
X internasional school mengadakan kompetisi pemain basket untuk di ikut sertakan ke juaranya antar sekolah.
Kapten basket saat ini ada Gio, cowok populer di sekolah yang terkenal cool dan sangat introvert, banyak cewek yang mencoba mendekatinya tapi tidak bisa sedikitpun mendapatkan respon contohnya Ryana kapten cheerleaders.
Ryana adalah anak seorang Diplomat, dia tidak hanya pintar tapi juga populer di sekolah.
"Gio ... kenapa sih kamu gak mau nerima cinta aku??" tanya Ryana.
"Aku mau fokus ke pendidikan aku dulu, dan aku gak mau pacaran!!" tegas Gio.
Ryana kesal dengan ucapan Gio, sebenarnya Gio telah jatuh hati pada Luna, hampir setiap kali Gio melewati kelas Luna jantungnya di buat deg-degan, tapi Gio tidak berani mengutarakan perasaannya atau mencoba mendekati Luna, dia kira Lucio adalah kekasih Luna.
Hanya melihat dan memperhatikan Luna dari jauh itulah yang di lakukan Gio, sampai pada satu waktu membuat kisah cinta dalam diam itu di mulai.
Siang itu di tempat yang sama Luna dan Gio bersama, yaitu Aula tempat di mana Audisi pencarian pemain basket, sekolah mengelompokkan regu putra dan putri.
Luna mengikuti daftar pencarian bakat itu dengan formulir yang ia dapatkan dari ketua OSIS.
"Siapa nama kamu??" tanya panitia yang bernama Alfin tersebut.
"Nama saya Luna Mahiya Fajero, anak X 1A," ucapnya memperkenalkan diri.
Luna yang berdiri terpaku melihat Gio yang bermata sipit dan bertubuh atletis itu membuatnya tak berhenti memandangi Gio.
"Oke ... kamu akan di Tes oleh Gio,Gio coba kamu tes Luna!!" titahnya.
Gio pun mulai menantang Luna di lapangan Aula tersebut, ternyata Luna tak selemah yang dia kira , Luna sangat panda dalam mempermainkan bola basket itu.
"Gila!! keren banget nih cewek," batin Gio.
"Bagaimana?? apa saya di terima sebagai anggota??" tanya Luna.
Gio mengangukinya tanpa sepatah katapun yang terucap dari bibirnya, Gio hanya melihat Luna yang nampak terlihat letih lalu ia memberikan segelas orange juss.
"Nih .. buat kamu," ucap Gio memberikan sebotol orange juss.
"Thank you ..." balas Luna.
"Kamu cewek tapi hebat ya, permainan kamu," puji Gio.
__ADS_1
"Kakak bisa aja," balas Luna.
"Beneran aku gak bohong, kamu layak untuk di pertahankan, aku suka!" ujarnya.
"Suka??" Luna merasa bingung.
"Maksudnya suka sama permainan kamu, bukan suka sama kamu," tegas Gio dengan wajah dingin nan datar.
"Oke ... " ucap Luna sambil menggelengkan kepala, " Aku permisi dulu ya kak, sekali lagi terimakasih untuk minumannya," imbuhnya.
Luna berjalan meninggalkan Gio, Gio masih memperhatikan Luna tanpa memalingkan wajahnya melihat langkah demi langkah Luna.
Sebelum Luna membuka pintu aula dia sempat terhenti karena ia merasa ada yang melihatnya dan memperhatikannya lalu ia menoleh ternya ta Gio masih terpaku di ujung sana.
Pov Luna
"Aku merasa ada sesuatu yang melihatku dari jauh, aku mencoba untuk berhenti dan memalingkan tubuhku ternyata aku melihat dia masih berdiri menatapku dengan tatapan yang tidak biasa."
Pov Gio
"Aku melihatnya melihat kepergiannya langkah demi langkahnya, seakan mata ini tak ingin melepaskan pandangan itu ... dia terhenti entah apa yang menghentikannya, aku merasa dia mengetahui jika aku memandanginya, dia memalingkan tubuhnya dan melihatku, jantungku seakan berdetak kencang."
Bell istirahat pun berbunyi semua siswa dan siswi menuju Plant lantai 2 tempat khusus semacam kantin.
"Boleh saya duduk di sini??" tanya Luna.
"Duduk-duduk aja gak usah ijin sama saya, saya bukan pemilik sekolah ini, lagian sama-sama bayar mahal juga kan??" jawab Gio datar.
Ada beberapa grombol mata melihat yaitu Geng Ryana,
"Ry ... liat deh anak baru itu coba-coba dekatin Gio," kata Dea.
"Beraninya dia deketin Gio gak tahu apa siapa kita??" ujar Belinda.
"Sialan, aku yang deketin Gio dari kelas tujuh aja gagal terus dia cepet banget merebut hati Gio," umpat Ryana kesal.
"Kayaknya perlu di beri pelajaran yang tak terlupakan sepanjang sejarah hidupnya nih cewek," ucap Dea.
"Setuju!!" seru Belinda dan Ryana.
__ADS_1
Di meja Luna dan Gio tidak banyak bicara, mereka menikmati makanan tersebut dengan lahapnya.
"Oh ... ya kak, boleh tahu siapa namanya??" tanya Luna.
"Gio, kalau kamu??" tanya Gio balik.
"Aku Luna kak!!" balas Luna.
Merekapun mengobrol seputar dunia basket mulai dari pemain basket terkenal dan favorid, dan lain sebagainya.
"Aku dulu waktu SLTP pernah ikutan main basket, cuma ekskul aja dan pernah jadi juara 1," ucap Luna.
"Pantes kamu pinter mainnya," ucap Gio
"Ah ... engak juga kak cuma hobby aja!!" jelasnya.
"Kamu jangan merendah, kamu bagus tahu, kalau kamu lolos jadi team basket putri kamu pasti akan membawa kebanggan tersendiri buat sekolah kita," ucap Gio.
Lucio melihat kedekatan Luna dan Gio seakan merasakan ada yang menghimpit dadanya nafasnya seakan sesak bagaikan di hantam benda keras.
"Apakah aku cemburu??" batin Lucio.
🌬🌬🌬🌁🌬🌁🌁🌁🌬🌬🌬🌬🌬🌁🌁
Terimakasih sudah mampir dan jangan lupa
👉like👍
👉 komen 🗯
👉 Rate⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️
👉Vote
👉 Jika suka ❤ biar bisa tahu Updatenya
Jangan lupa ya selalu dukung Author dengan cara like, dan Vote biar Author semangat Upnya,
Dan terimakasih atas dukungan kalian semua, tanpa kalian gak akan ada artinya karya ini, terimaksih juga komen yang membangun dan membuat semangat Author dan juga gak lupa koment Julid yang suka mengkritik, kalau memang ada kesalahan yang ada di tulisan atau apalah itu silahkan komen, kritik dan saran kalian sangat membatu Author dalam berkarya.
__ADS_1
terimakasih sekali lagi buat kalian semua.
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisa atau typo jika ada Typo tolong kasih tau author ya gaes..