
Di sebuah ruangan berukuran 2x3 meter yang nampak sepi, hanya terdengar isak tangis tersedu-sedu. Alisha masih meringkuk sambil memeluk guling kesayangannya. Tak ada perasaan yang bisa digambarkan saat ini, bagaimana tidak laki-laki yang ia cintai menghancurkan kepercayaannya hanya dalam sekejap.
Alisha tak habis pikir bagaimana Aditya bisa melakukan hal hina seperti itu. Mengham*li wanita lantas meminta untuk menggug*rkan kandungannya, tak cukup satu tapi dua wanita dalam waktu dekat.
Menggug*rkan kandungan, bukankah itu termasuk dalam pembun*han?! belum cukup sampai disitu, Aditya mengancam melenyapkan korbannya jika sampai menuntut. Sungguh perbuatan yang sangat kejam.
Alisha kembali mengingat percakapannya dengan Wilda beberapa waktu lalu, Wilda memintanya untuk segera menjauhi Aditya agar tak jadi korban selanjutnya. Mungkin inilah yang dimaksudkan Wilda saat itu, dan kini benar terjadi.
Perut lapar tak dihiraukannya, ia tersadar hari sudah menjelang siang lalu dengan berat hati bangkit dari tidurnya menuju dapur. Ia segera menyiapkan makan siang karena biasanya jam-jam tersebut kedua orangtua dan adiknya yang kecil pulang.
Selesai menyiapkan makan siang, Alisha berniat ingin mandi namun sebelum itu ia menyalakan terlebih dahulu phonselnya. Tak ada notifikasi lagi kecuali balasan dari Bu Ria atasannya dan pesan dari sahabatnya yang belum dibaca.
Ia menekan tombol pencarian dan memilih salah satu nama di kontak whatshapnya.
"My Dear ❤" sebuah nama yang biasa disematkan paling atas dari barisan pesan chatnya, namun karena kejadian kemarin Alisha sempat menghapus semua pesan dari Aditya.
"Temui aku di taman tepi danau jam 18.30 ,datanglah aku ingin mendengar sendiri penjelasan darimu!" tulisnya dipesan tersebut lalu mengirimnya kepada Aditya.
Setelah mastikan pesannya terkirim, Alisha segera bergegas ke kamar mandi, Ia menyempatkan mengompres matanya dengan air hangat untuk mengurangi bengkak. Menangis sedari pagi menyebabkan kedua matanya sembab dan kemerahan.
Cukup lama Alisha berada di kamar mandi, ia kembali menangis. Sambil mengguyur tubuhnya dengan air dari bak mandi Alisha berharap dinginnya air bisa mendinginkan hatinya yang saat ini terasa panas.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Alisha telah menyelesaikan aktivitas mandinya, ia mengambil air wudhu karena ingin melakukan sholat dhuha.
Tepat pukul 11.00 siang orangtua Alisha sudah sampai di rumah.
"Assalamualaaikum!" sapa ibu dan ayahnya bersamaan.
"Waalaikum salam!" sahut Alisha
"wahh, habis dagangan ibu?" ucapnya gembira.
"loh kamu kok di rumah Al?" tanya ibunya.
"Kenapa nduk?" ayahnya menimpali.
"nggak papa pak, mata Alisha sakit jadi tadi ijin nggak masuk kerja dulu." bohong Alisha.
Sebenarnya Alisha tidak tega dan merasa bersalah karena membohongi orangtuanya, tapi mau bagaimana lagi tidak mungkin dirinya berkata jujur jika matanya sakit karena bekas tamparan keras dari Aditya. Bisa-bisa ayahnya mendatangi Aditya dengan membawa gol*k.
Alisha tidak pernah sekalipun dibentak oleh ayah dan ibunya apalagi sampai bermain fisik. Mereka sangat menyayangi Alisha karena berkat bantuan Alisha pula kehidupan kelurga jadi semakin membaik. Jadi bisa dipastikan jika ada yang menyakiti Alisha maka akan berhadapan dengan ayahnya.
"Ya sudah,segera berobat ke klinik supaya matamu bisa segera sembuh!" perintah ayahnya.
__ADS_1
"Baik pak,sore nanti Alisha akan berobat".
Setelah ngobrol pendek keluarga kecil nan bahagia tersebut berpindah ke dapur untuk makan siang bersama, meskipun ada satu diantaranya ada yang sedang menyembunyikan luka.
"Mbak masak apa, enak sekali baunya?" tanya Alshad adik kecil Alisha, saat ini berumur 6 tahun kelas 1 SD.
Belum juga dijawab pertanyaan pertama Alshad sudah mengajukan pertanyaan yang lain. "Mbak seminggu lagi Alshad ulang tahun loh, Alshad mau kado robot transformer yang warna merah boleh?" pinta Alshad dengan gayanya yang lucu khas anak SD.
"Boleh dong, apa sih yang nggak buat adik mbak yang lucu ini!" sambil mengelus puncak kepala sang adik.
"Sudah-sudah Alshad habiskan makananmu segera, lepas itu belajar dan tidur siang!" titah ibunya.
"Iya bu." jawabnya dengan sopan.
"Mbak Alisha, Kak Aditya kenapa sekarang nggak pernah datang kemari? Aku kan ingin main sama kak Adit?" tanya adiknya tiba-tiba.
Deg, Alisha bingung menjawabnya.
Ada desiran perih mengalir di dadanya, tangannya mendadak dingin dan bergetar.
"Coba nanti mbak telfon ya, Alshad sekarang pergi belajar dulu!" perintahnya kepada adik.
__ADS_1