
Magdalena mengunyah makanannya dengan lamban, ada perasaan menggelitik ketika ia merasakan suara Reid yang lemah lembut meminta maaf padanya.
Ini bukan hanya tentang harga dirinya, tapi juga menyangkut dengan harga diri Reid. Magdalena tahu, Reid bukan pria yang begitu saja mudah untuk bilang maaf.
Melihat dari tempramen Reid, sifat dan keangkuhan Reid, tidak mungkin Reid akan mengatakan itu, apalagi di lihat dari sikap Reid yang memperlakukan Belinda bahkan wanita-wanita lainnya dengan sangat kasar dan tanpa meminta maaf, bahkan tatapan Reid begitu ketus pada mereka membuat Magdalena memiliki sedikit rasa luluh.
"Aku juga minta maaf, mungkin kau benar, aku sedang lapar jadi lebih sensitif." Kata Magdalena mengambil makanan lagi dan melahapnya pelan.
"Jadi kita sudah baikan?" Tanya Reid.
Magdalena melihat Reid dan mengangguk pelan.
"Kalau begitu apa kita bisa bahas yang lainnya?"
Magdalena melihat ke arah Reid dengan penuh pertanyaan.
"Tentang perjanjian kita untuk memberikan cucu pada pak tua itu." Kata Reid.
Magdalena mengambil gelas air minumnya dan meneguk pelan.
"Jadi apa yang akan kita lakukan?" Tanya Magdalena.
"Apa lagi? Kita harus memberikannya cucu. Itu syaratku agar bisa memiliki semua hartanya." Kata Reid.
"Kita mengadopsinya?" Tanya Magdalena.
Reid menggeleng pelan.
"Kita.. Menyewa rahim wanita lain? Lalu aku pura-pura mengandung?" Kata Magdalena berharap.
Reid lagi-lagi menggelengkan kepala.
Magdalena menggigit bibir bawahnya.
"Kau memghamili orang lain dan aku yang akan pura-pura hamil?"
Reid membuang nafasnya kesal.
"Apa kau siap? Jika kita lakukan saat usia mu 19 tahun?"
Magdalena tertegun, syock berat, mematung dan kemudian berkedip-kedip berulang kali, lalu ia mulai menghitung, dan hanya tinggal seminggu lagi adalah hari ulang tahunnya.
"Apa kau serius?" Tanya Mahdalena.
__ADS_1
Reid menatap Magdalena mantap dengan tanpa berkedip.
Magdalena membuang nafas, bahwa itu keputusan Reid. Magdalena pasti tak bisa menolak.
"Tapi sebelum itu, saat di depan Belinda kita harus benar-benar menunjukkan bahwa kita adalah pasangan yang saling mencintai, karena beberapa hari ini ada beberapa penguntit ada di sekitar ku. Aku bisa saja mengusir dan melenyapkannya, hanya saja, aku berfikir jika penguntit yang di perintah Belinda bisa memberikan informasi yang bagus tentang kita dan menguntungkan kita."
"Maksudnya dengan memberikan informasi yang bagus dan menguntungkan kita?"
"Dengan kata lain adalah, jika Belinda dapat membuktikan kita adalah pasangan palsu, maka aku harus menikah dengannya, dan Joyce akan semakin memiliki posisi kuat. Pak tua itu juga akan tetap menuntutku memiliki anak dengan Belinda. Jadi, aku meminta mu untuk bermesraan dengan ku saat ada penguntit itu."
"Maksudnya adalah, kita harus bersikap seperti saling mencintai?"
"Ya." Kata Reid.
Magdalena diam. Sekali lagi, ia mengingat tentang perjanjian nya dengan Tuan Barness, Magdalena menyetujui perjanjian tentang ia harus memberikan cucu pada Tuan Barness karena Tuan Barness saat itu mengaku sedang sakit.
"Apakah benar, waktu Tuan Barness tidak lama lagi? Apa benar Tuan Barness sakit parah? Tapi, saat itu obat-obatannya begitu banyak tidak mungkin jika dia berbohong. Apakah aku harus memberitahu Reid segalanya, bahwa sebenarnya Tuan Barness sangat memikirkan dan peduli padanya, tentang kehidupan Reid yang sendirian? Apakah aku juga harus katakan pada Reid jika Tuan Barness sedang sakit parah? Namun, apa yang akan Reid lakukan? Apakah dia akan marah atau kesal, atau mungkin justru akan membiarkan Tuan Barness karena rasa kebenciannya pada ayahnya dan justru menunggu agar Tuan Barness meninggal?" Pikiran Magdalena di penuhi dengan kemungkinan-kemungkinan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Namun, sebelum Magdalena menjawabnya, sebuah ketukan yang sedikit buru-buru terdengar.
Reid berdiri dan membuka pintu, dan itu adalah Qartel.
"Tuan Reid... Ada masalah." Kata Qartel.
"Tuan Tamazaki akhirnya menghubungi, dan akan meneken kontrak dengan anda untuk proyek besar anda Tuan, dalam waktu 3 hari dia akan datang ke Negara ini untuk jumpa pers dengan anda dan mengukuhkan kerja sama." Kata Reid.
"Itu berita besar yang bagus, dimana masalahnya."
"Masalahnya adalah... Tuan Tamazaki membawa istrinya, dan dia berharap anda juga membawa pasangan anda..." Kata Qartel melihat ke arah Magdalena.
Reid melirik juga ke arah Magdalena.
"Kita bicara di ruanganku." Perintah Reid.
Kemudian Qartel dan Reid pergi ke ruang kerja, mereka mendiskusikannya dengan hati-hati.
"Jadi bagaimana." Tanya Reid.
"Tuan Tamazaki setuju bekerja sama dengan anda karena anda mengatakan sudah menikah, Tuan Tamazaki hanya selalu mau bekerja sama dengan para laki-laki yang sudah menikah dan setia dengan pasangannya. Tapi, masalahnya adalah Tuan Tamazaki mau membuat jumpa pers, bagaimana dengan Nona Magdalena, bukankah Nona Magdalena ingin menyembunyikan pernikahan ini." Kata Qartel.
Reid menekan pelipisnya, dan berfikir serius, dia memutar otaknya.
"Tuan Reid, kita tidak mungkin menolak ajakan jumpa pers Tuan Tamazaki, selain itu, jumpa pers sebagai tanda pengukuhan kerjsama antar kedua belah pihak." Kata Qartel.
__ADS_1
"Sebenarnya aku juga sedikit malas wajahku di kenali banyak orang dengan adanya foto-foto ku tersebar di majalah atau surat kabar bisnis, tapi itu adalah syaratnya." Kata Reid.
"Lalu apa yang harus kita lakukan." Tanya Qartel.
"Aku akan menanyakan ini pada Magdalena." Kata Reid.
"Baik Tuan."
Reid pun naik ke atas menuju kamarnya, saat itu Magdalena sudah selesai makan dan pelayan sudah membersihkannya.
Magdalena duduk di meja dengan beberapa tumpuk buku di hadapannya, tangannya pun sibuk membolak-balik halaman buku yang sedang ia baca. Gadis itu memakai headset di kedua telinganya.
Reid kemudian menarik kursi, membuat kaki kursi itu berderit, namun Magdalena melihat ke arah Reid, karena ia tahu Reid akan duduk di sampingnya.
"Ada yang harus ku bicarakan." Kata Reid.
"Apa?" Tanya Magdalena.
Reid melepaskan Headset Magdalena dan menaruhnya di meja, Magdalena melihat gerakan tangan Reid yang lembut.
"Ada yang ingin ku bicarakan."
"Oke."
"Sebenarnya ini sebuah permintaan." Kata Reid.
"Langsung saja, jangan berputar-putar." Pinta Magdalena.
"Begini, aku sedang membuat proyek besar, dan ini melibatkan seseorang yang memiliki kekuasaan di Japan, tapi dia adalah pria yang sangat romantis dan setia dengan istrinya, dia hanya mau bekerja sama dengan orang yang sudah menikah dan setia dengan istrinya."
"Lalu?" Tanya Magdalena.
"Lalu, sebenarnya pernikahan kita adalah alasannya, selain untuk mendapatkan warisan pak tua itu, sebenarnya ada alasan satu lagi aku menikahimu. Alasan itu adalah karena, proyek besar ku ini yang harus bekerja sama dengan pria melankolis Tamazaki, dan proyekku harus terlaksana dengan sukses, tapi tidak ku sangka ternyata Tamazaki ingin bertemu denganmu." Kata Reid.
" Tidak masalah, asalkan kita ada di ruangan private, dan dia tidak membocorkan identitasku."
"Masalahnya adalah, dia ingin melakukan jumpa pers dengan kita, jadi kita berempat, dia dengan istrinya dan aku dengan istriku." Kata Reid menelan ludahnya.
"Apa!!! Aku tidak mau!!!" Magdalena memekik.
Reid tahu, Magdalena tak akan setuju.
"Aku masih 18 Tahun dan apa kata mereka saat kau menikah dengan ku, atau saat mereka memandangku. Aku sudah tersiksa dengan gosip bahwa aku adalah simpanan pria tua bejat yang sakit-sakitan sehingga aku bisa masuk di Universitas karena koneksi pria simpanan ku itu, sekarang kau ingin aku menunjukkan bahwa aku adalah istrimu di depan lautan manusia, di depan penduduk lebih dari 10juta jiwa di Negara ini?! Lagipula, kau sudah sepakat untuk merasahasiakan pernikahan ini."
__ADS_1
Bersambung