Janda Kembang Paman CEO

Janda Kembang Paman CEO
EPISODE 25


__ADS_3

Siang hari yang terik, selama jam kuliah Magdalena tidak dapat konsentrasi dengan benar, bagaimana tidak, saat pekerjaannya menjadi karyawan sukarela justru membuatnya semakin frustasi.


Sepanjang pagi Magdalena hanya di suruh menggambar dan duduk di depan Reid, ada meja kecil khusus untuk Daisy ada di depan meja Reid.


Meja itu sengaja di taruh di tempat dimana Reid bisa melihat Magdalena kapan saja tanpa harus menengok, bahkan hanya dengan lirikan mata.


"Astaga... Apakah menjadi sekretaris pribadi sama seperti menjadi siswa TK?" Kata Magdalena.


Tak berapa lama, Alan datang menghampiri mejanya.


"Kau tidak pulang?" Tanya Alan.


Magdalena mendongak kan kepala.


"Aku menunggu mu di halte tadi pagi untuk berangkat ke perusahaan bersama." Kata Alan.


"Maaf Alan, aku harus berangkat sendiri karena ada urusan dulu."


"Lalu, pulangnya? Aku juga menunggu mu di depan perusahaan." Kata Alan.


"Maaf juga Alan, aku tidak tahu, karena ada tugas di luar dan aku langsung di antar ke sini." Kata Magdalena.


"Oleh Tuan Reid?" Tanya Alan.


"Siapa lagi... Dia dan supirnya." Kata Magdalena menambahkan dengan malas.


Kemudian Magdalena berdiri dengan malas dan memakai tasnya.


"Kau mau pulang sekarang?" Tanya Reid.


"Yaa... Mood ku sedang kacau, aku merasa aneh menjadi pegawai sukarela yang bertugas menjadi sekretaris pribadi."


"Memangnya ada apa? Apa Tuan Reid menganggumu?"


"Tidaak... Sampai ketemu besok pagi Alan." Magdalena melambai dengan malas, ia sedang tak ingin bercerita.


Alan hanya memandang denga penuh pertanyaan, melalui punggung Magdalena yang perlahan menghilang.


Ketika Magdalena sampai di depan kampusnya, ia melihat seseorang yang sedang ingin ia hindari, karena moodnya sedang tak baik.


"Astagaa... Apakah ini hari sialku." Kata Magdalena.


Dengan menutupi wajahnya menggundakan tumpukan buku, Magdalena berjalan pelan.


Namun, wanita itu menarik krah baju belakang Magdalena, dengan menjimpitnya.


"Heii... Kau tidak sopan sekali!" Kata Belinda kesal.


Magdalena tersenyum canggung.


"Ada apa kau menunggu di sini?" Tanya Magdalena.


"Tentu saja menunggumu!" Kata Belinda.


"Untuk apa menungguku?"


"Ayo ikut." Kata Belinda.


"Kemana?"Tanya Magdalena lagi.


"Ikut saja."


Magdalena akhirnya tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa menurut pada Belinda dan mengekor, kemudian masuk ke dalam mobil.


Setelah perjalanan panjang, ternyata Belinda berhenti di depan salon mewah.


"Ayo keluar."


"A... Aku tidak butuh ke salon."


"Idiihh... Bukan kau... Tapi aku!" Kata Belinda.


"Jika itu kau, kenapa, harus membawaku." Kata Magdalena.

__ADS_1


"Kau bacakan ini." Belinda menaruh beberapa berkas yang di jadikan satu ke dada Magdalena dengan kasar.


Magdalena menerima berkas itu dengan gelagapan di depan dadanya.


"Apaa ini..."


"Ayo keluar dan bacakan itu untukku." Kata Belinda.


Kemudian Magdalena mengekor lagi sembari membawa berkas itu.


Setelah bersiap, Magdalena siap melakukan treathment.


Saat itu Belinda sedang di pijat, dan matanya terpejam, beberapa therapis sedang memijat dengab lembut dan merawat seluruh tubuh Belinda.


"Kau bisu! Bacakan!" Perintah Belinda.


Kemudian Magadelana, mulai membacanya, ternyata itu adalah hal yang boleh dan tidak boleh di lakukan Belinda di depan tamu Reid, yaitu Tamazaki.


"Kau pingsan ya! Keras kan suaramu!" Teriak Belinda.


Magdalena kemudian semakin bersuara keras.


Cukup banyak yang di baca Magdalena, dan ia mulai merasa lemas, ia haus dan letih, di tambah perutnya lapar.


Magdalena kemudian melihat Belinda, ternyata Belinda tidur dalam keadaan di pijit.


Magdalena mendesahkan nafasnya, dan menutup wajahnya menggunakan berkas itu.


"Ya... Tuhan..."


Setelah beberapa jam, akhirnya perawatan Belinda selesai, ia membangunkan Magdalena yang tertidur dengan menendangnya.


"Hei...!!!" Teriak Belinda.


Tentu saja Magdalena terkejut dan gelagapan.


"Yaa... Tuan Tamazaki... Semoga hari anda menyenangkan, dan menikmati semua jamuan kami." Magdalena sontak melontarkan kalimat sapaan untuk Tuan Tamazaki.


"Haha... Hahhahah....Hahhahah....!!!" Belinda tertawa terbahak-bahak hingga membuatnya menangis.


Magdalena hanya diam dan merasa sangat sedih, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan itu panggilan dari Reid.


"Halo..."


"Dimana?"


"Sedang di luar." Kata Magdalena.


"Cepat pulang." Perintah Reid.


Kemudian Reid menutup panggilannya sepihak, Magdalena pun melihat ponselnya dan manyun.


"Dia selalu memerintah seenaknya." Kata Magdalena nyengir.


"Siapa... Reid ya." Kata Belinda.


"Ya..."


"Ya sudah ayo pulang." Ajak Belinda.


Kemudian Belinda pergi lebih dulu, dan melupakan berkas dokumen yang harus ia pelajari.


Sedangkan Magdalena yang membawa berkas itu pun menaruh nya di atas bukunya.


Saat itu Belinda hendak membayar, Magdalena pun mengeluarkan Black Card miliknya dan akan memberikannya pada Kasir. Magdalena ingat, saat Belinda belanja kemarin, ia memakai Black Card miliknya, jadi Magdalena berinisiatif.


"Kau pikir aku tak punya!" Kata Belinda.


Terlihat Belinda mengeluarkan Black Card nya sendiri lalu menyerahkannya pada kasir.


"Itu juga dari Reid, katanya aku di suruh bersenang-senang dan berbelanja, dia menyuruhku melakukan apa saja dengan Black Card itu." Kata Magdalena memanasi Magdalena.


Magdalena pun tak menggubris dan memasukkan lagi Black Card nya.

__ADS_1


Setelah urusan membayar selesai, Belinda dan Magdalena akhirnya menuju Mansion. Belinda menginjak gas pelan, mobilnya melaju pergi menuju Mansion dengan kecepatan normal, Magdalena tenggelam dalam pikirannya yang sedikit kalut, karena Belinda tidak benar-benar mempelajari berkas yang di berikan.


"Tapi... Apa boleh aku bertanya?"


"Ya." Kata Belinda acuh sembari masih menyetir.


"Apakah itu Qartel yang membuat berkas larangan dan sikap yang harus di lakukan di depan Tuan Tamazaki."


"Ohh... Tentu saja Reid, dia memberikannya sendiri padaku, katanya aku harus memerankan dengan se nyata dan se luwes mungkin jangan sampai ada yang mengetahui jika kami palsu." Kata Belinda.


"Aah... Begitu..." Kata Magdalena.


"Kau tidak cemburu?" Tanya Belinda.


"Tidak." Jawab Magdalena singkat.


"Dasar, kau itu bodoh, aneh sekali kau tidak cemburu, apakah pernikahan kalian benar-benar palsu. Tenang saja sebentar lagi pasti aku akan mengungkapkan kedokmu pada Tuan Barness."


"Pernikahan kami tidak palsu, kami terdaftar di catatan resmi." Kata Magdalena.


"Maksudku bukan pernikahannya, tapi hubungan kalian, bukan kah kalian hanya sekedar menikah tanpa saling menyentuh, kalian bahkan tak saling mencintai."


Magdalena hanya diam.


Sedangkan di mansion, Reid duduk dikursi kebesarannya, di sana juga ada Qartel di depannya.


"Kau sudah membuat daftarvapa saja yang boleh dan tak boleh di lakukan di depan Tamazaki?" Tanya Reid.


"Sudah Tuan." Jawab Qartel.


"Apa kau juga sudah memberikan Belinda berkasnya dan Black Card nya." Kata Reid.


"Sudah tuan."


Tak berapa lama ada notifikasi masuk dari Black Card yang ia berikan pada Belinda.


"Tentu saja. Belanja dan salon." Kata Reid muak.


"Lalu berkasnya? Apakah kau sudah memberitahunya harus cepat di pelajari dan jangan pernah ada kesalahan." Kata Reid.


"Sudah juga Tuan."


Tak berapa lama terdengar suara mobil datang, itu adalah mobil Belinda.


Saat itu Magdalena hendak keluar lebih dulu, namun Belinda menahannya.


"Lancang!" Kata Belinda.


"Ada apa lagi." Kata Magdalena lelah.


"Berikan berkasnya, apa kau berfikir ingin memperlihatkannya pada Reid, bahwa kau yang membacakannya untukku." Kata Belinda.


Magdalena menarik nafasnya panjang, dan kemudian mengambil berkas itu dari tumpukan buku-bukunya.


Magdalena menaruhnya agak kasar di dekat stir kemudian Belinda.


"Punyamu!" Kata Magdalena kesal sembari keluar.


"Kau cari gara-gara ya!!!" Belinda menyusul keluar dengan membawa berkas itu lalu membuat berkas itu menjadi gulungan.


Dengan cepat Belinda memukul kepala Magdalena dengan berkas yang sedikit tebal itu.


"Kau lancang sekali ya!! Kau harus sadar aku lah sekarang nyonya di sini!!" Teriak Belinda pada Magdalena.


Magdalena kesakitan dan mengelus kepalanya.


"Kau nyonya siapa!" Sebuah suara yang tak asing dan dikenal oleh telinga siapapun menggema dingin.


Belinda melihat ke arah Mansion, di sana sudah berdiri seorang pria tinggi yang dingin di ujung pintu Mansion yang terbuka lebar.


Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.


"Ulangi lagi Belinda. Kau Nyonya dari siapa!" Kata Reid mempertegas pertanyaannya lagi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2