
Pagi hari pun tiba, matahari menyingsing sempurna, dan lagi lagi Magdalena masih tertidur dengan pulas di bahu Reid dengan menaruh kepalanya senyaman mungkin.
Pria itu menekan dahinya sendiri dengan jari-jari tangannya yang sebelah.
"Apa dia selalu bangun siang?" Kata Reid.
Hingga pukul 9 pagi akhirnya Magdalena bangun dengan perlahan dan mengeratkan pelukannya, yang ia kira itu adalah guling. Magdalena pun mencium pipi Reid.
"Cupp."
Wajah Reid menegang, kulit wajahnya memerah, dan jantungnya langsung berdesir panas, kemudian jantungnya memompa dengan sangat cepat hingga berdetak tak beraturan.
Magdalena masih setengah sadar, ia tidak menyadarinya, bahwa yang ia cium bukanlah guling melainkan pipi Reid.
Dengan reflek Reid memutar tubuhnya dan memutar tubuh Magdalena hingga terlentang, kini Reid telah berada di atas tubuh Magdalena. Pria itu menyangga tubuhnya menggunakan kedua tangan menatap tajam pada Magdalena.
Dengan gelagapan Magdalena membuka matanya, dan langsung berteriak.
"Apa yang sedang kau lakukan!!!" Magdalena menutupi tubuhnya dengan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
"Bangun Tuan Putri! Aku terlambat pergi ke kantor karena kau mendengkur, lain kali pasang alarm pukul 5 pagi!" Kata Reid menatap Magdalena.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Magdalena dengan gugup.
"Pukul 9 pagi, dan hari ini adalah hari pertamamu ke Universitas."
"Aaaah!!!!" Magdalena menjerit dan dengan cepat mendorong Reid membuat Reid terjatuh di atas ranjang.
"Siapa yang membuat kita kesiangan, siapa yang kelabakan." Kata Reid duduk dan mengusap rambutnya.
Tiba-tiba tangan Reid menyentuh pipinya dan kembali teringat bagaimana Magdalena menciumnya.
"Dia tidak boleh tidur sembarangan dengan orang lain." Kata Reid.
Setelah beberapa waktu yang sibuk serta saling bertabrakan, Reid dan Magdalena selesai bersiap dan sarapan kilat, mereka pun langsung turun ke bawah.
"Ayo masuk." Kata Reid membuka pintu mobil.
"Tidak, aku mau naik bis!" Kata Magdalena.
Reid menarik pergelangan tangan Magdalena dan langsung mengarahkannya masuk ke dalam mobil, kemudian Reid menutup pintu dan ia pun masuk ke mobil dari sisi pintu yang lain.
Setelah Reid duduk ia memerintahkan pada Qartel unruk berangkat kemudian mobil pun melaju dan perlahan meninggalkan Mansion.
"Ke Kampus A lebih dulu." Perintah Reid.
"Baik Tuan."
"Aku sudah katakan bahwa kita harus merahasiakan pernikahan ini." Kata Magdalena.
__ADS_1
"Aku tidak berniat muncul dan mengatakan di kampusmu bahwa aku adalah suamimu, setidaknya untuk kali ini menurutlah, ini sudah siang, dan kau tidak mungkin memakai bis karena kuliah pertamamu akan segera di mulai. Kau mau dihukum, dan memiliki kesan pertama yang buruk? Mahasiswi baru yang tidak taat waktu. Profesor di sana sangat peduli dengan waktu dan disiplin waktu." Kata Reid.
Magdalena menelan ludahnya.
"Lalu hukuman apa yang akan aku dapat jika aku terlambat." Kata Magdalena.
"Mungkin di keluarkan dari kampus dan di blacklist di semua kampus bergengsi." Kata Reid menjawab dengan santai.
"Apa!! Mana mungkin." Kata Magdalena.
"Kampus itu sangat menghormati waktu, dan bagi mereka waktu adalah pengetahuan." Kata Reid menjawab santai dan tenang.
Magdalena terlihat gusar.
Tak berapa lama mobil pun masuk ke wilayah kampus dan berhenti.
"Sudah sampai, belajar lah yang rajin." Kata Reid.
Magdalena terlihat sedih dan keluar dari mobil dengan lesu.
"Kenapa dia lesu." Kata Reid.
"Anda menakutinya Tuan Reid. Nona Magdalena sangat ingin meneruskan belajarnya, namun di hari pertama kuliahnya dia terlambat, pasti Nona Magdalena merasa sangat menyesal dan sedih." Kata Qartel.
"Padahal aku hanya bercanda." Kata Reid menahan tawanya.
"Bagaimana jika anda menghubungi profesor yang bertanggung jawab di jam pertama." Kata Qartel.
"Meskipun mereka akan memperlakukan Nona Magdalena dengan baik karena mereka tahu Nona Magdalena memiliki hubungan dengan Tuan Barness dan telah menyumbangkan banyak uang, namun tetap saja anda harus memperkuat posisi Nona Magdalena, agar mereka takut pada anda, saya hanya khawatir Nona Magdalena terlibat dengan Profesor yang sulit." Kata Qartel.
Reid diam sejenak dan berfikir.
"Ku pikir dia harus belajar sesuatu, jadi kali ini aku tidak perlu turun tangan, ke depannya dia akan lebih bertanggung jawab dengan waktu dan aku juga tidak akan terlambat." Kata Reid.
"Baik Tuan." Kata Qartel.
Mobil pun melaju menuju perusahaan.
Di perusahaan semua pegawai sibuk menggosip, ini adalah hal pertama yang sangat mengejutkan, bahwa Reid yang gila kerja dan selalu ada di perusahaan sebelum matahari terbit terlambat datang ke kantor.
Semua menggosip dengan terkejut, hingga mereka di kejutkan kedatangan Reid dan membungkam mulut mereka dengan cepat.
"Tuan sepertinya semua membicarakan anda yang datang terlambat." Kata Qartel.
"Biarkan saja."
"Apa Ceo kita sedang terlibat malam panas? Sehingga dia bangun kesiangan... Ya ampun aku sangat iri, siapa yang beruntung dapat tidur dan menyentuh tubuh Tuan Ceo kita yang tampan dan dingin..." Celoteh salah satu pegawai.
Reid berhenti sejenak, dan hanya berdiri memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, mantel nya menggantung di bahu.
__ADS_1
Reid mendadak tersenyum kecil. Senyuman kecil yang menggelikan di hati Reid.
"Kau dengan Magdalena, kau beruntung." Batin Reid dan masuk ke dalam lift khusus.
"Cari tahu keadaan Magdalena." Perintah Reid.
"Baik Tuan." Kata Qartel.
******
Di Universitas A, Magdalena sedang berdiri di depan semua mahasiswa dan mahasiswi karena Magdalena adalah murid yang masuk di pertengahan.
"Perkenalkan nama saya Magdalena. Mohon bantuannya." Kata Magdalena.
Kemudian Magdalena berjalan menaiki tangga dan mencari tempat duduk, setelah duduk Magdalena menaruh buku-bukunya di atas meja, dan profesor melanjutkan materinya lagi.
Semua diam, namun Magdalena mendengar beberapa wanita berbisik.
"Katanya dia simpanan om-om jadi bisa masuk ke Universitas A." Ucap Sera dengan sengaja agar Magdalena mendengarnya.
"Sial. Benarkah?" Balas Wenwen, wanita keturunan china.
"Yang ku dengar malah, dia gundikk dari pria tua yang sekarat." Kata Hanah dengar tertawa cekikikan.
"Pantas saja dia bisa masuk ke sini, mungkin dia juga tidak pintar." Kata Sera lagi.
Magdalena hanya diam seolah tak mendengar mereka semua menyindirnya.
Di sebelah Magdalena adalah seorang wanita kutu buku yang memakai kaca mata tebal, dan menyodorkan sebuah catatan kecil.
"Biarkan saja, mereka selalu seperti itu, jangan memprovokasi apapun atau kau akan menjadi sasaran mereka seterusnya."
Magdalena membaca itu dan meremas kertasnya lalu menulis lagi.
"Terima kasih aku akan ingat itu."
Hingga akhirnya di menit-menit terakhir, jam kuliah Prof. Judson akan berakhir tiba-tiba pintu di buka dan seorang pria tampan yang bertubuh jangkung masuk dengan tas di bahu kananya.
Pria itu melihat pada Prof. Judson dan melangkah naik ke tangga mencari tempat duduk, ia pun menaruh tasnya di atas meja dekat Magdalena duduk.
"Nona Magdalena dan Tuan Alan Walton silahkan temui saya di ruangan setelah saya keluar dari ruangan ini." Kata Prof. Judson menatap tegas pada mereka berdua.
Magdalena menelan ludah dan wajahnya tegang, bahkan tubuhnya sangat gemetar ketakutan.
Sedangkan Alan Walton hanya berdiri, pria itu belum sempat duduk.
"Aku senang gadis itu di panggil, tapi kenapa harus bersama Alan. Bikin kesal saja." Kata Hanah.
"Alan juga terlambat hari ini. Biasanya dia yang paling suka dengan jam kuliah Prof. Judson, ada apa dengannya ya? Bahkan saking sukanya dia selalu mengambil meja paling depan dan duduk sebelum ada siswa yang masuk." Kata Wenwen.
__ADS_1
Sera hanya diam memandang Alan dengan pikirannya sendiri.
Bersambung