
Hari ini tepat dua hari lagi menuju hari H pernikahan Zakky dan Ayya, dimana akan diadakan acara pernikahan yang terbilang cukup sederhana, seperti keinginan kedua mempelai.
Ayya berdiri dibalkon kamarnya yang bisa langsung mengarah ke kamar Zakky, dilihatnya pria itu sedang menikmati secangkir kopi sambil mengotak Atik laptop nya, membuat Ayya mendengus melihat sikap sibuk sang calon suami yang dikiranya mengerjakan pekerjaannya.
Ayya beserta keluarganya memang kini menginap di kediaman Zakky, sebagai salah satu kesepakatan bersama, selain menghindari awak media mereka juga menghindar dari berbagai kemungkinan yang ada.
" Dih so' sibuk banget" gerutu Ayya bersandar ke dinding sambil menyeruput coklat hangatnya.
Sementara Zakky tersenyum menatap layar laptopnya, yang memperlihatkan Ayya yang sedang menatapnya. Rupanya sedari tadi dia memantau Ayya dengan CCTV yang ada didekat balkon kamar yang sedang Ayya tempati.
" Gk ada kerjaan lain kali nih anak" batin Zakky terus tersenyum menatap Ayya yang terus ngedumel.
Dua hari kemudian.. Hari ini adalah hari yang dinantikan oleh sebagian orang, terlebih seluruh anggota keluarga kedua mempelai.
Terlihat Ayya kini berada didepan meja rias dengan dua orang MUA, kedua MUA itu memperhatikan wajah Ayya dengan bingung, biasanya pengantin akan sangat bahagia tidak seperti wajah Ayya saat ini.
" Mbak.. mbak kenapa kok sedih" tanya salah seorang dari mereka memberanikan diri, membuat Ayya menatap mereka.
* Anggep aja mereka pake bahasa Inggris yaa guys, cape kalau translate lagi, wkwkwkwk.....
" Emm, saya bukan sedih mbak tapi kebelet" jawab Ayya membuat keduanya saling pandang.
" Mbaknya kebelet, kenapa gk bilang dari tadi" ucap MUA itu diselingi senyum.
" Yaudah mbak, kalau kebelet kekamar mandi dulu aja.. masih ada waktu kok" ucap salah satunya lagi, membuat Ayya tersenyum kikuk dan berlari menuju kamar mandi.
__ADS_1
" Ya Allah... maafkan hamba yang belum juga ridho menerima takdirmu ya Allah.." Air mata Ayya tumpah sesaat setelah dia menutup pintu kamar mandi.
" Maafkan aku kak Alva" ucapnya lagi menumpahkan segala sesak di dadanya, mengingat kembali wajah pria yang dulu menolongnya, pria terbaik yang pernah dia kenal sekaligus pria terbrengsek yang saat ini masih ada dalam hatinya.
" Sayang.. kamu masih lama belum" tiba tiba suara sang bunda mengetuk pintu kamarnya membuat Ayya buru buru mengelap air mata yang ada di pipinya.
" Bentar Bun, masih sedikut mules Bun" jawab Ayya sebisa mungkin menetralkan suaranya.
Namun tidak mudah bagi sang bunda mempercayai perkataannya dengan mudah, dia sangat mengerti perasaan Ayya saat ini, pastilah sang putri belum mengikhlaskan sepenuhnya dengan perjodohan ini.
" Yaudah jangan lama sayang, satu jam lagi akad udah mau dimulai loh" ucap bunda Vania.
Ceklek..
Suara pintu kamar mandi terbuka, terlihat Ayya keluar dengan wajah yang basah.
" Bunda" Ayya pun segera memeluk sang bunda dengan erat.
" Ayya putri kesayangan bunda.. ikhlaskan yaa sayang" bisik Bunda Vania membuat Ayya mengangguk dalam dekapannya.
" Ini sudah takdir dari Allah.. kita tidak bisa menolak" sambung bunda Vania membuat Ayya mengeratkan pelukannya.
" Bunda minta lupakan dia sayang.. lupakan, karna kamu akan menjadi seorang istri" Nasehat Bunda mampu membuat Ayya sedikit tenang.
" Maafkan aku Bunda.. maaf" ucap Ayya menghapus air matanya.
__ADS_1
" Sudah,, tidak baik menangis seperti ini" Bunda tersenyum sambil membantu Ayya menghapus Air matanya.
Sementara kedua orang MUA itu kebingungan melihat ibu dan anak itu saling berpelukan, kedua wajahnya terlihat sangat sedih membuat mereka semakin bingung.
" Nyonya.." panggil salah satu dari mereka sambil melihat jam.
" Sudah waktunya, takutnya kita terlambat" sambungnya membuat bunda Vania tersenyum.
" Eh, maaf mbak saya terlalu sedih untuk melepas putri saya" ucap bunda Vania membuat keduanya mengangguk paham.
Akhirnya kedua MUA tersebut melanjutkan pekerjaan mereka untuk merias Ayya, sungguh mereka terpukau dengan kecantikan mempelai wanita, hanya dengan sedikit polesan sudah membuat Ayya sangat cantik, apalagi ketika wajah Ayya dipoles secara full.
Satu jam kemudiaan, ketika Ayya selesai di make up terdengar suara seorang penghulu menuntun Zakky dan Arya mengucapkan kalimat sakral itu.
" Saudara Zakky Alvaro Bramantyo, saya nikahkan engkau dengan putri saya Cahaya Isyana Adinata dengan maskawin permata seberat Seratus Dua puluh lima karat dan uang tunai 1M serta seperangkat alat sholat dibayar tunai" ucap Arya menggenggam tangan Zakky dengan bergetar.
" Saya terima nikahnya Cahaya Isyana Adinata dengan maskawin tersebut dibayar, TUNAI..." ucap Zakky tak dapat menahan rasa gugupnya.
" Bagaimana para saksi"
" SAH....."
Bersambung...................
##
__ADS_1
Alhamdulillah.. akhirnya sejoli kita nikah yaa