
Ayya terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara Alarm berbunyi, melakukan kebiasaannya yang selalu rutin dia lakukan. Ayya turun dari ranjangnya menuju kamar mandi untuk Berwudhu terlebih dahulu sebelum menunaikan Sholat nya.
Hari ini Adalah hari keempat dia berada disini, bahkan tugas yang diberikan oleh sang dosen killer nya pun belum ada yang dia kerjakan, karena tujuannya kesini hanyalah ingin menghabiskan waktu bersama kedua orangtuanya.
Selesai Sholat subuh, Ayya dengan malas membuka laptopnya. Bukan tanpa Alasan melainkan karena kedua sahabatnya terus saja menerornya, dan selalu menyuruhnya menyelesaikan tugas yang. Matanya tiba tiba membelalak membaca pesan email dari sang dosen killer.
" Selesaikan tugas yang saya kirimkan, jika tidak selesai dalam waktu seminggu kamu akan saya hukum" pesan terakhir yang tertulis disitu setelah hampir sepuluh tugas yang sama sekali tak ia baca selama tiga hari sebelumnya.
" Gilla nih dosen mau bunuh gua kali" gerutunya, menutup laptopnya dengan geram.
" Dasar dosen gila, nyebelin, semena mena" gerutunya membanting tubuh sambil memukul mukul guling disampingnya.
" Dasar gila" teriaknya lagi kembali memukul guling disampingnya. Dia memilih kembali tidur, jika disangkut pautkan dengan tugas dan berhadapan dengan dosen itu, membuatnya badmood Ayya bahkan memilih kembali mengabaikan tugasnya.
Sore hari Ayya terlihat sumringah menunggu sang Ayah pulang, karena Arya sudah janji jika malam ini mereka akan makan di restoran favoritnya.
Terlihat mobil Arya memasuki pekarangan rumah, dengan cepat Ayya berlari menuju mobil Arya yang kini terparkir.
" Ayah...." teriak Ayya menghambur kepelukan Arya, namun pria paruh baya itu hanya diam sambil memeluk erat tubuh putrinya, membuat Ayya mengerutkan keningnya.
__ADS_1
" Ayah kok diem aja sih" tanya Ayya melepas pelukannya, memilih menatap wajah Arya.
" Aduh.. putri Ayah udah main interogasi aja, udah sana mending mandi dan siap siap, kita kan mau pergi" sambut Arya mengalihkan pembicaraan.
" Oke Yah, sini aku bawain Tas Ayah kedalam" ucap Ayya mengambil alih Tas Arya, serta menggandeng tangan Arya masuk.
" Sayang siap siap gih" ucap Arya membuat Ayya patuh.
" Siap Yah" Ayya berjalan menuju atas dimana kamarnya berada. Meninggalkan Arya yang kini menatap Vania yang berada diambang pintu kamar mereka.
" Mas kenapa" satu pertanyaan itu membuat Arya menghambur kepelukan sang istri hingga Isak terdengar, begitulah Arya jika sedang ada masalah. Vania yang paham kini mengajak Arya masuk kedalam kamar agar dapat berbicara merdua.
Pulang dari sana, Arya terus saja diam membisu membuat Ayya bingung, tidak biasanya sang ayah terus diam tanpa ada sebab.
" Ya-" Ucapnya terhenti ketika melihat Vania mengelus pundaknya dan tersenyum.
" Nanti dirumah yaa sayang" ucap Vania membuat Ayya bingung.
Sesampainya mereka dirumah, Ayya terus membuntuti Arya yang terus saja berjalan meninggalkan keduanya.
__ADS_1
" Ayah kenapa sih, aku cape liat ayah kayak gini kalau ada masalah jangan diemin aku Ayah" pekik Ayya ketika dirinya merasa lelah terus memberi kode pada Ayahnya.
Langkah Arya terhenti dan berbalik menatap Ayya yang kini menitihkan airmata.
" Huh.." Arya membuang nafas dalam lalu berjalan kearah Ayya yang berdiri tak jauh.
" Maafkan ayah sayang" satu kata itu yang keluar dari mulut Arya sambil memeluk tubuh Ayya.
" Tapi ayah kenapa yah"
" Mas.. Sayang duduk dulu yuk" Ajak Vania kepada keduanya. Hingga Ayya duduk disamping kedua orangtuanya.
" Maafkan Ayah sayang, tapi untuk kali ini Ayah minta pengertian kamu sayang" suara Arya bergetar sambil menatap Ayya.
" Ayah mohon sayang" Airmata Arya kini keluar sambil terus menatap Ayya yang kebingungan.
Bersambung...............
##
__ADS_1
Ada yang penasaran gk nih kenapa Arya jadi kayak gini, simak terus yaa........