
Ayya tersenyum mendengar pujian sang Bunda, terlebih melihat ayahnya yang baru saja datang langsung menyantap makanan di piringnya. Membuat Ayya kembali memasak dan menyajikan untuk kedua orangtuanya, walau perutnya sudah keroncongan Ayya tak mempedulikannya, hingga hidangan itu dia berikan kepada kedua orangtuanya.
Mereka bertiga makan dengan lahap, bahkan Arya sampai menambah makanan di piringnya.
" Makasih sayang, masakan kamu ini beneran enak loh" puji Arya setelah perutnya terisi dengan penuh.
" Iya sayang, belajar dari mana sih" tanya Vania membuat Ayya tersadar.
" Ih.. bunda kok kepo banget sih" jawab Ayya.
" Gapapa kali Ayya, sekali kali" jawab Vania terkekeh.
" Rahasia dong Bun..." timpal Ayya membuat Vania geleng kepala.
" Udah udah.. mending kalian siap siap, kita bakal jalan jalan sambil liat pemandangan disini" lerai Arya pada akhirnya.
Ayya tersenyum saat keluar dari mobil sambi menggandeng tangan bundanya, sedangkan Arya nampak gemas sambil mengelus rambut putrinya itu.
Tak bisa dipungkiri bahwa dia pun rindu sebab seminggu tidak melihat tingkah manja anaknya, dia ingat betul bagaimana dulu sewaktu waktu Ayya kurang mendapat kasih sayang, bahkan membuat Ayya hampir depresi karena mendapat pembullyan dari teman sekolahnya.
Flashback On
Arya berjalan tergesah dikoridor rumah sakit, hatinya tidak tenang setelah mendapat kabar dari pihak rumah sakit.
__ADS_1
" Permisi sus, pasien Atas nama Cahaya Isyana diruangan mana ya" tanya Arya cemas.
" Sebentar yaa pak kami periksa dulu" ucap wanita yang ada didepannya.
" Tenang paa, jangan kek gitu" ucap Vania mengelus pundak Arya menenangkan sang suami, meski tak bisa dipungkiri ia pun merasakan hal yang sama.
" Maaf pak, atas nama Cahaya Isyana tidak ada boleh tau dia masuknya kapan" ucap resepsinya.
" Tolong sus, saya juga kurang tau kejadiannya kapan karna saya baru pulang dari Landon" ucap Arya banjir air mata, dia tidak mempedulikan jika pamornya hilang didepan resepsionis itu, sedangkan Vania terus menerus menenangkan suaminya meski dia ikut terisak.
" Permisi Om" seorang pria muda kini berdiri dihadapannya. Membuat Sepasang suami istri itu menoleh.
" Apa kalian orang tua Ayya" tanya pria itu membuat Arya menatapnya.
" Mari ikut saya om, Tante.." pria itu memimpin jalan melewati koridor rumah sakit, hingga mereka berhenti didepan sebuah ruangan inap, pria itu mempersilahkan sepasang suami istri itu masuk.
Dengan tangan bergetar hebat Arya memutar kenop pintu, secara perlahan terbukalah pintu tersebut memperlihatkan seorang gadis terbaring lemah diatas kasur rumah sakit.
" Sayang..." sapaan keduanya seakan membawa sinyal kepada sang anak yang sedang menatap kearah luar jendela.
" Ayah.. Bunda.." Bibir Ayya bergetar ketika melihat kedua orangtuanya kini berdiri disampingnya dengan berlinang air mata.
" Maafkan Ayah sayang... ayah lalai jaga kamu, Ayah bahkan lebih mementingkan urusan pribadi Ayah" Arya memeluk tubuh putrinya yang kini ikut terisak.
__ADS_1
" Ayah kemana aja, aku takut yah.. mereka bully aku" ucap Ayya bergetar diselangi tangisnya.
" Aku benci mereka bunda, aku benci mereka semua" racau Ayya memeluk erat tubuh sang Ayah yang kini menatap pria didekatnya.
" Maafin ayah sama bunda sayang, maafin semu kesalahan kami" Vania memeluk erat suami juga anaknya.
Sedangkan Arya terus menatap diam pria dihadapannya.
Kini Ayya bisa tertidur nyenyak akibat sedari tadi dia terus meracau tanpa henti hingga harus disuntikan obat bius oleh Dokter, tampaknya Ayya memiliki trauma berat akibat pembullyan yang dilakukan teman sekolahnya.
" Saya sarankan anak anda dibawa ke psikiater tuan, akibat kejadian itu anak anda mengidap trauma yang mendalam" ucapan Dokter tersebut selalu terngiang ngiang dikepala Arya yang kini duduk berdua dengan Pria yang dia yakini telah menolong anaknya.
" Apa kamu tau siapa yang melakukan ini" tanya Arya menatap pria dihadapannya.
Pria itu menjelaskan dari awal kejadian hingga dia memilih mengikuti mereka membawa Ayya menuju bar, bahkan para pembully itu dengan tega menjual Ayya kepada salah satu pengunjung bar, ia tak sempat mengejar para pembully itu karna harus menghentikan apa yang akan dilakukan pengunjung bar itu. Bahkan Ayya hampir saja dilecehkan orang bejat itu jika saja pria itu dan salah satu temannya tidak menolongnya, maka tidak tau apa yang telah terjadi pada Ayya.
Mendengar itu Arya menggepal kuat, lalu dengan cepat meninju dinding hingga tangannya berdarah.
" Om..." pekik pria itu...
Bersambung..................
##
__ADS_1
Welcome My novel, semoga banyak yang mampir yaa ngikutin cerita Ayya.....