
Malam itu Magdalena tanpa sadar tertidur, dia kelelahan.
Reid keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana panjang.
Melihat Magdalena tertidur dengan posisi meringkuk, membuat Reid menjadi sedikit iba.
"Ini perjalanannya pertama ke luar negeri, dia harus mengalami peristiwa beruntun yang tak mengenakkan." Kata Reid.
Kemudian Reid membenarkan posisi tidur Magdalena dan menyelimutinya. Setelah selesai Reid memandangi wajah cantik Magdalena yang tanpa polesan sedikitpun.
Ujung ibu jari Reid menyentuh bibir bawah Magdalena, dan mengusapnya pelan.
"Aku pasti gila, tapi dia memang sangat cantik." Kata Reid dan pergi mengambil kaos berrwarna hitam.
Setelah Reid memakainya ia pergi ke ruangan Barness lagi.
Tanpa mengetuk pintu Reid langsung masuk.
"BRAAKK...!!!" Reid membuka pintu ruangan Barness dengan kasar.
Segera, dan dengan sikap kikuk, Barness yang menyiapkan obat nya sendiri menyembunyikannya di laci dengan sigap.
"Ada apa..." Kata Barness pura-pura sedang mencari sesuatu di lacinya.
"Magdalena... Dia meminta untuk merahasiakan pernikahan dan statusnya." Kata Reid.
"Kenapa?" Tanya Barness terkejut dan tak mengerti. Pria itu melihat anak laki-lakinya dengan mata yang sudah keriput.
"Tentu saja karena dia masih bersekolah. Apa kata teman-temannya nanti?" Ujar Reid.
"Ohh... Aku melihat di matamu, kau sedang melindungi istrimu. Baiklah aku akan merahasiakan Magdalena adalah istrimu. Kau sedang bersikap sebagai suami yang melindungi istrinya kan." Kata Barness.
"Baguslah. Tapi kau salah, aku melakukan ini karena Magdalena sendiri yang memintanya." Kata Reid canggung.
"Ya anggap saja begitu, meski pun kau sebenarnya juga ingin melindunginya dari mereka yang akan mengolok-olok nya karena menikah muda, belum lagi para penggemar brutal yang menamai diri mereka penggemar garis keras Ceo Reid Forever." Kata Barness.
"Sepertinya kau punya banyak waktu luang, sehingga bisa menguntit dan mencari informasi tentang kehidupanku." Balas Reid.
"Tidak juga, kau lupa benda mati pun dapat berbicara dan mengabarkan semuanya padaku." Kata Barness.
"Pokoknya aku hanya ingin mempringatkanmu, jaga rahasia ini." Kata Reid kemudian keluar dan menutup Pintu.
__ADS_1
Saat itu Belinda yang sedang melintas diam-diam mendengarkan pembicaraan Reid san Barness.
"Jadi? Pernikahan mereka akan di rahasiakan dan di tutupi? Pada akhirnya semua orang tidak akan tahu siapa Magdalena, ini sangat menguntungkanku." Kata Belinda girang.
"Aku sudah tidak sabar menjadi guru etiketnya, apa ya kira-kira yang bisa ku lakukan padanya..." Kata Belinda tersenyum licik.
Reid kembali ke kamar dan ia melihat Magdalena masih tidur dengan lelapnya, namun selimut yang di pakai Magdalena sudah terjatuh di lantai.
"Kau tidur seperti kuda betina." Kata Reid.
Kemudian Reid membenahi selimut Magdalena.
Namun, tiba-tiba Magdalena menarik tubuh Reid dan membuat Reid terjatuh di samping Magdalena.
"Yaah... Bagaimana lagi, jika kau yang memintanya. Mari tidur bersama." Kata Reid memeluk Magdalena.
"Walaupun besok pagi pasti kau akan mengamuk ketika sudah sadar." Lanjut Reid lagi.
Malam berlalu begitu cepat, Reid pun terlelap dalam tidur nya yang tentram, di samping Magdalena entah mengapa Reid merasakan kenyamanan, meski bahu dan dadanya di jadikan bantal oleh Magdalena, meski kaki Magdalena berada di tubuh Reid, namun Reid mulai menyukai itu.
"Tidak buruk." Begitu lah Kata Reid dalam hatinya.
Pagi-pagi sekali, pintu kamar Reid di ketuk oleh Qartel.
Melihat Magdalena masih nyaman memeluk tubuh Reid, pria itu pun mengambil ponsel dan menghubungi Qartel.
"Ada apa? Posisiku tidak memungkinkan untuk bisa keluar dari kamar, Magdalena masih tidur di bahu ku." Kata Reid.
Qartel terbatuk perlahan, pikirannya melayang, apakah Tuannya mulai menjalin hubungan dengan istrinya.
"Tuan, penerbangan akan di majukan, karena anda punya janji temu penting di perusahaan." Kata Qartel.
"Tunggu sampai Magdalena bangun aku akan keluar." Kata Reid.
"Baik Tuan."
Namun, ternyata Magdalena masih betah berada dalam pelukan Reid, ia masih tidur dengan nyenyaknya bahkan seperti bayi yang tanpa dosa.
Tangan Reid perlahan membelai rambut Magdalena yang ada di bahu Reid, pria itu juga membelai pipi mungil Magdalena yang halus, tak ketinggalan ibu jarinya mengusap bibir Magdalena.
"Kau menikmati tidur seperti ini?" Kata Reid dengan lirih.
__ADS_1
Hingga pukul 9 pagi Magdalena masih belum ada tanda-tanda bangun.
Dan di luar semua sedang gaduh, apalagi Joyce dan Belinda ketika sedang sarapan.
Qartel, saat itu memberitahukan pada Barness, ia meminta maaf karena Tuannya tidak dapat ikut bergabung.
"Tuan Besar, maaf Tuan Reid belum bisa keluar dari kamarnya, maka dari itu saya meminta maaf, Tuan Reid tidak dapat bergabung untuk sarapan." Kata Qartel.
"Kenapa?"
"Nona Magdalena belum bangun, tadi pagi saya memberitahukan informasi jika penerbangan akan di majukan karena Tuan Reid memiliki janji temu penting, namun Tuan Reid mengatakan jika akan terbang saat Nona Magdalena sudah bangun."
Diam-diam Barness tersenyum dan tertawa dalam hatinya, kemudian Barness terbatuk.
"Egheemm..!!! Dasar anak tidak tahu diri. Apa lagi yang dia katakan!! Dasar tidak sopan, ada orang tua makan seharusnya dia menemani, malah tidur bersama!!!" Kata Barness, padahal dalam hatinya ia sangat senang, Reid tidur dengan Magdalena.
"Tuan Reid mengatakan jika, dia tidak bisa keluar kamar, karena Nona Magdalena masih tidur di bahunya, dan tidak perlu membawakan sarapan masuk, karena dia tidak ingin ada yang menganggu."
Mendengar itu semakin girang lah Barness dalam hatinya.
Namun, berbeda dengan Belinda, sejak tadi ia telah memotong dan mencincang daging di piringnya hingga seperti gilingan.
Joyce menatap pada Belinda, agar menahan diri, ia memperingatkan Belinda untuk tetap tenang.
Namun, Belinda ingat, bahwa Magdalena meminta untuk merahasiakan pernikahan mereka.
"Jadi untuk apa mereka tidur bersama jika seluruh dunia tidak tahu hubungan mereka. Aku saja yang terlalu kepikiran, toh pada akhirnya dunia akan tahu akulah istri Reid, benar atau tidaknya dunia tak akan pernah bisa menebaknya, karena Magdalena hanya akan berada di belakang panggung, artinya aku lah yang akan tetap tampil di depan bersama Reid. Aku akan menggiring berita, bahwa aku adalah istri Reid." Kata Belinda dalam hatinya.
Setelah makan, Barness kembali ke ruangannya bersama Dalbert, dan ia meminum obat yang telah Dalbert sediakan.
"Aku sangat senang, semoga Magdalena segera hamil." Kata Barness kegirangan sembari meminum obatnya.
"Tapi Tuan Besar, bukankah Nona Magdalena masih terlalu muda?"
Wajah Barness kembali sedih.
"Aku juga tidak ingin mengambil resiko dia hamil muda, tapi... Aku sungguh-sungguh menginginkan Reid memiliki keluarga kecil yang bahagia, aku tidak akan membutuhkan apapun lagi, bahkan jika anak itu lahir semua harta tersembunyi milikku akan ku wariskan pada cucuku." Kata Barness mengusap air matanya yang menetes kecil.
"Tuan... Saya yakin, Nona Magdalena akan berjuang, dia akan menepati janjinya pada anda."
"Kalau begitu, setelah dia bangun, panggil dia lagi kemari, aku harus memastikannya lagi, bahwa dia akan memberikanku cucu, entah itu cucu perempuan atau laki-laki semua sama saja, aku akan menerimanya dengan penuh kasih dan sayang."
__ADS_1
Dalbert menundukkan kepala dengan tersenyum.
Bersambung