
Reid duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Qartel menyodorkan tablet miliknya pada Reid.
"Namanya adalah Alan Walton, dia teman pertama Nona Magdalena, dia juga membantu Nona Magdalen belajar di perpustakaan." Kata Qartel.
"Jadi namanya Alan?" Kata Reid.
"Kau sudah hubungi bagian personalia untuk membawa para pegawai sukarela itu ke kantorku?" Tanya Reid.
"Sudah Tuan." Kata Qartel.
"Tok... Tok... Tok...!!!" Pintu di ketuk dan Qartel membukanya.
Ternyata itu adalah sektretaris Reid yang membawa 2 orang pegawai sukarela.
"Tuan Reid saya membawa pegawai sukarela dari Universitas A." Kata Jessy menunjuk para pegawai sukarela yang masuk perlahan ke dalam ruangan kantor mewah tersebut.
"Terimakasih Jessy, kau bisa keluar."
Magdalena yang sedari awal menunduk dan mendengar suara yang tak asing di telinga nya pun mendadak mengangkat kepala lalu melihat siapakah orang tersebut.
Pria itu... Pria tampan dan juga terlihat sangat dingin dan berwibawa.
Magdalena kembali mengingat malam dimana perkataannya, ia bilang bahwa Reid adalah pria tua yang renta dan tak berwibawa.
Kini, Magdalena melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri, pria itu duduk di singgasana kursi kebesaran yang kokoh dan memandanginya dengan mata dingin dan tanpa ampun.
Pria dengan segudang kharisma dan tentunya sosok yang penuh dengan wibawa serta pandangan mata tajam yang dingin, seolah pria itu memiliki perilaku kejam tanpa ampun ketika menempati posisinya.
Magdalena mulai merinding, dia takut Reid akan berbicara tentang dirinya.
Sedangkan Qartel, merasa ada hawa dingin menerpa ruangan, melihat bagaimana cara memandang Tuannya pada Alan Walton
Qartel pun juga baru tahu, jika Magdalena ternyata yang akan menjadi pegawai sukarela.
"Tunggu, apa Tuan Reid sudah menyadarinya jika Nona Magdalena akan menjadi pegawai sukarela? Jadi, dia menyuruh bagian personalia mengantar mereka ke ruangan Ceo, karena tidak biasanya Tuan Reid memanggil para pegawai sukarela untuk menghadap." Batin Qartel.
Belum lagi, kini Magdalena berfikir kenapa Reid tak memberitahunya jika Armondite adalah perusahaan miliknya.
"Apa yang sebenarnya dia inginkan, kenapa dia berpura-pura tidak tahu tentang perusahaan Armondite malam itu, padahal jelas-jelas dia membaca berkas yang sedang ku taruh di atas meja." Batin Magdalena.
"Kalian pegawai sukarela dari Universitas A?" Tanya Reid.
__ADS_1
"Benar Tuan..." Jawab Alan.
"Kau... akan membantuku di sini." Kata Reid menunjuk Magdalena.
"Mem... Membantu anda di sini?" Tanya Magdalena.
"Ya, kau belajar menjadi sekretaris pribadiku, di luar ada Jessy yang juga akan membantumu." Kata Reid.
"Tunggu Tuan... Bagaimana jika saya saja yang akan menjadi pegawai sukarela untuk sekretaris pribadi." Alan mengajukan dirinya untuk melindungi Magdalena.
"Kenapa." Tanya Reid datar dan dingin.
"Karena teman saya ini baru saja masuk satu hari di Universitas A, jadi belum banyak yang dia pelajari, saya sedang membantunya belajar mengejar ketertinggalan nya. Jadi, saya pikir..."
"Kau pikir kau yang punya kuasa untuk mengatur." Kata Reid menyela dengan dingin.
"Tidak Tuan, saya tidak berani." Kata Alan kemudian.
"Jadi, teman mu ini baru masuk kuliah satu hari dan langsung mendapat hukuman menjadi pegawai sukarela selama sebulan? Memang luar biasa anak muda jaman sekarang." Kata Reid mengelus dan memainkan bibirnya dengan telunjukanya.
Jantung Magdalena berdegup tak karuan, kakinya terasa lemas dan gemetar.
"Dan kau, kau akan pergi ke bagian personalia, bantu mereka selama seminggu, setelah itu kau pindah ke bagian pemasaran, berikan bantuan pada mereka yang butuh." Lanjut Reid.
"Baik akan saya lakukan." Kata Alan dengan menahan kesal.
"Kau kesal? Karena menyuruhmu untuk membantu di bagian personalia dan pemasaran." Kata Reid dengan wajah dingin.
Magdalena merinding dan merasa takut, melihat Reid yang begitu dingin dan tanpa ampun, ia kembali teringat wajah monster itu ketika pertama kali bertemu, Reid yang kala itu membawanya dari lubang ritual keji dan langsung meminta para tetua untuk menikahkannya.
"Tidak Tuan, maafkan saya." Kata Alan Walton.
"Kalau begitu tundukkan mata dan pandanganmu." Balas Reid.
Alan menelan ludahnya kesal, dan menundukkan matanya.
"Kau seperti kuncing yang sedang marah, karena makananmu di rebut, matamu memandang dengan angkuh dan rasa kebencian, ketika kau bekerja di sebuah perusahaan untuk mendapatkan uang, kau harus membuang semua harga diri itu dan bersikap patuh pada atasanmu."
"Tapi menurut saya, membuang harga diri itu salah, saya harus tetap berpegang pada harga diri saya, jika saya juga ingin di hormati, masalah patuh saya akan patih pada atasan jika atasan saya bekerja dengan profesional, jika tidak saya punya cara sendiri untuk mencari uang tanpa meninggalkan harga diri saya."
Reid berdiri dan hendak mendatangi Alan.
__ADS_1
Magdalena khawatir perdebatan itu akan semakin panjang dan mengakibatkan sesuatu yang tidak baik ke belakang, ia juga takut jika Prod. Judson tahu, maka hukuman Alan akan di tambah.
Qartel pun mulai menyadari akan ada badai besar, dan ia harus segera memisahkan mereka.
"Tuan Reid saya akan mengantar Tuan Alan pergi." Kata Qartel.
Sebelum Reid menjawabnya, Qartel telah menarik bahu Alan untuk pergi meninggalkan ruangan Reid, dan Qartel pun menutup pintunya.
Setelah kepergian Alan dan Qartel, Reid kemudian duduk di tepi meja dan menyedekapkan tangan lalu melihat ke arah Magdalena yang menunduk takut.
Power dan intimidasi dari Reid tak ada yang main-main, semua wibawa dan tekanan yang di hasilkan hanya dari cara pandang Reid membuat Magdalena menciut, apalagi di barengi dengan wajah yang tampan dan tubuh proporsional.
"Mulai hari ini kau akan belajar menjadi sekretaris pribadiku, lagi pula cepat atau lambat, kau juga akan bekerja di sini setelah lulus dari Universitas, lagi pula kata pak tua kau memang harus magang di perusahaanku." Kata Reid dengan tenang.
Reid masih memandangi Magdalena yang masih menunduk.
Kemudian Reid melihat jam di tangannya.
"Sudah hampir pukul 9, kau ada kuliah pukul 10 kan?" Kata Reid.
Magdalena mengangguk pelan.
"Aku akan mengantarmu." Kata Reid berdiri dan menyambar jas yang ada di kursinya lalu memakainya.
"Tidak... Tidak perlu, aku akan kembali dengan temanku, aku berangkat bersamanya, aku juga harus pergi ke kampus bersamanya, akan aneh jika aku tiba-tiba menghilang dan berangkat sendiri."
"Kenapa kau memikirkan perasaan pria lain, dan tidak memikirkanku." Reid menarik tangan Magdalena memaksanya untuk ikut dengannya.
"Ya? Bukan begitu, aku hanya..."
"Hanya apa? Kau menyukai dan menikmati saat bersamanya? Kau tertawa seperti badut yang kegirangan." Kata Reid dengan ketus.
"Apa?"
"Kau istriku! Dan kau harus menjaga sikap, jangan menempel pada pria sembarangan seperti wanita murahan!" Reid kembali melontarkan kalimat pedas.
Magdalena merasa hatinya terasa sakit, dadanya pun sesak, setiap kalimat yang Reid ucapkan tak ada yang baik untuknya.
"Ada apa denganmu! Apa kau tidak sadar! Kau tidak ingat! Aku memang murahan Tuan Reid yang terhormat, aku adalah SEORANG JANDA! Aku adalah Seorang janda yang di tinggal mati suaminya dan seharusnya aku memang sudah mati! Tapi aku masih di sini karena anda menghentikan ritual itu dan menikahi saya!!! Anda puas dengan kalimat saya!!!" Magdalena kesal dan keluar dengan membanting pintu.
"BRAAKK!!!"
__ADS_1
Pintu di tutup dengan keras membuat Jessy yang duduk di depan ruangan Reid pun terkejut.
Bersambung