANGAN LUPA YA๐๐
TERIMA KASIH
__ADS_1