
Pagi hari, sebelum matahari beranjak, Reid meraba sekelilingnya, ranjangnya terasa kosong dan ternyata Magdalena tidak ada di sampingnya.
Reid kemudian duduk dan beranjak pergi, ia masuk ke ruangan lain lalu mengetuk pintu kamar mandi.
"Kau di sana?" Tanya Reid.
"Ya... Aku sedang mandi." Teriak Magdalena.
Reid kemudian merasa, ada sesuatu yang hampa, biasanya ia bangun lebih dulu dan melihat Magdalena masih tidur di bahunya dengan pulas dan nyenyak.
"Jangan lama-lama, aku juga harus mandi." Kata Reid.
"Ada kamar mandi lain kan!" Teriak Magdalena.
"Kalau begitu aku akan masuk saja." Ancam Reid.
"Hah!!! Baik-baik aku akan segera keluar!!" Kata Magdalena gelagapan.
Setelah beberapa menit, Reid berdiri dan menunggu dengan menyedekapkan tangan, Magdalena pun keluar.
"Kenapa kau selalu menakutiku!" Kata Magdalena.
"Kenapa? Kita suami istri, lagi pula kau lupa ya, dalam waktu satu tahun kau harus hamil, kau sudah menandatangani perjanjian itu dengan pak tua itu." Kata Reid.
Wajah Magdalena merah, dan ia meremas handuk yang menutupi dadanya.
Reid melangkah pelan dan berhenti di samping Magdalena.
"Bersiaplah." Bisik Reid.
"Bersiap untuk apa?" Tanya Magdalena.
"Kau pikir saja sendiri." Reid kemudian pergi ke kamar mandi.
Magdalena gemetar dan dengan cepat ia mencari pakaian.
"Apa-apa an dia... Kenapa dia selalu membuatku ketakutan! Kenapa juga aku harus berjanji pada Tuan Barness untuk memberikannya cucu!"
Magdalena memakai pakaian casual dan bersiap diri untuk pergi ke perusahaan.
Seteleh beberapa lama, Magdalena hendak berangkat, Reid keluar dari kamar mandi seperti biasa, dia hanya memakai celana dan tanpa baju, dengan sibuk mengeringkan rambutnya yang basah.
"Kau yakin tidak mau ku antar ke perusahaan Armondite?" Tanya Reid.
"Ti... Tidak... Perlu..." Magdalena menjawab dengan beberapa kali melirik dada bidang Reid yang kekar.
Magdalena pun tanpa sadar menelan ludahnya.
Reid maju dan membuat tubuh mereka saling dekat.
"Ap... Apa..."
Saat itu wajah Magdalena menjadi sangat merah, apalagi wajahnya tepat di depan dada bidang Reid yang telanjaang.
Ternyata saat itu Reid mengambil dompetnya yang ada di atas meja marmer tepat di belakang Magdalena.
Lalu, Reid mengeluarkan sebuah black Card dan di berikan pada Magdalena.
__ADS_1
"Pakai ini." Kata Reid.
"Apa?"
"Kau bisa membeli buku yang kau mau, tapi setelah kuliah mu selesai kau harus langsung pulang, jangan pergi kemana-mana." Kata Reid.
"Tapi... Sudah ku bilang aku harus ke perpustakaan karena sudah ada yang akan mengajariku..."
Tanpa mendengarkan Magdalena, Reid maju lagi mengambil sebuah paper bag berwarna pink, dan tentu saja kembali membuat jantung Magdalena berdegup tak karuan.
Reid pun memberikan paper bag pink itu pada Magdalena.
"Kau hanya tinggal pakai saja, nomor dan segala macamnya sudah di registrasi."
Magdalena mengeluarkan sesuatu dari dalam paper bag berwarna pink, dan itu adalah sebuah ponsel mewah keluaran pertama.
Magdalena terkejut dan juga bingung, dia jadi canggung.
Reid lalu menarik pergelangan tangan Magdalena menuju kamar, kemudian Reid mengambil ponsel miliknya dan menekan angka, ponsel milik Magdalena bergetar.
Magdalena melihatnya.
"Simpan nomorku, dengan panggilan cepat, jadi kau hanya cukup menekan satu angka, ketika keadaan darurat kau tidak perlu mencari nomorku dengan kebingungan."
"Tapi... Aku tidak butuh ponsel."
"Kau akan butuh nanti, aku juga butuh untuk menghubungimu kemana, dimana, dan sedang apa lalu bersama siapa dirimu." Kata Reid.
"Baiklah terimakasih."
Magdalena mengangguk.
Namun ketika Magdalena sudah keluar dan menuju ruang makan, ternyata di sana Belinda sudah lebih dulu duduk.
Magdalena pun duduk, di depan Belinda.
"Hari ini aku akan mengajarimu tentang Etiket, dan table manner, kita harus ke suatu tempat untuk membeli sesuatu." Kata Belinda dengan angkuh.
"Hari ini aku senggang pada sore hari." Kata Magdalena.
"Terserah." Kata Belinda.
Tak berapa lama Reid sudah siap, ia duduk di kursinya. Suasana hatinya tiba-tiba menjadi buruk.
"Belinda kau tidak harus sarapan di sini bersama kami." Kata Reid.
"Tapi aku mau sarapan di sini." Kata Belinda.
"Deborah, mulai besok sediakan sarapan untukku dan Magdalena di kamar kami. Aku menjadi kehilangan selera makan saat ada orang lain duduk di sekitar kami." Kata Reid membuang sapu tangannya di atas meja tidak jadi makan.
"Reid!" Teriak Belinda sembari berdiri dari tempat duduknya.
"Aku tidak akan menyerah!" Kata Belinda.
"Kau mau tetap di sini atau pergi? Magdalena?" Kata Reid mengacuhkan Belinda.
Kemudian Magdalena pergi mengekor di belakang Reid.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam mobil, dan mobil pun berangkat meninggalkan Mansion.
"Turunkan aku di depan sana, aku akan naik bis, aku sudah berjanji dengan temanku." Kata Magdalena.
"Qartel berhenti di depan." Kata Reid.
"Baik Tuan."
Kemudian mobil pun berhenti.
"Terimakasih."
Magdalena kemudian turun.
Reid masih diam melihat Magdalena berjalan menuju shelter Bus.
Namun ketika mobil bergerak dan melaju pelan melewati shelter, Reid melihat seorang pemuda tampan datang menghampiri Magdalena.
Magdalena pun tersenyum dan pria itu tersenyum.
Reid melihat melalui kaca jendela mobil yang berjalan pelan melewati Magdalena.
Setelah mobil melaju, Reid menengok ke belakang, ia melihat Magdalena dan si pemuda itu masuk secara bersamaan ke dalam bis.
"Jadi itu teman yang dia bilang semalam." Kata Reid dengan dingin.
"Qartel, suruh bagian personalia untuk menyerahkan para pegawai sukarela padaku, suruh mereka menemuiku sebelum mereka magang di kantor." Kata Reid.
"Ya? Ada Pegawai sukarela?" Tanya Qartel.
"Hukuman karena terlambat masuk jam kuliah Prof. Judson. Mereka akan menjadi pegawai sukarela di perusahaan Armondite selama satu bulan tanpa di berikan gaji, dan mereka akan membuat makalah apa saja yang sudah mereka pelajari selama menjadi pegawai sukarela." Kata Reid.
"Apa itu seperti magang?" Tanya Qartel.
"Jika magang mereka mendapatkan gaji meski tidak full. Pegawai sukarela mereka tidak akan mendapatkan gaji. Iti adalah hukuman mereka, perusahaan kita telah membuat kerjasama dengan Universitas A, dan banyak dari Universitas A yang magang di perusahaan induk ataupun cabang." Kata Reid.
"Baik Tuan, saya akan menghubungi bagian personalia." Kata Qartel.
"Ohya... Katakan pada semua personalia untuk tidak menyebutkan identitasku di depan para pegawai magang itu."
"Baik Tuan."
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju perusahaan.
Reid kali ini merasa suasana hatinya kian memburuk, ia marah dan kesal, karena ada wanita lain di mansion nya, Reid merasa mansionnya menjadi kotor, belum lagi, ia melihat Magdalena tersenyum senang ketika bertemu dengan pemuda itu.
"Siapa dia?" Gumam Reid.
"Ya Tuan?"
"Kemarin aku menyuruhmu untuk menyelidiki apa saja yang Magdalena lakukan di Universitas. Kau sudag mendapatkannya?"
"Sudah tuan, hanya saja kemarin malam anda berada di dalam kamar sepanjang malam bersama Nona Magdalena jadi saya tidak berani menganggun." Kata Qartel.
"Mm... Kau cukup tanggap. Laporkan saat kita sampai di kantor." Kata Reid melihat ke arah luar jendela.
Bersambung
__ADS_1