
Setelah pesta semalam, membuat mereka menyambut pagi dengan bahagia.
"Pagi semua!!" sapa Luna.
"Pagi juga Luna, " balas Yuka, Steve dan Davi bersamaan.
"Oh... ya!! ma nanti aku pulang agak sorean ya ma, mau ada latihan basket putri kebetulan Luna terpilih beberapa bulan lalu," ucap Luna.
"Kenapa kamu gak pernah cerita sayang?" tanya Steve.
"Iya, pa! maaf Luna lupa hehe," katanya sambil nyengir.
"Ya udah nanti mama jemput," ucap Yuka.
"Ok ma... terimakasih mamaku sayang," Luna mencium Yuka.
"Iya sayang!! buruan habisin sarapannya biar gak telat," pinta Yuka.
"Lunaaa... " teriak Lucio, "Jadikan berangkat bareng??" imbuhnya.
"Oh iya, aku hampir lupa!" kata Luna.
"Owh!! jadi kamu berangkat sama Cio??" tanya Yuka.
"Iya tante," jawab Lucio.
"Hati-hati di jalan jangan ngebut!" pinta Yuka.
"Iya ma,"
"Kita pamit dulu ya!! tan."
Mereka pun berangkat dengan motor milik Lucio.
__ADS_1
Di jalan Luna memeluk tubuh Lucio tanpa mereka sadari sepasang mata melihat di dalam mobil.
"Sebenarnya mereka itu pacaran ya?? kok mesra banget," gumamnya.
Sesampainya di sekolah Ryana, Dea dan Belinda melihat Lucio dan Luna bergandengan tangan melewati trio tersebut, Ryana hanya memandangnya dan sesekali menunjukan senyum sinisnya.
"Waaahh itu pacar dia ya??" tanya Dea.
"Iya, kali... ganteng juga ya!!" balas Belinda.
"Ngomong apa sih?? Gantengnya Gio kemana-mana kali!!" celetuk Ryana yang gak terima.
"He... tuh!! liat Romeo Nya datang, " celetuk Dea.
Gio dengan gaya coolnya melewati barisan para siswa dan siswi yang memandang kagum dirinya, tapi Gio begitu dingin.
"Hai Gio!!" sapa Ryana.
Gio hanya meliriknya tanpa berhenti.
"Aaahhh biasa!" ucap Dea dan Belinda memutar mata malasnya melihat kelakuan Ryana.
"Kenapa sih kamu buntuti aku terus??" tanya Gio.
"Gak boleh ya Gio??" Ryana memanyunkan bibirnya.
"Gak ... kamu itu ganggu banget tahu!!" ucap Gio kesal.
Ryana menarik tangan Gio.
"Lepas!!" Gio menarik tangannya dari genggaman Ryana.
"Kamu jahat banget sih Gio," gerutu Ryana.
__ADS_1
"Aku gak sudi kamu pegang!!" kata Gio kesal lalu meninggalkan Ryana.
"Awas aja kamu Gio aku akan buat kamu bertekuk lutut sama aku suatu saat nanti!!" ancamnya tapi Gio tidak menggubrisnya.
Setelah kelas usai Luna menuju aula untuk latihan basket, ketika Luna melewati Gio, Gio tak hentinya memandangi Luna tatapan matanya menyiratkan sesuatu.
"Hai Luna!!" sapa Gio.
"Hai juga kak Gio!!" balas Luna.
"Sudah siap latihan??" tanya Gio.
"Sudah dong kak," ucap Luna dengan senyuman manisnya.
"Harini kita tanding, aku harap kamu bisa mengimbangi permainanku," kata Gio.
"Siapa takut!!" celetuk Luna.
Priiitt....
Suara peluit Mr. Karan berbunyi.
"Sudah siap semua??" tanyanya.
"Sudah Mr. !!" seru mereka.
Pertandingan pun di mulai permainan mereka semakin memanas karena tim putri lebih unggul 2 point'.
Luna mendribel bola dia hendak akan Slam Dunk tubuhnya terhantam lawan mainnya Jasson saat Rio akan merebut bola basket tersebut dia menyenggol Jasson, dan secara reflek Jasson menabrak Luna, membuat Luna hilang keseimbangan., tapi dengan sigap Gio menangkap Luna, di sana mereka saling tatap.
"Perasaan macam apa ini?? kenapa waktu seakan terhenti ketika dia menatap dan menangkap ku??" batin Luna.
"Iiiihhh ... sebel," ucap Ryana sambil menghentakkan kakinya, "Diakan My Gio My Sweety," imbuhnya.
__ADS_1
Ketika Gio menangkap Luna, Lucio memasuki Ruangan, betapa terkejutnya ia melihat adegan itu, rasa sakit kembali menyapa hatinya, kali ini bukan seperti tertusuk ribuan jarum, lebih seperti palu thor yang merobohkan tembok besar china.