
" AYAH........"
Ayya terus berteriak dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
" Sayang... sayang bangun, kamu kenapa sayang" tanya Vania membangunkan Ayya yang sedari tadi memanggil nama Arya, hingga sang suami pun turut memasuki kamar Ayya.
" AYAH..." pekik Ayya memeluk tubuh Arya erat erat, membuat Arya bingung sekaligus terharu. Dia pikir karena kejadian tadi akan membuat hubungan keduanya renggang.
" Maafkan aku Ayah... maaf" kicau Ayya terus memeluk Ayahnya itu.
" Shutt, seharusnya Ayah yang minta maaf sama kamu, maafin Ayah yaa sayang...." Arya mengusap rambut Ayya.
" Tenangin diri dulu yaa, trus kita turun buat sarapan yaa" Vania ikut mengelus rambut Ayya.
" Ayah gk papa kan" tanya Ayya mendongakkan kepalanya menatap sang Ayah yang kini tersenyum.
" Ayah gk papa kok" jawabannya mencium pucuk kepala Ayya.
" Sudah.. sekarang kamu mandi habis itu turun buat sarapan" jawab Arya membuat Ayya mengangguk.
" Sayang mau bunda bantu" tanya Vania duduk ditepi ranjang Ayya setelah sang suami keluar.
" Gada kok Bun, bunda keluar aja temenin Ayah" jawab Ayya membuat Vania mengerutkan keningnya Namun dia memilih diam.
" Yaudah Bunda kebawah yaa, jangan lama lama turunnya" Vania keluar dari kamar Ayya dengan banyaknya pertanyaan dibenaknya.
__ADS_1
Setelah Vania keluar kini tinggallah Ayya sendirian yang kembali meneteskan air matanya, rasa takutnya menyeruak takut itu akan terjadi jika dia menolak permintaan sang Ayah.
" Apapun Itu Aku harus bisa" gumamnya menitihkan kembali air matanya.
Ayya bangun dari tidurnya, rasanya tubuhnya tadi yang menegang kini melunak bagai tak bertulang, lega sekaligus bingung menyelinap menjadi satu.
Ayya dengan cepat mengguyur tubuhnya, tujuannya kini hanya satu yaitu tidak ingin apa yang dia mimpikan benar benar terjadi, meskipun harus merelakan masa depannya.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Ayya kini keluar menuju ruang makan yang mana kedua orangtuanya sudah menunggu.
" Dek.." Ayya terkejut ketika mendapati Keenan dihadapannya.
" Kak.." Ayya memeluk tubuh Keenan erat menyalurkan kesedihannya.
" Maafkan Kaka gk bisa bantu kamu" gumam Keenan membuat Ayya menggeleng.
" Serius dek" tanya Keenan dijawab anggukan Ayya.
" Tapi-"
" Udah kak, ayo kita turun aku udah laper banget" potong Ayya mengubah topik pembicaraan mereka.
Akhirnya Keenan menurut, karena memang perutnya pun keroncongan.
" Ayya, soal semalam Ayah bakal-"
__ADS_1
" Aku Nerima perjodohan ini Ayah.." jawab Ayya menghembuskan nafasnya, membuat Arya dan Vania menatapnya.
" Kamu serius sayang" tanya Arya dan Vania bersamaan.
" Se,serius" jawab Ayya sedikit ragu.
" Alhamdulillah..." ucap keduanya bernafas lega, membuat Ayya tersenyum kecut melihat kedua orangtuanya tersenyum lembut, bagaimana jika tadi dia menolak tidak bisa ia bayangkan bagaimana kecewa keduanya.
" Kalau begitu kamu segeralah sarapan, setelah itu siap siap kita akan kerumah sakit untuk menjenguk sahabat Ayah" ucap Arya bersemangat membayangkan sahabatnya akan sangat senang mendengar putrinya bersedia dipinang.
" Ha,harus yaa Ayah.." tanya Ayya ragu.
" Harus dong sayang, semoga saja dia akan berangsur sembuh ketika mendengar ini" jawab Arya mempercepat sarapannya, sedangkan Ayya dengan susah payah memakan sarapannya.
" Yaudah Ayah bersiap siap dulu" Arya bergegas menuju kamarnya dengan semangat. Dari sini Ayya dapat melihat bahwa ikatan Ayah dengan sahabat Ayahnya begitu erat, hingga membuat Ayya harus rela dijodohkan ayahnya.
Sementara itu Vania menatap sendu kearahnya putrinya, melihat wajah putrinya kini dia sadar dengan keterpaksaan dalam keputusan yang diambil Ayya.
" Sayang... maafkan Ayahmu sayang" Vania mengelus rambut Ayya, membuat Ayya menatapnya dan menghambur memeluk sang bunda.
" mungkin ini adalah takdirku Bun" jawab Ayya memeluk Vania erat.
Bersambung..................
##
__ADS_1
See you bye bye.....