Janda Kembang Paman CEO

Janda Kembang Paman CEO
EPISODE 22


__ADS_3

Ketika Reid hendak melangkah pergi kembali, tiba-tiba ia mendengar teriakan Belinda.


"Jangan sembarangan, itu sangat mahal!!" Teriak Belinda.


"Taruh pelan-pelan, ke kamarku jangan di sini!!!" Teriak Belinda lagi.


Reid menaikkan sebelah alisnya, ia menjadi penasaran apakah belanjaan itu milik Belinda ataukah Magdalena.


Ketika Belinda sibuk mengurus semua baju dan tas serta sepatu yang memiliki merk terkenal, Magdalena pun masuk dengan membawa beberapa tumpuk buku hingga kepalanya tak terlihat.


Magdalena terus berjalan hingga ia tak melihat ada Reid di depannya, dengan santai Reid bergeser minggir dan membiarkan Magdalena perlahan pergi masuk ke dalam kamarnya.


Reid juga mengekor di belakang Magdalena, namun ia kembali teringat jika Magdalena sedang marah padanya, sehingga membuatnya tetap diam dan berpura-pura sedang menyibukkan diri di dalam kamar dan tidak peduli.


Saat Reid sedang duduk dan berpura-pura membuka Laptop mengerjakan sesuatu, ia melirik sedikit ke arah Magdalena yang sibuk merapikan bukunya.


"Aduuhh... Pegal sekali." Kata Magdalena merenggangkan otot punggungnya.


Magdalena kemudian memutar tubuh dan berbalik.


"Hah! Astaga...!!!" Magdalena terkejut melihat Reid sudah duduk dengan laptopnya.


"Kapan dia masuk?" Kata Magdalena lirih pada dirinya sendiri.


Magdalena menggigit bibirnya dan kemudian mengeluarkan black card milik Reid.


"Aku memang tak tahu malu, sudah marah-marah padanya dan kemudian memakai uangnya untuk berbelanja buku, sebaiknya aku kembalikan saja, dan minta maaf." Batin Magdalena.


"Tapi... Kenapa juga aku harus minta maaf? Dia mengatakan aku murahan kan? Haahh... Aku jadi emosi lagi!"


Magdalena membuang nafas hingga poni nya terhempas naik, dia bolak balik dengan kebingungan hati dan jalan pikirannya.


"Kau tidak membawa barang belanjaanmu yang ada di bawah?" Kata Reid kemudian memecah keheningan.


"Apa?" Tanya Magdalena seolah ia tak percaya Reid mengatakan itu.


"Mau ku ulangi lagi pertanyaanku?" Kata Reid dingin.


Kemudian Magdalena benar-benar marah dan menyerahkan black card nya di atas meja dengan kesal.


"Aku tidak tertarik dengan barang-barang seperti itu, lebih baik kau berikan saja kartu ini pada Belinda, dia pasti akan kegirangan!" Kata Magdalena ketus.


"Jadi Belinda yang belanja." Kata Reid.


"Kau pikir itu aku kan." Kata Magdalena.


Reid diam dan salah tingkah karena telah menuduh Magdalena.


"Kau membeli buku?"


"Seperti yang kau lihat." Kata Magdalena ketus.


Reid kemudian berdiri dan mendatangi Magdalena yang marah.


"Apa kau masih kesal dan marah padaku karena tadi pagi?" Kata Reid.

__ADS_1


"Kau pikir?"


"Iya." Jawab Reid.


"Kau tahu itu kenapa masih bertanya." Magdalena reflek selalu membatah dan menyulut.


Magdalena sendiri tidak bisa menahan emosi dan kekesalannya, dia masih remaja dan kepribadian serta emosinya tentu masih belum bisa terkontrol. Namun, Magdalena benar-benar terluka ketika Reid mengatakan jika dirinya seperti wanita murahan yang selalu menempel pada laki-laki lain.


"Aku hanya tidak mau kau mendapatkan berita aneh. Kau tahu kan aku adalah orang yang harus bersih dari skandal apapun, apalagi berita tak penting."


"Berita aneh?"


"Berita di surat kabar atau di televisi, tentang kedekatanmu bersama pria lain." Kata Reid.


"Memangnya aku siapa? Aku bukan artis? Bukan juga orang penting, kenapa mereka akan memberitakan aku? Lagi pula, kita merahasikan pernikahan kita, siapa yang akan memberitakan aku? Siapa yang tahu aku adalah istrimu?" Kata Magdalena keheranan.


"Iya juga." Batin Reid.


Reid mulai gugup, ia mulai kebingungan mencari alasan agar Magdalena tidak lagi berdekatan dengan pria lain.


"Intinya kau harus jaga jarak dengan pria, apa yang akan dikatakan orang lain?" Kata Reid.


"Orang lain? Ada apa denganmu? Aku makin tidak paham, aku tidak mengerti sebenarnya kau kenapa? Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika, kita tidak boleh saling menganggu privasi, kau lupa. Seingatku, kau mengatakan jika aku tak boleh mengganggu urusan pribadimu, berarti kau juga tak boleh mengganggu dan mencampuri urusan pribadiku." Kata Magdalena.


Reid mulai kesal dan naik darah, baru kali ini ia juga bingung kenapa ia harus mencari-cari alasan agar Magdalena tidak berdekatan dengan pria itu.


Namun, karena saking pusingnya mencari alasan, dan setiap kalimatnya selalu di bantah Magdalena, tiba-tiba Reid menarik pergelangan tangan Magdalena kemudian menggendongnya, dengan cepat Reid membaringkan Magdalena sekaligus melindungi kepala Magdalena dari benturan ranjang.


"Apa!!! Apa yang kau lakukan!!!" Bentak Magdalena.


Magdalena mengedipkan matanya berulang kali tak mengerti.


"Apa?" Tanya Magdalena.


Kemudian Reid mencium bibir Magdalena, Reid melumaat bibir Magdalena dengan lembut, intens, dan dalam, hingga Magdalena hampir kebabisan nafas.


Magdalena hendak meronta, namun tangannya masih di cengkram dengan kuat oleh Reid.


Kemudian Reid melepaskan ciumannya dan mata mereka saling menatap.


"Aku menyuruhmu menjaga jarak dengan pria bukan karena tanpa alasan, ketika pria memiliki pikiran seperti ini, apa kau dapat menandingi kekuatan pria?"


Magdalena diam.


"Jadi, apakah tindakanmu ini juga ada di dalam pikiranmu? Karena kau juga pria." Tanya Magdalena.


Reid diam, sejujurnya pikiran Reid akhir-akhir ini lebih parah dari apa yang di katakan Magdalena.


"Ku harap kau tidak akan lupa, jika kita harus memberikan cucu pada Pak Tua itu. Apa sekarang waktu yang tepat untuk membuatnya." Kata Reid.


"A... A... Apa!!!" Pekik Magdalena, pikirannya melayang-layang.


"KRRRRRWEEEEEKK....!!!"


Tiba-tiba perut Magdalena berbunyi sangat keras.

__ADS_1


Reid yang mendengar hanya diam.


Namun, saat keheningan masih melanda, kecanggungan pun kian terasa, perut Magdalena berbunyi kembali.


"KUURRRKUUURRKUUURRRRR....!!!"


Kali ini bunyi nya berkali-kali dan sangat panjang.


Pada akhirnya Reid tak bisa menahan tawa.


"Ha... Haha...Hahahah....!!!" Reid duduk di tepi ranjang dan tertawa sembari menutup wajahnya.


"Apanya yang lucu! Seharian aku belum makan karena Belinda, dia belanja sampai berjam-jam dan tidak menawari aku makan dan minum." Kata Magdalena cemberut.


Reid menahan tawa dan mengangguk tanda mengerti, kemudian pria itu mengambil telfon di atas meja, dan menghubungi Deborah.


"Antar makan malam ke kamar, aku akan makan di kamar bersama Magdalena." Perintah Reid dan menutup telfonnya.


"Ayo bangun." Kata Reid.


Magdalena perlahan bangun dan kemudian duduk di kursi bersama Reid, tak berapa lama akhirnya Deborah membawa hidangan makan malam yang komplit. Semua pelayan masing-masing membawa 1 troli.


"Waaaaaa....!!!" Magdalena hampir tak menutup mulutnya dan tak sabar untuk makan.


Dengan cepat Magdalena langsung mengambil makanan dan memakannya dengan tangannya.


"Nona Magdalena..." Deborah ingin mengingatkan jika Magdalena harus makan dengan santun di depan Reid.


Namun, Reid memberikan kode dengan tangannya jika itu tak jadi masalah, kemudian Reid memberikan perintah agar mereka pergi.


Reid tersenyum melihat Magdalena makan dengan lahap.


"Kau tidak makan?" Tanya Magdalena dengan mulut penuh.


Reid mengambil sapu tangan dan membersihkan sisa saus di bibir Magdalena.


"Ternyata kau galak karena lapar. Kini aku tahu kelemahanmu. Sepertinya pada akhirnya kau akan baik-baik saja jika ada makanan." Kata Reid.


Magdalena tertegun melihat Reid yang tersenyum, pria itu begitu tampan, dengan reflek Magdalena menelan, dan membuatnya cegukan.


"UGGK!!! ... UGGKK...!!!"


Reid kemudian dengan cepat menuangkan air putih ke gelas dan memberikannya pada Magdalena.


"Pelan-pelan." Kata Reid membelai punggung Magdalena.


Kemudian Magdalena meminumnya, dan meletakkan di atas meja.


Sejenak Magdalena diam.


"Magdalena." Panggil Reid.


Magdalena pun melihat ke arah Reid.


"Aku minta maaf, untuk masalah tadi pagi." Kata Reid dengan lembut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2