
Sesuai permintaan Reid, sarapan pagi di siapkan di kamar.
"Apa makanannya tidak sesuai seleramu, kau belum menyentuh makananmu." Kata Reid tanpa ekspresi dan tetap memakan makananannya.
"Ti... Tidaak... Ini makanan yang sangat bagus." Kata Magdalena.
Setelah sarapan bersama yang penuh kecanggungan di dalam kamar antara Reid dan Magdalena, akhirnya Magdalena dapat bernafas dengan lega, dengan kepergian Reid.
Sepanjang sarapan tak ada pembicaraan khusus, Reid hanya fokus pada makanannya sedangkan Magdalena pun hanya mengaduk makanan dan sesekali menyuapkan makanan ke mulutnya.
Reid pergi ke ruangannya dan Qartel telah sampai di sana menunggu Reid.
"Bagaimana informasinya." Kata Reid dan duduk di kursinya.
"Sudah saya bereskan Tuan, sejujurnya semua orang yang menginginkan Nona Magdalena memang cukup banyak, dan mereka dari kalangan bangsawan. Saya sudah menekan mereka."
"Pastikan mereka tutup mulut atas keberadaan Magdalena, dan asal usul Magdalena, agar tidak semakin banyak yang menginginkannya."
"Sudah Tuan."
"Kerja bagus."
"Tapi Tuan, kenapa kita harus menekan mereka agar tidak membuka mulut tentang Nona Magdalena."
"Nenek Magdalena sebenarnya adalah wanita bangsawan yang memilih keluar dari statusnya, meski neneknya telah meninggalkan kebangsawanannya, namun orang tua dari nenek Magdalena tepatnya adalah buyut Magdalena mewariskan seluruh kekayaannya pada cicitnya yaitu satu-satunya keturunannya yaitu Magdalena, semua orang tidak tahu, karena aku lah orang terakhir yang diajak berbicara, dia memberitahuku dan dia memintaku untuk menjaga warisan itu, aku menyimpan warisan itu di bank internasional London, ketika sesaat sebelum ajal nya datang aku berjanji akan menjaganya." Kata Reid.
"Jadi artinya para pria bangsawan yang mengejar Nona Magdalena..."
"Belum bisa di pastikan, apakah sepertinya mereka tahu latar belakang Magdalena, atau hanya sekedar tertarik pada kecantikan Magdalena. Itulah yang sebenarnya ingin ku ketahui ketika kau menyelidikinya."
"Saya akan melakukan penyelidikan berikutnya Tuan."
"Tok... Tok... Tok...!!" Pintu di ketuk, dan kemudian Deborah masuk.
"Tuan Reid... Tuan Besar menghubungi anda." Kata Deborah.
"Salurkan ke ruanganku." Kata Reid.
"Baik Tuan." Deborah kemudian menunduk dan undur diri, tak berapa lama telpon pun berdering.
Reid mengangkat nya.
Tanpa mengatakan apapun Reid paham ketika ayahnya menghubunginya itu adalah sebuah perintah dan tidak bisa di langgar.
"Ya aku mengerti." Jawab Reid tanpa ekspresi kemudian menutup telponnya.
"Qartel... "
"Ya Tuan..."
"Siapkan penerbangan ke Rusia, akhirnya dia ingin melihat istriku." Kata Reid.
Qartel menelan ludah dan menunduk tanda mengerti.
Setelah kepergian Qartel, Reid pun keluar dari ruangannya dan mencari Magdalena.
"Dimana Magdalena?" Tanya Reid pada Deborah.
"Tuan... Nona ada di belakang, di taman belakang bersama..." Deborah merasa gugup.
Reid mengerti, dengan berlari Reid langsung menuju taman belakang namun kakinya terhenti ketika dia mendengar pembicaraan Joyce dan Magdalena.
"Kau butuh berapa? Akan ku berikan, uang, gedung, kedudukan terhormat? Status? Atau saham dan perusahaan? Namun tinggalkan Reid." Kata Joyce.
__ADS_1
Magdalena masih diam.
"Kau tahu kan Reid adalah kebanggaan keluarga kami, kau tidak akan bisa mengerti bagaimana rumitnya kehidupan bangsawan, kau tidak akan bisa bertahan kau tidak dapat bersaing dengan para wanita bangsawan yang terpandang dan terhormat." Kata Joyce.
"Nyonya..." Tatapan mantab Magdalena tertuju pada Joyce.
"Saya menghargai tawaran anda, tapi maaf sebelumnya, suami saya sudah memberikan semua materi pada saya, yang saya rasa semua itu sudah terlalu besar bagi saya bahkan jika itu di sebut sebagai mas kawin pun rasa-rasanya terlalu mewah. Sejujurnya saya tidak butuh uang. Jadi jika anda memberikan saya uang sebanyak apapun, itu tidak akan mempengaruhi saya."
"Cih... Sombong sekali. Kau memang rakus, kau berniat ingin memiliki semua ini kan. Tatapan matamu itu juga terlalu percaya diri, kau keras kepala, dengar Magdalena jika kau terlalu keras kepala tanpa memiliki rencana, itu namanya bunuh diri, naif, dan juga menyedihkan, Reid akan segera membuangmu setelah tujuannya tercapai." Kata Joyce kemudian ia berdiri.
"Nyonya..." Panggil Magdalena masih dalam posisi duduk.
Joyce berhenti namun belum berbalik.
"Saya dengar anda bukan ibu kandungnya, jika suamiku saja tidak percaya pada anda dan kalian selalu berperang, jika suami saya saja menjaga jarak dengan anda bagaimana saya bisa menerima itu semua, apalagi yang paling penting bagaimana saya bisa percaya pada ucapan anda, lagi pula apa hak anda mengatur kehidupan suami saya, dia tahu apa yang baik bagi tujuannya, jika pun kelak ucapan anda benar dan dia membuang saya karena tujuannya telah tercapai, setidaknya dia bahagia dan aku tidak menyusahkannya."
Joyce memutar wajahnya melihat ke arah Magdalena yang tak gentar dengan mengatakan itu semua.
Karena kesal, Joyce pun pergi meninggalkan Magdalena dengan perasaan emosi.
Setelah memperhatikan dengan diam-diam Reid mengerti.
"Dia cukup tangguh." Kata Reid.
Magdalena kemudian berdiri dan meninggalkan tempat itu, namun ketika ia berbelok ia hampir menabrak Reid.
"BRUUKKK!!!"
"Aaah... Maaf saya tidak tahu anda di sini. Aahh... Maksudku maaf aku tidak tahu kau ada di sini." kata Magdalena mengulangnya.
Saat ini Magdalena sedang belajar membiasakan dirinya untuk berbicara santai dan mesra layaknya pasangan suami istri yang sebenarnya.
Karena gerakan siaga Reid yabg dengan cepat menangkap tubuh Magdalena, dengan wajah seperti biasa, tanpa ekspresi, Magdalena selamat tanpa terjatuh.
"Kita akan terbang ke Rusia untuk bertemu ayahku." Kata Reid.
"Aa.. Aaapa!!!" Teriak Magdalena terkejut.
"Ke... Kenapa mendadak!" Magdalena merasa kepalanya pening dan berputar.
Reid kemudian melepaskan kedua tangannya, seketika Magdalena pun goyah dan terjatuh ke rerumputan.
"BRRUUKKK!!!" Pantat Magdalena jatuh dengan sempurna.
"Asstaagaa!!! Pantatku sakit sekali. Seharusnya kalau dia tak berniat menolong tidak perlu menolong jika hanya akan di jatuhkan lagi." Kesal Magdalena.
"Cepat berkemas!" Teriak Reid sembari tetap berjalan.
Magdalena pun berdiri dan berlari dengan tergesa-gesa.
Setelah sampai di kamar, Magdalena pun berkemas, dan Reid masih hanya duduk di sofa sembari melihat laptopnya.
"Kenapa anda... Eh... Kau tidak berkemas... Suaamiii...." Tanya Magdalena canggung dan masih dengan perasaan kesal.
"Aku ada pakaian di sana lagi pula kita hanya 1 malam paling lama 2 malam di sana. Kemas seperlunya saja." Kata Reid.
"Lalu apa yang harus aku katakan pada ayahmu?" Tanya Magdalena.
"Kau hanya perlu diam dan jangan membuat kekacauan." Kata Reid.
"Apakah aku selalu mengacau?" Tanya Magdalena pada dirinya sendiri.
Reid hanya diam.
__ADS_1
Tak berapa lama pintu di ketuk.
Reid berjalan dan membuka pintu, itu adalah Qartel.
"Tuan, smuanya sudah siap."
Reid melihat ke belakang, saat itu Magdalena masih bersiap-siap.
"Tunggu sebentar lagi." Perintah Reid.
"Baik Tuan." Qartel menunduk dan berjaga di depan kamar.
"Sudah selesai?" Tanya Reid.
"Apakah aku harus bawa ini?" Tanya Magdalena mengangkat beberapa camilan.
"Akan ada banyak camilan di pesawat."
"Benarkah? Apakah ada makaron juga?" Tanya Magdalena.
"Kau sesuka itu dengan makaron?" Kata Reid menutup koper Magdalena dan menaruhnya di lantai lalu menyeretnya.
Magdalena mengikuti Reid.
"Sangat suka..." Kata Magdalena berbisik di belakang Reid.
Reid seketika berhenti di depan pintu, ia juga terbatuk ketika Magdalena berbicara dengan pelan dan hembusan nafasnya begitu hangat di punggung Reid.
"Sangat Suka." Adalah kalimat pendek yang begitu terdengar menggoda menurut Reid, tubuhnya seketika meremang, alalagi Magdalena mengucapkannya dengan berbisik dan nafas panasnya mengenai punggungnya yang kekar.
Reid kemudian berbalik dan melihat ke arah Magdalena.
Magdalena sendiri kebingungan ada apa dengan Reid.
"A... Ada apa? Apa ada sesuatu di wajahku?" Kata Magdalena menekan kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya.
Reid menelan ludahnya hingga jakunnya naik dan turun.
"Mulai sekarang jangan berbicara terlalu dekat." Kata Reid.
"Kenapa?" Tanya Magdalena.
"Kau memang masih anak kecil dan tidak tahu apapun." Kata Reid berbalik dan membuka pintu.
Magdalena membulatkan matanya, dan mengejar Reid.
"Anak kecil? Siapa? Aku sudah 18 tahun, dan satu bulan lagi usiaku sudah 19 tahun, itu adalah usia legal untuk minum alkohol dan usia matang untuk melakukan sesuatu serta memiliki kebebasan bertindak!" Kata Magdalena.
Tiba-tiba Reid berhenti berjalan.
"BRRUUKKK!!!" Magdalena menabrak punggung Reid.
"Aduhh... Kepala ku. Apa punggung mu terbuat dari besi." Kata Magdalena mengelus dahinya.
Koper yang sebelumnya di bawa Reid, kini Qartel telah membawanya pergi.
Reid memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berbalik menatap kepada Magdalena.
"Apa maksudmu dengan minum alkohol dan memiliki kebebasan." Tatapan Reid tajam menembus kedua mata Magdalena.
Saat itu Magdalena tahu, Reid sedang marah.
Bersambung
__ADS_1