Janda Kembang Paman CEO

Janda Kembang Paman CEO
EPISODE 14


__ADS_3

Perlahan Magdalena membuka matanya, ia merasa tubuhnya segar karena tidur dengan nyenyak.


Namun, ketika ia merasakan sesuatu yang janggal, seketika matanya tertuju pada dada dan lengan yang sedang menjadi bantalnya.


"Astaga... Apakah lagi?" Kata Magdalena lirih dan menyesal.


"Sepertinya ini akan menjadi kebiasaan baru mu. Iya kan? S-a-y-a-n-g ?" Kata Reid.


Magdalena segera bangun dan duduk dengan kaki W di depan Reid.


"Maa.. Maafkan aku..." Kata Magadena sembari menyatukan kedua telapak tangan.


"Kau bahkan membatalkan penerbangan yang seharusnya di jadwalkan pagi, karena aku ada pertemuan penting."


"Apa!!!" Pekik Magdalena.


"Tunggu, kenapa bisa aku?" Lanjut Magdalena.


"Kau tidur seperti putri tidur." Kata Reid.


"Kenapa tidak membangunkanku!!!" Kata Magdalena.


"Sudah." Kata Reid bohong.


"Benarkah?" Magdalena merasa tertekan dan semakin bersalah.


"Jadi... Aku bersalah, maafkan aku, aku janji ini tidak akan terulang lagi."


"Jadi... Jika kau bersalah... " Reid kemudian menarik kedua tangannya dan menyilangkannya di belakang menjadi bantalan untuk kepalanya.


Magdalena menunggu dengan harap-harap cemas apa yang akan Reid katakan.


"Kau akan menanggung kesalahanmu, maka selama seminggu kau harus menuruti kemauanku."


"Apa!!! Seminggu!!!"


"Kau menolak? Kau tahu karena kau, aku batal bertemu dengan tamu penting hari ini."


"Ta... Tapi seminggu itu bukankah terlalu keterlaluan..." Kata Magdalena.


"Kau tahu orang-orang menyebutku apa?"


"Aa... Apa..."


"Uang berjalan."


"U... Uang berjalan?" Tanya Magdelan tak mengerti.


"Ya, karena setiap detik dan menitnya aku selalu menghasilkan uang, setiap jadwalku selalu berhubungan dengan uang." Kata Reid semakin mendekatkan wajah nya pada wajah Magdalena


"Ba... Baik... Aku setuju, ta... Tapi... Tolong sedikit menjauh." Kata Magdalena mendorong pelan dada Reid.


Reid menelan ludah nya membuat jakunnya naik dan turun.


"Kalau begitu bersiap lah, kita akan pulang, dan sarapan di pesawat." Kata Reid turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.


Kemudian setelah Magdalena dan Reid selesai bersiap, mereka keluar dari kamar dan hendak berpamitan pada Barness.


"Nona Magdalena Tuan Barness menunggu anda." Kata Dalbert.


Dalbert telah menunggu di depan pintu kamar dengan sangat lama.


"Baik kami juga mau kesana, kami akan datang berdua." Kata Reid.


"Hanya Nona Magdalena, anda bisa berpamitan setelah Nona Magdalena selesai menemui Tuan Barness." Kata Dalbelt.

__ADS_1


"Apa lagi yang dia inginkan." Geram Reid.


Kemudian dengan memendam amarah Reid menunggu Magdalena yang sedang ada di ruangan Barness dengan menyedekapkam tangan dan berdiri bersandar pada dinding di samping pintu ruangan.


Qartel pun juga bersama Reid.


"Sebenarnya ada apa... Firasatku merasakan, seperti aku akan di curangi dan di bodohi oleh pak Tua itu." Kata Ried.


"Mari kita tunggu tuan." Kata Qartel.


Saat itu Magdalena berdiri di hadapan Barness yang duduk di kursinya.


"Jadi, hari ini kau sudah akan pulang." Kata Barness.


"Benar Tuan Barness. Terimakasih sudah menerima saya."


Barness mengangguk.


"Dalbert, ambilkan." Perintah Barness.


Kemudian Dalbert memberikan dokumen pada Magdalena.


"Aku tidak bisa menunggu lagi, waktu ku tidak banyak, dan aku akan terus terang karena tidak suka basa basi, aku menginginkan cucu dari mu Magdalena." Kata Barness.


"Y...Yyyy... Ya?!!!" Magdalena terkejut, sontak ia menjadi gagap. Tangannya mendadak dingin.


"Kau harus tanda tangan, aku ingin kau memberikanku cucu, aku ingin berjaga-jaga jika nanti kau bercerai dengan Reid, syarat perceraian kalian adalah harus memiliki anak lebih dulu baru bisa bercerai."


Tubuh Magdalena lemas, ia merasa kepalanya pusing.


"Tentu saja, ini hanya untuk jaga-jaga, yang paling ku inginkan kalian tidak akan pernah bercerai." Kata Barness.


"Tapi Tuan..." Magdalena hendak menolak.


"Aku sakit." Kata Barness lagi.


Kemudian Barness mengelurkan obat-obatan dari dalam lacinya.


"I... Itu... Obat yang sangat banyak." Kata Magdalena takut.


"Waktu ku tidak lama Magadalena. Aku menginginkan cucu selain itu, aku juga ingin, Reid memiliki seseorang yang mencintainya." Kata Barness.


Magdalena yang memiliki hati lemah kepada orang yang meminta pertolongan tentu saja berperang dengan logikanya.


Magdalena tertekan, namun melihat wajah melas dan mengiba Tuan Barness, akhirnya Magdalena memegang pulpen itu.


Dengan menutup mata, Magdalena menandatangani berkas itu. Magdalena berjanji akan memberikan anak pada Barness.


"Ta... Tapi Tuan Barness... Saya tidak mungkin bisa punya anak sendirian, Tuan Reid bahkan tidak menyukai saya, bagaimana saya bisa."


"Kalau begitu, Dalbert panggil Reid." Kata Barness.


"Baik Tuan." Kemudian Dalbert memanggil Reid.


"Akhirnya kau mau bertemu denganku." Kata Reid kesal.


"Magdalena telah menandatanganinya." Kata Barness menunjukkannya.


Reid membulatkan mata dan memicingkan matanya.


"Apa itu." Kata Reid.


"Surat perjanjian jika kalian akan memberikanku cucu, entah laki-laki atau perempuan aku menerimanya, akan ku sayangi cucuku." Kata Barness.


Reid menggerakkan alis dan kepalanya yang rasanya sangat kaku, kemudian Reid mendelik pada Magdalena dengan wajah gelap.

__ADS_1


"Jangan marahi dia, syarat kau menjadi pewaris adalah seorang cucu, maka lakukanlah." Kata Barness.


"Tidak mau! Awalnya kau hanya menyuruhku menikah, kenapa sekarang menjadi anak!" Kesal Reid.


"Jadi, kau tidak mau menjadi ahli waris." Kata Barness.


"Terserah lupakan semua itu, aku muak, kekayaanku pun sudah banyak!" Kesal Reid.


"Baiklah, Dalbert berikan dia informasi yang itu." Perintah Barness.


"Baik Tuan Barness."


Kemudian Dalbert membuka tabletnya dan menyerahkan pada Reid.


Reid pun menerima dan membelalakkan matanya.


"A... Apa ini..."


"Aku tahu kau terobsesi dengan uang dan kekuasaan, bahkan kau sangat ingin menggenggam dunia, bayangkan jika semua itu menjadi milikmu, dan bayangkan jika aku memberi anakmu harta tersembunyi milikku yang tak pernah ku laporkan pada siapapun." Kata Barness.


Tangan Reid gemetar.


"Tidak mungkin bisa sebanyak ini." Reid berulang kali menggeser layar dan membaca dengan teliti.


"Ini harta mu yang sesungguhnya?" Kata Reid.


"Ya, bagaimana lagi, aku hanya punya satu anak yang tak menurut, dia selalu membantah." Kata Barness.


"Tapi, untuk apa aku harus memberimu cucu! Kau kira Magdalena adalah mesin pembuat anak!! Dia berhak menentukan sendiri, tubuh itu miliknya."


"Dia menyetujuinya. Dia akan melahirkan anakmu." Kata Barness masih membantah.


Reid menelan ludahnya, ia membayangkan seorang anak tidak akan hadir tiba-tiba begitu saja. Reid menjadi membayangkan sesuatu.


"Jadi waktu kalian 1 tahun, dan paling lama 2 tahun Berikan aku cucu!"


"Kalau begitu beri aku alasan yang bagus selain tentang syaratku menjadi ahli waris."


Barness terdiam cukup lama, dan Reid menunggu. Hingga Reid tak sabar lagi.


"Benarkan kau hanya mempermainkanku!" Kata Reid melemparkan tablet itu di depan Barness.


"BRRAAAKKK!" Tablet mendarat brutal di atas meja Barness.


"Aku harus memastikan ada yang akan menjadi pewaris selanjutnya setelah kau, aku tidak ingin harta ini sia-sia, bagaimana jika kau tidak punya anak, akan kemana semua hartaku. Jika hanya akan berakhir menjadi amal, akan ku lakukan sendiri dari sekarang." Kata Barness tajam.


Reid menahan kekesalan karena apa yang Barness ucapkan memang masuk akal.


"Jadi, kau tetap menolak? Sayang sekali. Dalbert robek perjanjian ku dengan Magdalena." Kata Barness.


Dalbert pun kemudian hendak memasukkan dokumen itu ke mesin penghancur.


"Tunggu." Kata Ried.


Magdalena yang sedari tadi pucat pun melihat Reid.


"Baiklah, aku akan lakukan." Kata Reid.


Magdalena membulatkan matanya, dengan jawaban ambigu Reid.


"Katakan dengan jelas." Kata Barness.


"Anak... Seorang anak... Aku akan lakukan, aku akan memberikanmu cucu." Kata Reid.


Sontak membuat jantung Magdalena pun menjadi seperti tak berdetak, tubuhnya makin lemas, ia tak bisa menyangga dan berpegangan pada meja di hadapannya agar tak terjatuh di lantai.

__ADS_1


Barness pun tersenyum penuh kemenangan.


Bresambung


__ADS_2