
Magdalena tertegun melihat sikap Reid yang sangat serius.
"Y... Yaa.. Kan... Aku sudah banyak mendengar saat mereka merayakan usia 19 tahun, kebanyakan mereka akan minum-minuman keras dan pergi ke club." Kata Magdalena.
"Coba kalau kau bisa." Kata Reid dengan wajah dingin.
"Bukankah kau sendiri yang bilang untuk tidak ikut campur dalam urusan pribadi masing-masing?" Kata Magdalena.
"Eghem..." Reid terbatuk salah tingkah ia ingat kalimat itu.
"Tetap saja jangan lakukan hal yang akan merugikanku!" Kata Reid dan berlalu pergi meninggalkan Magdalena.
"Ada apa dengannya... Huh!" Kata Magdalena nyengir.
Saat Magdalena melewati ruang tengah, Joyce menahan jalannya.
"Mau kemana." Kata Joyce menyedekapkan tangannya.
Magdalena terkejut, dan berhenti.
"Kalau tidak salah kami akan ke Rusia." Kata Magdalena.
Tanpa sepatah kata pun Joyce memicingkan matanya, dan pergi meninggalkan Magdalena dengan wajah gusar.
"Ada apa dengan semua orang pagi ini?" Kata Magdalena tak mengerti.
Setelah melalui perjalanan menuju bandara, Reid dan Magdalena masuk ke dalam pesawat pribadi, dengan pengawalan.
Ini adalah pertama kalinya Magdalena menaiki pesawat dan pergi jauh, bahkan hingga ke luar negeri
"Waaahh... Hebat sekali, apa itu semua awan?" Kata Magdalena melihat ke arah luar jendela dengan wajah sumringah.
Reid hanya diam dan duduk sembari menutup matanya. Reid pikir pengalaman pertama saat terbang pasti akan membuat Magdalena takut. Namu ternyata salah.
Mereka duduk berhadapan dan di atas meja mereka telah di siapkan berbagai macam jenis makanan serta camilan.
"Makaron ini enak juga. Aku suka, aahh... Pemandangan dari atas sini juga indah, aku menyukai nya juga. Astaga... Ini hebat!" Kata Magdalena.
Reid melirik dengan sebelah matanya kecil, dan saat itu wajah Magdalena terlihat bersinar terkena cahaya.
"Cantik." Kata Reid pelan dan menutup matanya lagi seolah-olah ia sedang tidur.
"Wwaaahh... Itu laut... Itu laut....!" Kata Magdalena.
Namun, setelah beberapa saat kemudian Magdalena benar-benar tidak bisa diam, membuat Reid harus bertindak karena ia juga butuh ketenangan.
"Bisakah kau tenang sedikit." Kata Reid membuka matanya.
Magdalena menjadi mengkerut.
Reid menjadi merasa versalah, seolah kini ia lah penjahatnya dan tidak enak melihat Magdalena sedih.
"Aaa...Terserahlah aku mau tidur." Kata Reid sembari berdiri.
__ADS_1
"Kau mau tidur kemana?" Tanya Magdalena.
"Di kamar..." Kata Reid kemudian berjalan dan masuk ke dalam kamar mini yang mewah.
Magdalena cemberut, ia menjadi kesepian.
Perjalanan menuju Rusia sudah berlangsung beberapa jam, dan itu sudah cukup panjang akhirnya Magdalena menjadi mengantuk, ia pun tertidur di kursinya.
Saat itu sudah mulai sore dan sebentar lagi malam, pesawat akan segera mendarat, Reid keluar dari kamar dan melihat Magdalena tertidur.
Pria itu kemudian membenarkan kepala Magdalena, dan pilot mengumumkan akan segera landing.
Setelah pesawat mendarat dengan sempurna, Magdalena masih belum juga bangun.
"Hei..." Panggil Reid.
Pria itu membuang nafas pelan, melihat Magdalena yang nampak tidur dengan pulas membuat Reid tidak tega membangunkannya.
"Ini perjalanan pertamanya dia pasti lelah." Kata Reid.
"Tuan Reid, para pengawal Tuan besar telah menjemput."
"Haha... Barness Armond tidak pernah mau kehilangan sedikitpun ya. Dia pikir aku akan mengacaukan wilayah ini."
"Sepertinya agar anda tidak lagi mengulangi kejadian yang dulu Tuan."
"Padahal dulu aku hanya ingin bermain." Kata Reid.
"Saat itu anda membakar kantor perusahaan anak cabang milik Tuan Barness." Kata Qartel mengingatkan.
"Tuan... Sekarang anda membawa Nona Magdalena, mungkin sebaiknya akan lebih baik jika anda sedikit menahannya."
"Aku tahu..." Kata Reid kemudian menggendong Magdalena.
Mereka pun keluar dan di jemput oleh para pengawal Barness Armond.
Reid masih menggendong Magdalena, karena angin yang cukup kenjang membuat Magdalena menggigil dan ia membuka mata perlahan.
Magdalena masih seolah mengawang awang, ia melihat wajah tampan di atas wajahnya.
"Apakah dewa? Tidak mungkin manusia karena kau setampan ini." Kata Magdalena masih belum sadar sepenuhnya.
"Kau... Juga wangi... Ya dewa, aku mau tetap begini saja." Kata Magdalena semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada Reid.
Semua itu membuat dada Reid berdegup tidak karuan, dan hawa panas menjalar di setiap kulitnya.
"Tunggu dulu...!!!" Magdalena langsung membuka mata dan melihat ke atas.
"Tidak!!!" Kata Magdalena terkejut, mengingat jika itu adalah wajah Reid.
Magdalena tersenyum canggung dan meringis.
"Kau sudah bangun? Maka dewa tampan ini akan menurunkanmu." Kata Reid menurunkan Magdalena.
__ADS_1
Saat itu Magdalena berdiri dan sedikit terhuyung, namun Reid memegang tubuh Magdalena dari belakang seperti memeluknya. Magdalena merasa merinding.
"Aku melakukan ini karena agar ayahku percaya sepenuhnya bahwa kita adalah pasangan suami istri, di sini banyak mata-mata ayahku." Bisik Reid di belakang Magdalena sembari memeluk Magdalena.
"Tuan Reid, kabarnya Nyonya Joyce sebentar lagi mendarat." Kata Qartel.
"Joyce!" Kata Reid.
"Deborah memberi informasi jika Nyonya Joyce menyusul." Kata Qartel.
"Bagaimana dia bisa tahu?" Kata Reid.
"Anu... Maaf, tadi pagi Nyonya Joyce menanyakan padaku, kemana aku akan pergi, dan aku menjawab ke Rusia. Ap... Apa itu salah? Ma... Maafkan aku." Kata Magdalena.
Reid diam saja, namun ia masih berfikir keras.
"Joyce pasti berusaha untuk mengungkap pernikahan ini." Kata Reid.
"Pernikahan kita memang palsu karena tidak ada rasa cinta dan aku setuju dengan pernikahan ini karena hutang Morriz, kau pun memiliki alasannya sendiri dan karena apa aku tidak tahu, tapi pernikahan kita tertulis di catatan sipil, meski begitu tetap saja kita suami istri yang sah. Joyce mau mengungkap apa." Kata Magdalena.
"Sebenarnya Tuan Barness memiliki watak dan sikap cukup rumit Nona Magdalena. Tuan Barness memiliki prinsip jika pernikahan adalah di atas segalanya, jika Tuan Reid tidak menikah dan tidak mempunyai keturunan maka itu akan di anggap sebagai noda, dan penghinaan bagi Tuan Barness. Prinsip pernikahan Tuan Barness adalah, pernikahan sesungguhnya yang di penuhi dengam rasa cinta, kasih sayang, dan ikatan yang kuat." Kata Qartel.
"Tapi jika Tuan Barness memiliki prinsip seperti itu, mengapa dia..." Kata Magdalena tertahan.
"Memiliki simpanan?" Lanjut Reid.
"Awalnya ayahku bukan orang seperti itu, tapi ada suatu hal membuat ayah tiba-tiba menjadi melenceng, aku belum tahu apa itu, tapi dia tetap memegang teguh prinsip nya untuk anaknya, maka dari itu aku dan dia selalu bertengkar." kata Reid.
Kemudian Reid pergi lebih dulu meninggalkan Magdalena.
Qartel pun hendak menyusul namun Magdalena menahannya.
"Tuan Qartel, saya ingin bertanya." Kata Magdalena.
"Cukup panggil saya Qartel, meski pernikahan anda hanyalah kesepakatan tapi anda Nyonya yang harus saya layani."
Magdalena tersenyum canggung.
"Sebenarnya bagaimana Tuan Barness? Mengapa mereka selalu bertengkar."
"Mari saya ceritakan sembari kita berjalan, Tuan Barness sudah menunggu." Kata Qartel.
Magdalena berjalan perlahan bersama Qartel.
"Sebenarnya dulu Tuan Barness adalah pria sejati, dia setia dan sangat menyayangi keluarga, namun dia adalah pria yang keras, tegas dan sangat tidak suka di bantah, bahkan Tuan Reid menerima pendidikan yang ketat dari Tuan Barness, suatu hari tiba-tiba Tuan Barness berubah, dia menjadi pria yang sering bermain-main dengan para wanita, dia jarang ada di mansion dan pada akhirnya Nyonya Joyce lah yang bertahan paling lama, Nyonya Joyce berhasil menjadi simpanan, akhirnya ia juga mampu sedikit banyak mengendalikan Tuan Barness." Kata Qartel.
"Namun..." Lanjut Qartel tertahan.
Magdalena mendengarkan dengan baik, kini mereka berhenti dan saling pandang.
"Tuan Barness, tetap menjaga prinsipnya, syarat agar Tuan Reid dapat mewarisi harta Tuan Barness adalah sebuah pernikahan dan seorang anak. Prinsip Tuan Barness adalah pernikahan yang di dasari atas cinta, kasih sayang, agar pernikahan itu memiliki pondasi kuat. Sebelumnya, Tuan Reid adalah selibat, melihat ketidakadilan ibunya, ia tidak ingin menikah. Namun, keputusan Tuan adalah penodaan dan penghinaan bagi Tuan Barness. Akhirnya Tuan Barness terus menekan perusahaan Tuan Reid dan selalu mengancam Tuan Reid jika Tuan Reid tidak menikah Tuan Barness akan terus mengacaukan perusahaan Tuan Reid." Kata Qartel.
"Tuan Barness dan Tuan Reid sering bertengkar tentang masalah pernikahan. Tuan Reid yang menganggap prinsip ayahnya adalah lelucon, karena ayahnya sendiri menghancurkan pernikahan itu dan membuat ibu Tuan Reid depresi dan menghilang, sedangkan Tuan Barness tetap teguh dalam prinsipnya, jika Tuan Reid ingin menjadi ahli warisnya, Tuan Reid harus memenuhi syarat itu."
__ADS_1
Bersambung