Janda Kembang Paman CEO

Janda Kembang Paman CEO
EPISODE 27


__ADS_3

Magdalena tenggelam dalam pikiran yang kian gelap namun di penuhi setruman-setruman aneh di setiap syaraf tubuhnya.


Pelan namun pasti, Reid membuat Magdalena menyerahkan dirinya sendiri.


Tangan besar Reid menelusup masuk ke dalam baju Magdalena dan membelai punggung gadis itu naik turun.


Magdalena lemah, pertahanan dirinya lenyap, tak bisa lagi ia mengontrol isi kepalanya, yang ada di dalam benaknya adalah ingin terus menikmati sentuhan Reid pada dirinya.


Magdalena semakin erat memeluk Reid, dan matanya terpejam, seketika kepalanya tanpa sadar bersandar di bahu Reid.


Saat itu perlahan tangan tangkas Reid membuka pengait.


Magdalena pasrah, itu pertama kalinya bagi dirinya merasakan serangan seperti itu, pertama kalinya seorang pria menyentuhnya.


Ternyata fantasi-fantasi yang menjijikkan dan fantasi yang membuatnya ketakutanberbanding terbalik ketika Reid menyentuhnya, begitu lembut, dan menagihkan, semua khayalan yang ada dalam pikirannya yang seram luruh juga.


Sentuhan Reid begitu membuatnya hilang akal dan ingin lebih.


Reid kemudian menggendong Magdalena ke atas ranjang, membaringkannya di sana.


Kedua mata Magdalena memandang sayu pada Reid, pria itu kemudian mencium Magdalena.


Ciuman bibir yang lembut, panas dan dalam, lidahnya melilit di antara lidah-lidah Magdalena.


Reid menekan tubuhnya di atas tubuh Magdalena, dan Magdalena merangkul leher Reid yang besar dan kekar.


"Reidd..." Bisik Magdalena dengan suara sensuall yang membuat Reid semakin bersemangat.


Reid seketika membuka kaos hitamnya, dan terlihat tubuh Reid yang memiliki kotak-kotak begitu indah di mata Magdalena pada perut Reid.


Belum lagi ketika Magdalena melihat posisi Reid saat membuka kaos, pria itu menyangga tubuhnya dengan kedua lututnya di atas Magdalena dan membuka kaos nya dengan sekali gerakan, lengan kekar yang berotot membuat Magdalena menelan ludahnya, jantungnya berdegup tak karuan, kegugupannya semakin melandanya.


Ketika Reid hendak menaikkan pakaian Magdalena, seseorang telah membuat suasana hati Reid menjadi buruk, karena berulang kali mengetuk pintu.


"Tokk... Tokk.. Tokk...!!! Pintu di ketuk untuk ke sekian kalinya.


Rahang Reid mengeras, saat itu Reid sedang sangat bersemangat menciumi leher Magdalena.


"Tokk.. Tokk... Tok...!!!" Pintu di ketuk kembali.


Reid menahan emosinya dan turun dari ranjang, sebelum pergi Reid menyelimuti Magdalena dan kemudian beranjak pergi membuka pintu.


Ternyata itu adalah Qartel, saat pintu di buka Qartel tak sengaja melirik masuk ke dalam.


"Apa yang kau cari!" Reid menendang kaki Reid.


"Maafkan saya Tuan."


"Kau menganggu! Aku ada pekerjaan penting dengan istriku."


Reid berdiri maju keluar dari kamar dengan bertelanjang dada.


"Tuan... Ada kabar, Tuan Tamazaki memajukan jadwalnya dan hari ini sudah sampai."

__ADS_1


Reid menutup mata dan ia memijit pelipisnya.


"Kita ke sana." Kata Reid.


Saat itu kebetulan Belinda berjalan keluar dari kamarnya yang ada di ujung, dan melihat Reid yang bertelanjang dada seketika membuat mata Belinda mendelik.


"Dada bidang, perut kotak-kotak dan lengan kekar yang besar, lalu tangan-tangan serta jemarinya yang berurat. Astaga... Aku... Jelas-jelas sangat menginginkan si tampan itu." Kata Belinda menggigit bibirnya.


Reid tanpa sengaja melihat ke arah Belinda, ia tahu Belinda tak berkedip melihatnya.


"Apa dia sudah mempelajarinya." Kata Reid.


"Sepertinya..." Qartel ragu.


"Kau urus dia kalau ada kesalahan, patahkan saja kakinya." Kata Reid marah.


Saat itu Reid hendak masuk, namun tiba-tiba Magadena keluar menyusul Reid.


Saat itu Magdalena sudah mengganti pakaian tidurnya.


"Apa ada masalah?" Tanya Magdalena.


Reid menengok dan melihat Magdalena memakai pakaian dress untuk tidur dengan terlihat pahanya.


Reid tertegun dan jantungnya serasa ingin meledak.


"Apa yang kau lakukan." Kata Reid.


"Apa? Aku mau minum tapi kau ada di tengah jalan pintu." Kata Magdalena


"Kenapa?"


"Pakaianmu terlalu pendek dan tipis."


"Aku kepanasan." Kata Magdalena.


"Aku menyuruhmu masuk, akan ku ambilkan air minumnya." Kata Reid.


Magdalena cemberut dan menurut.


Setelah Magdalena masuk, Reid melotot pada Qartel.


"Kau melihatnya!" Kata Reid marah.


"Ya Tuan?"


"Benar kau melihat istriku!" Reid mulai mendelik.


Qartel terkejut dan membulatkan mata.


"Maaf Tuan, tidak."


"Ku bunuh kau jika lancang melihat istriku." Kata Reid.

__ADS_1


Tak berapa lama Magdalena keluar lagi dengan kesal.


"Ada apa lagi?" Kata Reid terkejut dengan Magdalena yang keluar tiba-tiba dan membuka pintu dengan keras.


"Kau bahkan bertelenjang dada!"


"Ya?" Tanya Reid.


Saat itu Magdalena melihat ke arah Belinda yang bersandar di teralis tangga.


Reid kemudian mengikuti arah pandangan Magdalena.


"Aaa..." Reid paham dan tersenyum.


Kemudian Reid menarik tubuh Magdalena, mendekat, dan berbisik.


"Ingat, apa yang ku katakan? Kita harus selalu terlihat mesra di hadapan Belinda?" Kata Reid


Magdalena melirik dan canggung, karena Reid memaksa memeluknya.


"Ya aku paham." Jawab Magdalena.


"Qartel, aku akan menemui Tamazaki besok pagi, malam ini jangan berani mengangguku lagi, kau tahu kan pak tua itu tak sabaran ingin punya cucu." Kata Reid menggendong Magdalena.


"Kyaa!!" Teriak Magdalena.


"Yaa... Tuan." Kata Qartel.


Belinda yang menyaksikan adegan mesra itu sontak menggigit jari-jarinya, wanita itu mengurungkan niatnya untuk pergi dan masuk ke dalam kamar lagi.


Setelah masuk kamar, dengan marah hingga tangannya bergetar, Belinda menghubungi Joyce.


"Halo Tante Joyce..." Suara Belinda bergetar.


"Ada apa? Kenapa kau seperti sedang ketakutan."


"Tante... Ku rasa Reid dan Magdalena benar-benar saling mencintai, bagaimana ini." Kata Belinda panik.


"Jelaskan baik-baik, tante tidak paham jika kau berbicara seperti itu."


"Reid dan Magdalena, mereka... Seperti nya berniat ingin memberikan cucu pada Tuan Barness, Reid menggendong Magdalena masuk ke dalam kamar, bahkan Reid sudah bertelanjang dada, lalu Magdalena memakai pakaian tidur yang tipis dan seksi..." Mata Belinda membulat, ia tidak mau kehilangan Reid.


"Tenangkan dirimu Belinda, dengarkan aku baik-baik!" Kata Joyce menekankan suaranya.


Belinda mulai tenang dan mendengarkan Joyce.


"Sekarang yang harus kita pikirkan adalah, bagaimana membuat pernikahan mereka tidak bertahan lama, terlepas hubungan mereka nyata atau tidak, poin pentingnya adalah membuat mereka bercerai sebelum Barness mendapatkan cucu, jika Barness mendapatkan cucu sebelum kita bertindak dan sebelum mereka bercerai, hal apapun yang kita lakukan akan sia-sia, karena dia pasti akan memberikan hak warisnya pada Reid dan cucunya. Jadi, sebisa mungkin kau masuk dalam hubungan mereka, buat Reid bertekuk lutut padamu, dan buat mereka bercerai, lalu Reid akan menikahimu." Bujuk Joyce.


Belinda diam dan berfikir sejenak.


"Katamu, Reid meminta bantuanmu, agar kau menjadi istri palsunya di depan para media, dengan begitu yang di akui seluruh dunia adalah kau Belinda, terlepas kenyataan nya istri sah Reid adalah Magdalena, tapi dunia tidak mengetahuinya. Kau lah pemeran istri untuk Reid di dunia ini, dan itu menjadi batu lompatan yang bagus untuk meneruskan rencana kita! Apa kau paham!!!" Kata Joyce.


"Aku paham Tante Joyce, mulai sekarang aku tak peduli apakah hubungan mereka nyata atau tidak, yang jelas tujuan ku adalah mendepak Magdalena dan menjadikan Reid bertekuk lutut padaku."

__ADS_1


"Pintar! Dan untuk urusan Barness serahkan saja padaku." Bisik Joyce pelan-pelan agar tak ada yang mendengarnya.


Bersambung


__ADS_2