
" Ayah mohon sayang" Airmata Arya kini keluar sambil terus menatap Ayya yang kebingungan.
Ayya menatap sang Bunda dengan sorot mata kebingungan, sedangkan Vania menatap sendu kearahnya, semakin meyakinkan Ayya jika terjadi masalah yang begitu rumit dihadapi oleh kedua orangtuanya.
" Jelaskan Ayah, kalau kayak gini gimana aku bisa bantu" Ayya mengelus tangan Arya bertujuan menenangkan Arya, namun bahkan sikapnya membuat Arya merasa bersalah.
" Maafkan Ayah sayang, maaf..." Arya sesegukan membuat Ayya memeluk sang Ayah erat.
" Bicaralah Ayah... Aku siap melakukannya untuk Ayah dan Bunda" ucap Ayya bergetar meski ragu karena dia sendiri belum tau apa keinginan sang Ayah, namun hatinya tidak dapat menolak.
Arya tergugu matanya menatap Sang istri yang menganggukkan kepalanya.
" Berjanjilah untuk tidak marah pada Ayah, sayang... maafkan Ayah jika ayah mengambil keputusan ini secara sepihak" Arya menggenggam tangan Ayya erat. Sedangkan Ayya terdiam mendengar penuturan Arya, bingung jelas saja dia bingung bahkan perasaan tak enak menyelimuti tubuhnya. Namun dia berusaha tersenyum meski dengan sedikit bertentangan dengan otaknya.
" Aku berjanji tidak akan buat Ayah kecewa" Ayya menatap Arya yang sendu. Perasaan Arya sedikit lega mendengar penuturan putrinya.
" Maafkan Ayah telah berjanji menikahkan kamu dengan putra teman Ayah" ucap Arya pelan.
JEDER.........
__ADS_1
Bagai disambar petir, Ayya syok mendengar penuturan sang Ayah bahkan genggaman tangannya dengan sang Ayah seketika terlepas, membuat Arya menunduk dan kembali menangis sedangkan Vania mengusap pundak sang suami.
Sudut mata Ayya tiba tiba saja berair, namun sebisa mungkin ia tahan bahkan tubuhnya dia rasa seperti tidak bertulang lagi. Matanya menerawang kearah lain tiba tiba saja bayangan seseorang pria yang dari dulu memenuhi hatinya terbesit, bahkan penghianatan yang dia lakukan masih tergambar jelas.
" Aku harus apa" batin Ayya bergetar.
Ayya sebisa mungkin berdiri dari duduknya meski terasa sangat susah karena seluruh tubuhnya seakan tak bertenaga. Sementara Arya semakin merasa bersalah ketika tidak mendapat respon apapun dari putrinya. Arya menakin menunduk ketika melihat pergerakan Ayya yang hendak pergi.
" Akan aku pikirkan Ayah......." meski kelu Ayya berusaha berucap tak ingin membuat kedua orangtuanya kecewa.
Ayya berjalan perlahan menuju kamarnya, dengan perasaan yang tak menentu, bahkan dia tidak sadar jika sang kaka memperhatikannya.
Arya semakin menunduk mengingat apa yang telah ia perbuat kepada putrinya sudah terlampau, bahkan tampa persetujuan Ayya dia berjanji kepada sahabatnya.
Keenan mendekat kearah kedua orangtuanya, lalu duduk dihadapan mereka.
" Bisakah jelaskan untuk aku bunda" tanya Ken. Sementara Arya bangkit.
" Ayah kedalam dulu" Akhirnya dia meninggalkan keduanya dan memilih masuk kedalam kamar.
__ADS_1
" Bunda..." suara Keenan membuat Vania tersadar.
Vania pun menceritakan semuanya terhadap putra tirinya itu, tidak ada yang dia sembunyikan bahkan dia juga menceritakan betapa bersalahnya sang suami.
" Apakah memang harus seperti itu bunda" tanya Ken.
" Ayahmu sudah berjanji Ken, pantang baginya mengingkari apalagi hubungan keduanya sangat dekat bagaimana bisa ayahmu menolak dan membatalkannya, kamu tau betapa berjasanya sahabatnya itu bukan " Ucap Vania membuat Ken mengangguk tidak bisa ia bantah karna memang itu benar adanya.
" Aku akan berusaha pelan pelan meyakinkan Ayya Bun" Airmata Ayya tak terbendung lagi mendengar pembicaraan keduanya.
Rencana ingin keluar mengambil hp nya yang tertinggal, dia kembali dibuat gundah apakah harus dia menyetujuinya. Tubuhnya terperosok kelantai beruntung ada dinding pemisah hingga mereka tidak bisa melihat Ayya yang menangis sesenggukan.
Ayya berjalan kembali kearah kamarnya ketika mendengar suara langkah kaki, yang dapat dia pastikan itu adalah langkah kaki Keenan, karena memang posisi kamar Ayya dan Keenan berada dilantai atas.
Bersambung..........
##
Othor harap banyak yang mampir yaa, bye.........
__ADS_1