Janda Kembang Paman CEO

Janda Kembang Paman CEO
EPISODE 18


__ADS_3

Di sebuah apartmen mewah yang tak terlalu besar, seorang pemuda yang tampan sedang belajar dan tersenyum sendirian, ia teringat kembali bagaimana manis dan menggemaskannya Magdalena.


Dia adalah Alan Walton, pemuda yang sengaja membuat dirinya terlambat mengikuti mata kuliah profesor Judson.


Saat itu, Alan melihat Magdalena yang berlari dengan cepat, dan rambut panjangnya berkibar sangat halus, wajah yang cantik dan wajah yang terlihat lugu membuat hati Alan yang telah lama beku tiba-tiba saja mencair.


Magdalena berdiri di depan kelas dengan gugup dan mondar-mandir dia tidak tahu harus berbuat apa ketika terlambat.


"Dia akan mendapatkan hukuman sendirian. Itulah yang ku pikirkan saat itu. Profesor Judson tidak pernah pilih kasih dan pandang bulu pada siapapun."


"Seharusnya aku tidak terlambat namun karena memperhatikan dari kejauhan gadis itu berlari membuatku tidak dapat berpaling dan terus saja ingin menatapnya, aku bersembunyi dan sengaja tidak masuk kelas hanya agar bisa mendapatkan hukuman dan bersama-sama dengannya, dan benar, itu berhasil."


"Jadi... Namamu adalah Magdalena." Kata Alan tersenyum.


"Aku sudah gila." Gumam Alan lagi dan menepuk kepalanya.


"Drrtt... Drrtt...Drttt..." Ponsel Alan tiba-tiba berbunyi.


"Kenapa?" Tanya Alan menjawab panggilan itu.


"Ada acara makan malam jangan lupa untuk pulang."


"Bisakah aku tidak ikut?" Tanya Alan.


"Ini penting, kau harus."


"Baiklah, aku datang karena kau yang memintanya." Lanjut Alan.


"Itu baru adikku."


"Kak..." Alan berfikir apakah ia harus memberitahu pada kakaknya atau tidak, bahwa dirinya akan di hukum menjadi pegawai sukarela di perusahaan Armondite Grup.


"Ya... Kenapa?"


Kemudian Alan menggeleng pelan.


"Tidak... Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan padamu, untuk hati-hati, karena kau tahu kan bagaimana ayah." Kata Alan kemudian.


"Ya, tapi sudah cukup lama dia tidak membuat masalah."


"Syukurlah, semoga saja seterusnya dia tidak membuat masalah. Ku pikir akan lebih baik jika dia mati." Kata Alan.


"Jaga ucapanmu Alan, bagaimana pun dia tetap ayahmu."


"Ya, aku tahu, aku akan menutup teleponnya."


"Jaga dirimu."


Alan kemudian menutup ponselnya dan melihat berkas yang harus ia isi mengenai data diri, itu adalah berkas pengajuan sebagai pegawai sukarela di perusahaan Armondite Grup.


******

__ADS_1


Magdalena duduk di depan mejanya dan memandangi berkas di hadapannya. Satu lembar kertas yang berisi kan tentang pengajuan diri sebagai pegawai sukarela.


Kemudian Magdalena, menyedekapkan tangan, lalu berganti lagi memijit-mijit pipi nya dengan penanya.


Reid keluar dengan hanya memakai celana, dan tanpa memakai baju, pria itu mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil lalu berjalan pelan ke arah Magdalena.


Reid berdiri tepat di belakang Magdalena, saat itu Magdalena masih tidak sadar jika Reid telah membaca berkasnya.


"Armondite Grup?" Kata Reid.


"Ya... Armondite. Aku dihukum oleh Profesor Judson dan akan menjadi pegawai sukarela di sana selama satu bulan karena terlambat." Magdalena mendesahkan nafasnya tanpa melihat ke belakang.


Reid tersenyum kecil. Reid memang belum pernah membahas bahwa dirinya adalah pemilik Armondite Grup dan dia juga menjadi Ceo di beberapa perusahaan lain.


Sejujurnya Reid juga tidak mengatakannya pada Magdalena, karena Magdalena seperti tidak tertarik dengan uang beserta perusahaan.


"Kau mau ku antar ke sana?" Tanya Reid.


"Tidak... Aku pergi dengan temanku, dia juga di hukum."


"Teman? Kau sudah memiliki teman di hari pertama kuliah?"


"Ya, karena kami sama-sama terlambat... Dan kami juga pergi ke perpusta..." Belum sempat melanjutkan kalimatnya, saat Magdalena melihat kebelakang dan melihat Reid, wajahnya menjadi tegang, seperti darah mendidih melewati kepala atasnya.


"Kenapa kau tidak pakai baju!!!!" Teriak Magdalena dan mendorong dada Reid yang berdiri di belakang Magdalena.


Dengan menggunakan kedua telapak tangan, Magdalena mendorong dada Reid dan membuat Reid terjatuh di lantai.


Magdalena kemudian merasakan sentuhannya, kedua telapak tangannya yang ada di dada Reid.


"A... Aku... Aku...." Magdalena tergagap tak karuan dengan posisi itu.


"Aku harus tidur karena besok harus bangun pagi, dan pergi ke perusahaan Armondite lebih dulu lalu ke Universitas." Kata Magdalena bangkit dan pergi ke ranjang lalu menarik selimut.


Reid menutup matanya dan memukul kepalanya.


"Sesaat, aku ingin sekali... Menyentuh bibirnya, dia manis sekali saat sedang gugup, aku benar-benar sudah tak waras." Batin Reid.


Kemudian Reid bangun dan menyusul Magdalena yang sudah tidur menyelimuti tubuhnya.


"Kau sudah pasang Alarm, jangan sampai kesiangan." Kata Reid.


"Sudah." Kata Magdalena di balik selimut.


Reid naik ke atas ranjang dan berbaring.


"Bukankah kita seharusnya pisah kamar." Kata Magdalena masih di dalam selimut yang menutupi seluruh tubuh dan kepalanya.


"Dan Belinda mengetahuinya lalu rencanaku gagal total." Kata Reid.


"Atau kalau begitu, salah satu dari kita tidur di sofa."

__ADS_1


"Kau saja yang tidur di sofa." Kata Reid.


Magdalena membuka selimutnya dan menatap nanar pada Reid.


"Apa? Tatapanmu menakutkan." Kata Reid kemudian.


"Bukankah kau adalah pria? Biasanya di film-film drama para pria akan mengajukan diri mereka untuk tidur di sofa karena mereka ingin di anggap hebat."


"Aku tidak mau, aku butuh tidur yang nyaman dan nyenyak, tidur di sofa itu sangat tidak nyaman, apalagi paginya aku harus bekerja, aktifitas tidur terpisah di sofa dan ranjanh ini akan berlanjut entah sampai kapan, dan akan membuat tulang-tulangku sakit. Kau mau tidur di sofa? Silahkan, aku tidak keberatan, dan justru membuatku senang karena aku bisa memakai ranjang ini sendirian." Kata Reid.


"Astaga... Ku pikir kau adalah pria dingin yang berwibawa ternyata kau hanya pria tua berumur 32 tahun yang kekanakan dan tak berwibawa sama sekali. Kau mengeluh tentang sakit tulang, yaaa... Aku tahu pria tua memang renta." Kata Magdalena.


Reid diam, wajahnya dingin melihat Magdalena.


Tiba-tiba Reid memegang tangan Magdalena dan membuat Magdalena tak bisa bergerak, Reid berada di atas Magdalena.


"Aku tidak renta Magdalena. Aku masih sangat kuat. Kau mau mencobanya?" Kata Reid dingin.


"Ap.. Apa... Apanya... Aku mencoba apa!!!" Teriak Magdalena.


"Kau mau mencoba kekuatanku? Aku akan tunjukkan padamu dengan senang hati, dan kau akan tahu kalau aku tidak renta."


"Apa aku melukai harga dirimu? Baiklah.. Baiklah.. Aku minta maaf... Okey?" Kata Magdalena.


"Sepertinya akhir-akhir ini aku terlalu lembut padamu, membuat mulutmu tidak dapat di kontrol. Apa kau mau aku memberikan mulutmu ini pelajaran juga?" Tanya Reid dengan tatapan tajam.


Magdalena dengan cepat menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menggeleng cepat.


"Jadilah anak baik." Perintah Reid.


Magdalena mengangguk-angguk dengan masih menutup mulutnya.


Kemudian Reid berbaring kembali di tempatnya.


Magdalena menghela nafas.


Keheningan pun kembali merayap.


Tiba-tiba Magdalena mulai pembicaraan lagi.


"Bagaimana jika kita beli satu kasur lagi, atau mengambil kasur dari tempat lain dan di taruh di sini." Kata Magdalena.


Dengan cepat Reid melihat dengan tatapan bengis ke arah Magdalena.


Dengan cepat pula Magdalena menutup tubuh dan kepalanya dengan selimut agar tidak mendapatkan hukuman apapun dari Reid.


Di dalam selimut, jantung Magdalena bergetar serta berdetak dengan cepat, melihat wajah tampan Reid yang dingin dan serius membuatnya sadar bahwa sebenarnya Reid memang memiliki wajah yang sangat tampan dan juga, Magdalena kembali terngiang-ngiang ketika suara rendah Reid mengancamnya akan memberikan hukuman pada mulutnya, lalu otot tangan Reid yang mencengkram kuat pergelangan tangannya membuat Magdalena juga merasa sangat tertekan.


"Reid pasti sangat kuat. Astaga... Pikiranku kacau...!!!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2