
Joyce mengambil ponselnya dan membuka surel yang telah Qartel kirimkan.
"Jadi... Namamu adalah Magdalena?" Tanya Joyce.
"Be... Benar Nyonya."
"Nama mu tidak cocok untukmu." Lanjut Joyce.
"Bukan urusanmu, kau bahkan tidak memiliki hak apapun mencerca istriku. Obrolan ini hanya omong kosong dan kita hentikan sampai di sini, kau bisa pergi."
"Tunggu dulu Reid... Menurut dokumen di sini. Kau menikahi gadis belia. Dia masih berusia 18 tahun. Astaga... Apa kau gila? Kau peddofil*?"
Reid menelan ludahnya.
"Kau berusia 32 tahun Reid." Kata Joyce tertawa sinis.
"Lalu?" Kata Reid dingin.
"Anak ini tidak akan sanggup, aku yakin hanya 1 minggu saja dia mampu bertahan, dan lalu menyerah, kemudian meminta perceraian. Apa jangan-jangan, kau hanya menggunakannya sebagai alat? Apa yang kau rencanakan? Apa kau benar-benar menjadikannya istri dan bukan hanya pajangan?"
"Berhenti omong kosong." Reid berdiri dan menyuruh Magdalena untuk mengikuti.
"Nona Magdalena, kau berasal dari desa kan? Apakah menurutmu identitas seperti itu akan bisa cocok dengan Reid, lihat lah mansion ini? Apa kau bahkan tidak bergidik? Atau kau memang memiliki sifat serakah?"
"BRUUKKKK!!!! PYAARRR!!!"
Tiba-tiba Reid menendang meja, membuat meja itu terpelanting hingga semua cangkir dan teko pecah.
"Aahhh...." Magdalena menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Hentikan.... Aku tidak butuh khotbahmu." Kata Reid.
Joyce tersenyum dingin.
"Kau tidak butuh khotbahku? Jadi, kau ingin ayahmu yang menceramahimu?"
"Lakukan saja apa maumu."
"Kau memang pembangkang! Ayahmu akan murka!!!" Teriak Joyce.
"Ayah hanya menyuruhku untuk menikah agar aku dapat menjadi ahli waris, dan ia tidak menyebutkan wanita seperti apa, jadi aku berhak menikahi wanita manapun, tapi kau... Kau selalu menyuruhku menikahi keponakanmu, kau pikir aku tidak tahu rencanamu?"
Kemudian Reid menggandeng Magdalena untuk pergi.
"Ya, kau bahkan mungkin akan mau menikah dengan kambing yang di rias. Asal kau tahu, aku tidak akan menyerah, Belinda akan datang kesini!!!" Teriak Joyce.
"BRAAKKK!!!!"
Reid menendang pintu membuat dada dan jantung Magdalena bergetar, ia merasa sangat takut pada pria pemarah yang sedang menggandeng tangannya.
"Aku akan membunuhnya sesampainya di sini. Kau pikir aku hanya menggertak? Kau pasti tahu berapa wanita yang sudah ku penggal kepala mereka, dan berapa orang yang telah ku bunuh." Kata Reid.
Setelah kepergian Reid, Joyce meremas kedua tangannya.
"Anak itu sama kasar nya dengan ayahnya, namun aku yakin dia tidak akan pernah berani... Aku menyandra ibu kandungnya, dia tidak akan berani membunuh Belinda dan juga aku, sekarang aku hanya perlu membuatnya menikah dengan Belinda, dan setelah Belinda menjadi istri Reid semua harta akan ku kuasai melalui Belinda, aku harus membujuk Gargaro Armond. Ck.... Sebenarnya aku benci berhadapan dengan pria itu."
Di lain tempat, Reid membawa Magdalena ke kamar. Saat itu Reid masih merasa emosi dengan kedatangan Joyce.
Pertemuan Reid dengan Joyce selalu tidak pernah berakhir dengan baik.
"Aku harus mandi. Kau boleh tidur lebih dulu." Kata Reid masuk ke dalam kamar mandi.
"Ba... Baik..."
__ADS_1
Magdalena pergi ke ruang ganti untuk mencari baju tidur, ia membuka semua almari namun semua baju tidur terlihat seksi baginya.
"Kenapa... Semua baju tidurnya seperti ini..." Kata Magdalena.
"Akan sakit kalau aku tidur memakai pakaian ini, pasti tidak nyaman, tapi baju tidur ini apakah tidak apa-apa..." Magdalena mengambil satu gaun tidur.
"Astaga tipis sekali... " Kata Magdalena melihat dengan memegang gantungannya.
Magdalena kemudian memakai gaun tidur itu, sebuah gaun tidur dengan panjang sepaha, dan memperlihatkan bagian dadanya yang padat.
"Astaga... Aku tidak percaya aku benar-benar memakainya." Kata Magdalena.
"CEKLEK....!!"
Tiba-tiba pintu di buka dan itu adalah Reid.
"Aaastaga....!!!" Teriak Magdalena dan langsung memakai handuk kimono, kemudian melilitkannya di pinggangnya.
"Kenapa kau terkejut." Kata Reid acuh.
Magdalena melihat tubuh bidang Reid yang kekar, dada yang telanjangg dengan urat-urat yang keras dan bentuk tubuh begitu sempurna. Satu lagi yang membuat Magdalena gemetar, Reid sangat tampan.
"Aku mau pakai baju." Kata Reid.
"I... Iya..." Kata Magdalena dan berjalan perlahan.
Namun ternyata handuk kimono Magdalena tersangkut, dan membuat kaki nya saling tidak seimbang, tiba-tiba Magdalena jatuh dan menarik handuk di pinggang Reid.
"Wuusshhh!!!" Handuk milik Reid jatuh ke bawah.
Tangan Magdalena memegang handuk milik Reid yang ia tarik.
"AAAARRGGHHHH!!!! MAAFKAN SAYA.... MAAAFFF!!!"
Segera Magdalena dengan cepat menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dan menutup mata.
Reid menarik nafas, ia dengan santai mengambil handuknya dan melilitkannya lagi kepinggangnya.
"Berdiri. Tidak apa-apa. Kau terluka?" Tanya Reid.
Magdalena menggelengkan kepala sembari masih menunduk dan menutup mata serta menutup wajahnya.
"Keluarlah, aku mau pakai baju."
Dengan masih menutup wajahnya, Magdalena berlari dan menabrak pintu, hingga dahi nya terbentur.
"GEDUBRAAKK!!!"
"Aaarghh.... Sakiittt..." Kata Magdalena memegangi dahi dan kepala lalu pergi dan menutup pintu.
Sedangkan Reid mendesahhkan nafasnya pelan, ia menekan pelipisnya dan berfikir jika baru kali ini ia juga merasakan aneh pada dirinya.
"Ada apa denganku, dia hanya tidak sengaja." Kata Reid dengan wajah merah.
Setelah Reid memakai baju tidurnya, Reid keluar dan melihat Magdalena sudah menutupi tubuhnya menggunakan selimut tebal.
Reid duduk di ranjang dan menyandarkan punggungnya, lalu mengambil laptop dan menaruhnya di paha.
Reid melirik Magdalena yang masih di dalam selimut, seluruh tubuh dan kepala terbalut selimut.
"Kau tidak kepanasan." Kata Reid.
Magdalena memicingkan mata, dan membuka selimutnya sedikit, untuk mengintip. Ternyata benar, Reid sudah duduk dengan baju tidur di sampingnya.
__ADS_1
"An... Anda... Akan tidur di sini?" Tanya Magdalena kemudian membuka selimut dan duduk.
"Lalu dimana lagi." Kata Reid kembali melihat laptop.
"Ta... Tapi..."
"Kau ingin Joyce tahu jika kita tidur terpisah." Kata Reid.
Magdalena menggelengkan kepala.
Reid melihat Magdalena, dan mendecakkan lidahnya pelan. Kemudian Reid menaruh laptopnya kembali dan turun dari ranjang, Reid kembali dengan membawa kotak obat.
"Anda sakit?" Tanya Magdalena.
Reid duduk di depan Magdalena dan mengeluarkan salep.
Ketika Reid hendak mengoleskannya di dahi Magdalena, Magdalena mundur.
"Dahi mu merah, dan benjol." Kata Reid.
"Be... Benarkah?" Tanya Magdalena memegangi dahi.
"Aawaw.....Sakit." Kata Magdalena sembari mengedipkan sebelah mata.
Reid melihat itu, dan merasa Magdalena sangat imut ketika Magdalena kesakitan, dengan meringis dan menutup sebelah matanya.
"Diam lah." Kata Reid canggung dan kemudian mengoleskan salep di dahi Magdalena.
Setelah itu Reid memegang kepala Magdalena dan meniupnya pelan.
Magdalena merasakan degup jantungnya sangat tidak stabil, dan nafasnya semakin cepat.
"Su... Sudah Tu... Tuan." Kata Magdalena.
"CTAAKK!!!" Reid menyentil dahi Magdalena.
Sontak membuat Magdalena meringis dan menangis.
"Ada apa!!!" Teriak Magdalena.
"Aku sudah katakan jangan memanggilku Tuan." Kata Reid dingin.
Magdalena menjadi salah tingkah.
"Belajar sekarang juga.Jika kau tak sering memanggilku dengan benar, kau akan keterusan dan tidak sadar memanggil Tuan di hadapan semua orang."
Magdalena kemudian merasa canggung dan berusaha untuk menggerakkan lidahnya.
"Sa.... Sa.... Saaaa... Yaaang..."
"Kaku sekali."
"Sa... Yangg..."
"Kau tidak bisa lebih rilex."
"Sayaaanggg...." Panggil Magdalena sembari tersenyum imut.
"Ehm....!!!" Reid menjadi salah tingkah dan terbatuk pelan, karena terkejut dengan tatapan lembut dan senyuman imut Magdalena.
Kemudian Reid melemparkan salep pada Magdalena dan berdiri.
"Olesi sendiri!" Kata Reid kemudian, naik ke atas ranjang dan berbaring sembari mematikan lampu kamar.
__ADS_1
Bersambung