
"Oke. Aku mengerti, identitas mu akan tetap aman, sampai kau melahirkan anak dan kontrak kita selesai." Kata Reid berdiri dan meninggalkan Magdalena yang kesal.
Reid menutup pintu dan melihat pada Qartel yang menunggu di depan, lalu Reidmenggelengkan kepala pelan.
"Tuan... Bagaimana dengan Nona Belinda." Kata Qartel.
"Maksudmu?"
"Bagaimana jika membuat kesepakatan dengan Nona Belinda, untuk berpura-pura menjadi istri anda." Kata Qartel.
"Kau gila." Kata Reid marah dan pergi ke ruangannya.
Qartel mengikuti Reid di belakang, kemudian Reid duduk kembali.
"Tapi tuan, tidak ada waktu." Kata Qartel.
Reid menelan ludahnya, jujur saja ia tak mau kehilangan proyek itu.
"Hubungi Belinda suruh dia kemari."
"Baik Tuan."
Sebelum Qartel pergi Reid menghentikannya lagi.
"Panggil Magdalena juga." Perintah Reid lagi.
"Baik Tuan Reid."
Qartel dengan segera memanggil Belinda, tentu saja ada rasa kesombongan yang luar biasa di dalam diri Belinda, dia begitu berbangga diri.
Belinda akhirnya duduk di sofa berhadapan di sisi agak samping dari Reid, ia menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kiri.
Reid tahu, hanya dengan melihat wajah Belinda, wanita itu sedang merasa di atas awan, sombong dan juga merasa terlalu percaya diri, namun Reid tak punya pilihan lain.
Reid masih diam di hadapan Belinda dengan tatapan dingin.
"Ada apa? Akhirnya kau memanggilku ke sini Reid." Kata Belinda lembut dan menggoda dengan kesombongannya.
"Tunggu." Kata Reid dingin.
Belinda kemudian diam.
Namun, tak berapa lama Qartel membawa masuk Magdalena dan Belinda melihatnya dengan mata yang membulat.
"Kenapa ada dia!" Kata Belinda.
"Berkat istriku kau ada di sini, jangan mulai tak tahu diri." Kata Reid tajam.
Magdalena kemudian duduk berhadapan dengan Belinda, seperti biasanya tatapan Belinda selalu tak mengenakan di hati Magdalena, namun ia tak pernah dan tak mau mengambil pusing dengan itu.
__ADS_1
"Aku mengumpulkan kaliana karena ingin minta bantuan." Kata Reid.
"Aku pasti membantumu Reid..." Kata Belinda tersenyum.
Magdalena hanya diam, sejujurnya ia sudah bisa menebaknya.
"Belinda kau tahu kan, Magdalena tak bisa ter ekspose di depan media bahwa dia adalah istriku, karena Magdalena yang meminta agar pernikahan ini tetap menjadi rahasia." Kata Reid.
"Ya... Lalu." Kata Belinda malas.
"Dan aku tidak bisa memaksa Magdalena, itu juga akan mempengaruhi kuliahnya jika mereka semua tahu dia adalah istriku, karena masih 18 tahun." Kata Reid.
"Seminggu lagi aku 19 tahun." Sambung Magdalena.
Reid mengangguk paham.
"Iya sebentar lagi 19 tahun, tapi kau tetap tak boleh minum untuk perayaan ulang tahun mu." Sanggah Reid dengan tegas.
Belinda memutar matanya dan memainkan jari-jari kukunya. Dia merasa muak dengan pasangan yang ada di depannya, seolah-olah sedang menghinanya dengan perdebatan mereka.
"Jadi, aku punya proyek besar, dan Tamazaki ingin mengukuhkannya dengan jumpa pers, beberapa hari lagi dia akan tiba di negara ini, tapi karena Magdalena tak bisa ter ekspose, kau yang akan menjadi istri pura-pura ku untuk menemui mereka dan tampil di depan umum." Kata Reid.
Belinda melihat ke arah Reid dengan wajah sumringah dan sangat berbinar, satu hal yang pasti ada di pikiran dan otaknya, meski itu pura-pura tapi, mereka semua tidak tahu jika itu pura-pura, apalagi akan di ekspose.
"Jadi, seluruh dunia akan tahu, bahwa aku adalah istri Reid, meski palsu, tapi mereka semua tak tahu. Ini sangat menarik!" Batin Belinda semangat bagai api yang berkobar.
"Tentu saja aku harus membantu..." Kata Belinda tertawa girang.
Magdalena tersenyum malas.
"Lakukan saja apa yang seharusnya di lakukan, aku tak mau ikut dalam permainan, jangan lupa untuk memberitahu Tuan Barness semua akan menjadi kacau jika dia mendengar beritanya secara mendadak di televisi."
"Kau banyak omong juga." Kata Belinda merasa penting dan muak.
"Jaga mulutmu atau ku robek. Apa kau mulai tak tahu diri dan tak tahu malu." Kata Reid.
"Kau masih membelanya? Bukankah kau perlu bantuanku!" Kata Belinda pada Reid mulai berani.
Reid menahan kesabarannya, hanya Belinda yang bisa membantu, hanya dia yang tahu seluk beluk keluarganya, bahkan tentang kehidupannya yang dimana Magdalena adalah istrinya, ia tidak mungkin membayar wanita lain, dia akan tahu tentang Magdalena, meskipun bisa memberikan perjanjian, namun kebelakang nya akan rumit dan sulit membereskannya.
Lagipula tidak ada waktu lagi untuk melatih tata krama dan etiket bertemu tamu luar negeri.
Reid menekan pelipisnya, dia benar-benar seperti di pusingkan kali ini dengan rencananya sendiri.
"Kalian bisa kembali." Kata Reid.
Kemudian tanpa mengatakan sepatah katapun, Magdalena pergi, sedangkan Belinda berdiri hendak beranjak pergi, namun Reid menghentikanya.
"Belinda..." Panggil Reid.
__ADS_1
"Yaa.... " Jawab Belinda dengan mesra dan menggoda.
"Qartel akan mengirimkan apa saja yang harus kau pelajari, ada daftar yang harus kau lakukan dan tidak kau lakukan saat bertemu dengan Tamazaki, hafalkan itu, lalu jangan buat kesalahan."
"Aku wanita pintar hanya dengan sekali baca sudah paham, tidak seperti seseorang." Kata Belinda menyindir Magdalena.
Reid diam dan membuang nafas, berkali-kali Reid mengatakan bahwa Belinda harus menjaga mulutnya tetap saja wanita itu berbicara tanpa aturan.
"Apa kau sudah mengajari Etiket pada Magdalena dengan benar, waktunya tidak banyak untuk membawanya ke pesta ulang tahun Pak Tua."
"Astaga... Pekerjaanku sangat banyak... Aku merasa sangat istimewa mendapatkan perintah dan mandat ini dari mu Reid... Bagaimana ini, aku semakin mencintaimu jika kau bersikap seperti ini padaku, kau sangat perhatian."
Reid semakin malas dan mengusir Belinda dengan menggunakan tangannya yang mengibas-ngibas ke udara.
Belinda cemberut dan kemudian keluar dari ruangan Reid.
"Tuan saya merasa khawatir, tapi tidak ada jalan lain lagi." Kata Qartel.
"Entahlah... Jika saja tidak ada hal seperti ini, aku benar-benar sudah membunuhnya." Kata Reid.
"Nona Belinda sepertinya akan bersikap keterlaluan setelah ini, dia akan bertindak sesuka hati, apalagi dengan permainan istri pura-pura ini, apa yang harus saya lakukan."
"Awasi saja. Aku ingin tahu apakah Magdalena akan meminta bantuan padaku atau tidak." Kata Reid.
"Saya mengerti Tuan." kata Qartel dan pergi.
Di dalam kamar, Magdalena duduk kembali untuk meneruskan membaca buku yang tersendat, dia juga menempelkan headset di kedua telinganya.
Tangan lentiknya yang memegang pena bergetar ketika ia menulis di bukunya.
Giginya berderit karena kesal.
"Ya... Biarkan saja, lagi pula ini juga hanya pernikahan kontrak. Ayo lahirkan anak dan kontrak akan berakhir. Andai saja bajingann itu tak berhutang, aku tidak akan sesengsara ini, aku berdoa semoga kau di neraka terus di siksa Moriz!!!" Kata Magdalena geram.
Namun semakin Magdalena tak ingin memikirkannya, semakin Magdalena justru kepikiran hingga ia tak bisa konsentrasi pada apa yang sedang ia pelajari.
"Aaaa....!!!"
Magdalena mencoret-coret bukunya hingga seperti gambar rambut gimbal.
"Terserah saja! Aku mau tidur, besok adalah hari pertama pekerjaan sukarelaku di Armondite Grup. Aku tak ingin terlambat dan mengacau, apalagi atasanku adalah pria dingin yang tak memiliki perasaan sama sekali."
Magdalena naik ke atas ranjang dan membuka selimut, lalu ia masuk dan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut itu.
Tak lama Reid masuk. Pria itu melihat ranjang sudah terisi dan seseorang menggeliat-nggeliat di dalam selimut, membuat Reid sedikit terhibur dari suasana hatinya yang buruk dan ia pun tersenyum tipis, melihat Magdalena seperti itu membuat Reid membayangkan jika saat ini Magdalena seperti ulat yang bergerak gerak.
Reid membuang nafasnya pelan.
"Kenapa kaubselalu bersikap menggemaskan. Apa yang harus ku lakukan... Sepertinya malamku akan sangat panjang lagi..." Kata Reid menguyap rambutnya dan mulai beranjak untuk naik ke atas ranjang.
__ADS_1
Bersambung