
Alan Walton dan Magdalena sudah berdiri di hadapan Prof. Judson.
Sedangkan Prof. Judson sendiri sedang sibuk mencari beberapa berkas.
"Nona Magdalena ini hari pertamamu kan?" Kata Prof. Judson.
"Be... Benar Profesor. Maafkan saya, karena saya terlambat di hari pertama saya kuliah." Kata Magdalena gugup dan takut.
"Aku tidak menerima alasan apapun, yang jelas setiap siswa yang terlambat di jam kuliahku mereka akan mendapatkan hukuman, aku tidak peduli kau anak dari siapa, dan sebesar apa sumbangan uang yang telah di berikan pada Universitas ini, tetap saja aku tidak bisa mentolerir siapapun yang terlambat di jam kelas ku." Kata Profesor itu dan menemukan berkasnya, kemudian duduk melepaskan kaca mata.
"Maafkan saya Profesor Judson." Kata Magdalena lagi dengan menundukkan kepala dan meremas buku-buku yang ia bawa.
Prof. Judson diam dan melihat ke arah Alan.
"Lalu bagaimana denganmu, kau tidak pernah sekalipun melewatkan pelajaran ku." Kata Prof. Judson.
Alan diam hingga cukup lama, mengetahui pria di sampingnya hanya diam, Magdalena kemudian mendongak dan melirik Alan.
"Apa alasanmu terlambat." Tanya Prof. Judson.
"Saya tidak memiliki alasan apapun." Kata Alan menjawab.
"Baiklah." Prof. Judson mengerti dan mengambil berkas yang tadi ia cari lalu meletakkannya di ujung mejanya.
"Sebagai hukuman keterlambatan kalian, maka kalian harus mengerjakan pekerjaan sukarelawan di sebuah perusahaan, pergilah ke sana, itu berkasnya, tentunya kalian harus membuat makalah apa saja yang telah kalian kerjakan dan pelajari di perusahaan tersebut selama 1 bulan."
Magdalena melongo dengan tugas atau hukuman pertamanya yang sangat berat, bahkan dia belum mengerti apapun tentang jurusan bisnis yang sedang dia ambil.
"Sa... Satu bulan?" Kata Magdalena lirih dan gemetar.
Alan dan Magdalena mengambil berkas mereka masing-masing satu.
"Isi itu dan serahkan pada personalia perusahaan." Kata Prof. Judson.
"Jaman sekarang masih memakai cara manual? Bukankah ada surel?" Tanya Alan.
"Perusahaan itu tidak menerima surel dari pegawai magang dan semacamnya, kalian sukarelawan dan harus datang dengan sopan, menemui atasan langsung melalui personalia perusahaan. Jika tidak ada lagi pertanyaan kalian bisa meninggalkan ruangan ini." Perintah Prof. Judson.
Kemudian Alan dan Magdalena keluar.
"Besok mau pergi bersama?" Kata Alan.
"Ya?"
"Kau tidak mau ke perusahaan ini bersama?" Alan mengangkat berkasnya.
"Aku mau... Aku mau... Mari kita ke perusahaan bersama." Kata Magdalena.
"Tapi...." Magdalena melanjutkan.
Alan berjalan dan Magdalena mengikutinya.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti bagaimana cara membuat makalah, bisa kah kau mengajariku?" Tanya Magdalena masih berjalan pelan di belakang Alan.
"Kita akan membuatnya bersama-sama juga jika kau mau."
"Benarkah? Apa kau mau mengajariku?" Tanya Magdalena memastikan.
"Ya kalau itu yang kau inginkan juga." Kata Alan.
"Syukurlah. Tapi apa benar yang kau katakan tadi?" Magdalena maju dengan langkah cepat dan memandangi Alan.
Membuat Alan secara tiba-tiba menghentikan langkah kakinya, dan menjadi canggung.
Alan pun kemudian tersenyum kecil.
"Menggemaskan." Batin Alan.
"Aku akan mengajarimu. Mari selesaikan hukumannya bersama-sama dan membuat makalahnya juga bersama-sama." Ajak Alan.
"Terimakasih, aku tidak tahu bagaimana jika aku terlambat sendirian dan membuat makalah sendiri juga, pasti aku akan pusing tujuh keliling." Kata Magdalena sedih.
Kemudian Magdalena dan Alan kembali berjalan.
"Hari ini kau masih ada kuliah?" Tanya Alan.
Magdalena menggeleng.
"Kau mau pulang?" Tanya Alan.
Magdalena diam sejenak.
"Aku bingung harus belajar yang mana dulu." Kata Magdalena.
"Ayo... Ku ajari." Kata Alan menarik tangan Magdalena dan mengajaknya ke perpustakaan.
Di tempat lain, Huges, Ketua Dewan Universitas A, mendatangi Prof. Judson dan sedang kelimpungan karena lagi-lagi Prof. Judson tidak sejalan dengan nya.
"Astaga... Bagaimana anda bisa memberikan hukuman yang sangat berat bagi Nona Magdalena dan Tuan Alan Walton, mereka menyumbang banyak uang untuk Universitas ini Prof. Judson."
"Jika semua di perlakukan istimewa hanya karena keluarga mereka yang memiliki status sosial tinggi dan uang yang mereka miliki lebih banyak dari yang lain, maka dunia ini akan hancur. Aku kanya mengajarkan tentang kedisiplinan waktu pada mereka berdua." Kata Prof. Judson.
"Hah... Anda selalu saja seperti ini, semoga keluarga mereka tidak menuntut Universitas ini. Astaga... Aku sangat pusing."
"Tidak akan... Aku kenal Tuan Barness, dia adalah pria yang bijaksana." Kata Prof. Judson.
"Terserah anda, aku tidak mau bertanggung jawab." Kata Huges Ketua Dewan Universitas A dan pergi meninggalkan ruangan itu.
******
Hingga sore hari, Reid baru saja sampai di mansion, namun ia tak mendengar kabar kepulangan Magdalena.
"Apa Magdalena belum pulang?" Tanya Reid saat baru saja masuk ke dalam mansion.
__ADS_1
"Belum Tuan. Tapi, Tuan.. Ada yang harus saya sampaikan..." Jawab Deborah dengan wajah tegang.
Namun, Reid tidak mendengar dan langsung memberi perintah pada Qartel.
"Qartel, kita pergi mencari...."
Sebelum Reid melangkah, Magdalena pun sampai di mansion.
Magdalena masuk dan melihat Reid dengan wajah tegang.
"Ada apa?" Tanya Magdalena keheranan.
"Kau darimana? Kenapa tidak langsung pulang." Kata Reid.
"Aku ke perpustakaan dan belajar di sana, karena aku tertinggal banyak, jadi mulai sekarang setiap ada waktu luang aku akan ke perpustakaan kampus." Kata Magdalena.
"Tidak perlu. Katakan saja buku apa yang kau perlukan dan aku akan membelikannya." Kata Reid sembari pergi berjalan akan menuju ke atas.
"Tapi... Aku tidak tahu harus memakai buku yang mana..." Kata Magdalena.
"Aku akan tanyakan pada profesor mu nanti." Kata Reid datar.
Belum sempat Magdalena menjawab, tubuhnya sudah menubruk punggung Reid.
"BUUGHH!!!"
"Kenapa berhenti tiba-tiba!" Pekik Magdalena mengelus dahinya.
"Sedang apa kau di sini." Kata Reid masih berdiri.
Pria itu melihat seorang wanita yang duduk di sofa ruang tengah dengan beberapa koper ada di dekatnya.
"Tentu saja aku datang memenuhi tugasku, bukankah kau dengar sendiri bahwa aku akan menjadi guru etiket untuk Magdalena karena sebentar lagi ulang tahun Tuan Barness, dan tentu saja karena tante Joyce akan murka jika Magdalena menghancurkan pesta Tuan Barness. Kali ini Tante Joyce yang mempersiapkan pestanya." Kata Belinda dengan tenang meminum tehnya.
"Itu yang ingin saya sampaikan tadi Tuan, Nona Belinda ada di sini." Kata Deborah.
"Aku akan mencarikan guru sendiri untuk Magdalena." Kata Reid.
"Kau akan melanggar perintah ayahmu? Aku adalah guru etiket terbaik di Rusia, dan ayahmu sudah mempercayakannya padaku."
"Pria tua bangka sialan." Kata Reid menggeram.
"Jadi, dimana kamarku?" Tanya Belinda.
"Kau tidak perlu tinggal di sini." Kata Reid.
"Aku juga memiliki tugas penting, akan mengungkap sandiwara kalian, bahwa kalian berpura-pura menjadi suami-istri. Aku sudah mendapatkan persetujuan itu juga dari Tuan Barness, dan jika pernikahan kalian benar-benar palsu, bukankah Tuan Barness sudah mengatakannya dengan jelas jika kau harus menikah dengan ku Reid." Belinda berdiri sembari menyedekapkan tangan.
"Terserah apa mau mu, tapi jangan pernah seenaknya menginjakkan kaki di sini, apalagi berkeliaran seperti anjing, ada daerah-daerah yang tidak boleh kau datangi, Deborah akan mengawasimu. Khususnya peringatan paling keras adalah jangan pernah masuk ke ruangan kerjaku dan tempat privasi milik kami berdua." Reid menggandeng tangan Magdalena dan pergi meninggalkan Belinda.
Melihat kepergian Reid yang menggandeng tangan Magdalena, membuat Belinda merasa sangat kesal.
__ADS_1
"Lihat saja, aku akan membuat gadis kotor itu pergi dengan sendirinya dari tempat ini." Kata Belinda dengan wajah masam.
Bersambung