Janda Kembang Paman CEO

Janda Kembang Paman CEO
EPISODE 11


__ADS_3

Iring-iringan mobil masuk ke dalam wilayah yang luas dan panjang, itu adalah taman terluas yang pernah Magdalena lihat, sejauh mata memandang hanyalah pemandangan hijau yang menyegarkan matanya.


Jalan aspal khusus kendaraan dan jalan setapak khusus pejalan kaki, adalah pembangunan yang epick untuk wilayah itu.


Setidaknya sebelum mencapai mansion, mereka wilayah harus melewatinya.


Saat mobil-mobil sudah berhenti berbaris di sebuah mansion besar yang menjulang tinggi bak istana megah di negeri dongeng, Magdalena langsung melongo dan tidak dapat berkedip.


"Perhatikan sikapmu, agar kita bisa keluar dari mansion ini tanpa drama, lebih cepat lebih baik." Kata Reid.


Reid keluar dan kemudian mengulurkan tangannya pada Magdalena.


"Ingat apa yang sudah ku katakan tentang, agar kita terlihat sebagai pasangan sungguhan." Kata Reid.


"Aku tahu... Aku tahu... Jangan terus-teruskan mengingantkanku." Gumam Magdalena pelan.


Reid dan Magdalena masuk dengan bergandengan tangan.


Semua pelayan berbaring memanjang di depan pintu besar yang telah terbuka.


"Selamat datang Tuan Reid." Semua pelayan kompak memberikan hormat.


"Tuan Barness telah menunggu anda."


"Kau terlihat sehat, Dalbert." Kaata Reid.


"Terimakasih Tuan Reid."


Kemudian Reid mengajak Magdalena menuju ruangan Barness.


"Dalbert orang kepercayaan ayahku, dia telah bekerja lama di sini, bahkan sebelum aku lahir." Kata Reid berbisik pada Magdalena.


Sedangkan Magdalena, mengangguk tanda mengerti dan melirik sekitar, semua nuansa mansion sangat mewah dan di dominasi warna emas.


Qartel dan Dalbert kemudian menunggu di luar setelah Reid dan Magdalena masuk ke dalam ruangan Barness.


"Aku datang ..." Panggil Reid.


Magdalena masih diam.


Seorang pria berdiri memunggungi Reid, di bawah jendela besar dan turai yang besar dan tebal berwarna keemasan.


Pria beruban itu menoleh, sebuah walking stick berada di jemarinya, menyangga tubuhnya yang sebenarnya tidak muda lagi.


Meski begitu, Barness sebenarnya masih bisa berjalan meski tanpa menggunakan tongkatnya.


Reid melihat tongkat yang menjadi pegangan ayahnya.


"Apa kau mulai renta." Tanya Reid.


"Dasar bocah tengik! Setidaknya aku adalah ayahmu. Mana sopan santunmu!" Kata Barness.


Kemudian Barness melihat ke arah Magdalena dan melihat Reid menggenggam tangan Magdalena


"Apa dia orangnya." Kata Barness.

__ADS_1


Suara Barness tajam dan besar, meski Barnes berbicara rendah namun suaranya tetap terdengar lebih keras dan menakutkan.


"Ya." Kata Reid.


Kemudian Barness duduk di kursinya.


"Menikah. Aku sudah melakukan apa yang kau mau." Kata Reid.


Magdalena merasa ada di dua kubu antara yin dan yang, dan antara panas dan dingin.


Magdalena merasa bahwa sikap Reid pada ayahnya begitu dingin, angkuh dan ketus, bahkan Reid tidak memanggilnya ayah.


Begitu pula sang ayah, pria itu terlihat sangat kaku, dan tidak berbicara banyak, tatapan matanya pun dalam dan menusuk.


"Aku menyuruhmu menikah dengan rasa cinta, alasan itu adalah pondasi yang kuat. Apa kau mencintainya." Kata Barness.


"Itu urusanku, bahkan hal seperti itu bukan menjadi tanggung jawabmu, yang penting aku sudah menikah."


"Kalau begitu lahirkan seorang anak laki-laki." Perintah Barness dingin tanpa berkedip.


"Apa!!!" Reid memasang wajah gelap.


"Tidak ada anak tidak ada suksesi, kau tidak dapat menjadi ahli warisku." Kata Barness.


"Apa sebenarnya mau mu, kau suruh aku menikah sebagai syarat ahli waras, aku sudah melakukannya! Sekarang kau memintaku untuk mempunyai anak!"


"Jika kau memutuskan sebagai Selibat, dan tak memiliki istri serta anak siapa yang akan menjadi penerus Armondite!!! Keputusanmu adalah penghinaan bagiku!!!" Teriak Barness.


"Menikah dan punya anak bukan satu-satunya solusi!!!" Bantah Reid.


"Aduuu... Akankah semua harta ini ku serahkan saja ke yayasan amal." Kata Barness memasamg wajah putus asa.


"Berapa usiamu." Tanya Barness.


"32." Kata Reid.


"Bukan kau, tapi istrimu, aku bertanya padanya." Kata Barness.


Magdalena terkejut, tatapan tajam dan dalam mata Barness, membuyarkan lamunannya.


Kemudian Magdalena menundukkan punggungnya.


"Saya Magdalena berusia 18 tahun, satu bulan lagi usia saya 19 tahun." Kata Magdalena.


"Ghhmm.... Masih muda." Kata Barness.


Barness kemudian menghela nafasnya pelan.


Reid menarik nafas, seolah ia sedang menahan kesabaran.


"Kalau sudah selesai kami akan pergi." Kata Reid.


"Tinggalkan istrimu di sini, aku ingin bicara dengannya." Kata Barness.


"Kau bercanda!" Kata Reid.

__ADS_1


Barness menatap tajam Reid, begitu pula Reid. Tatapan yang saling serang dalam diam.


Kemudian Reid membuang nafasnya.


"Panggil aku jika si tua renta ini membuatmu kesusahan." Kata Reid.


Magdalena menjadi salah tingkah ketika Reid memanggil ayahnya dengan panggilan si Tua Renta.


Kemudian Reid pergi dan menunggu di depan pintu.


Sedangkan Magdalena masih berdiri di hadapan pria tua yang berwibawa dan memiliki aura tajam, yang sedang duduk di sofa dengan memegang walking sticknya.


"Dia selalu begitu. Kau pasti kesusahan." Kata Barness.


"Ti... Tidak... Dia pria baik." Kata Magdalena, mengatakan itu perasaan dan hatinya terasa tercubit.


Barness tersenyum kecut.


"Dia kejam, dia hidup dengan penuh luka dan kehidupan keras menempanya menjadi monster." Kata Barness.


Magdalena hanya diam.


"Kau sudah bertemu dengan Joyce?" Tanya Barness.


"Y... Ya... Tuan..."


"Kau tahu dia siapa..." Tanya Barness lagi.


Magdalena mengangguk pelan dengan ragu-ragu.


"Karena itulah, Reid sangat membenciku, tapi aku tidak ingin dia berakhir tanpa memiliki penerus. Aku mengkhawatirkannya, ketika tua siapa yang akan merawatnya, dia pasti akan kesepian, seperti aku. Semua memang kesalahanku, seandainya aku dapat memutar waktu."


"Kenapa anda tidak mengatakan itu pada nya?" Tanya Magdalena.


Barness tertawa kecut.


"Jika aku mengatakannya apa dia akan luluh dan memaafkanku? Dia bukan orang seperti itu, kami memiliki watak yang sama kerasnya. Jadi jika kami bertemu, itu hanya seperti mempertemukan sesama batu."


"Tapi setidaknya dia mengetahui keinginan dan rasa kekhawatiran anda." Bujuk Magdalena.


"Hanya begini yang bisa ku lakukan, mendesaknya menikah dan memiliki keturunan, maka saatnya aku pergi dari dunia ini aku sudah merasa tenang."


"Anda tidak boleh mengatakan itu tuan!! Bahkan ketika dia memiliki anak, anda akan menggendong cucu anda...." Seketika Magdalena sadar apa yang telah ia katakan, wajahnya berubah menjadi merah.


Barness tersenyum licik, itulah yang ia mau dan ia inginkan dari Magdalena.


"Berjanjilah, kau akan melahirkan seorang anak, bersamanya?" Kata Barness.


"Y.... Yaa... Tuan Barness... Sa... Sa saya akan beru... Saha..." Magdalena canggung.


Barness tersenyum penuh kemenangan, kini Magdalena telah terjerat dalam perangkap Barness.


Sedangkan Magdalena sendiri, ia yang terlalu gegabah dan hanya ingin menghibur Barness ternyata ia melupakan jika pemeran utamanya adalah dirinya dan Reid, dia seolah-olah sedang memberikan nasihat kebajikan padahal dia sendiri yang akan terjerat.


..."Aku masuk perangkapnya, pantas saja dia menjadi bos besar dan pria bisnis yang kejam." ...

__ADS_1


Magdalena tersenyum canggung melihat wajah Barness menjadi lebih sumringah dan penuh harap padanya, kali ini apa yang akan Magdalena lakukan.


Bersambung


__ADS_2