Janda Kembang Paman CEO

Janda Kembang Paman CEO
EPISODE 15


__ADS_3

Setelah pembicaraan yang membuat Barness puas, Reid dan Magdalena keluar.


Tak di sangka di luar Belinda dan Joyce sudah menunggu.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Joyce dan menempel pada Barness.


"Hanya salam perpisahan." Kata Barness.


"Aku menunggu sangat lama di sini, kalian hanya membicarakan salam perpisahan?"


"Ya, Reid berpamitan." Kata Barness.


"Tuan, maaf, pesawat sudah siap." Kata Qartel.


"Ayo." Kata Reid mengajak Magdalena.


"Baiklah, hati-hati Magdalena." Kata Barness.


Kemudian Reid dan Magdalena pergi, namun Belinda mengekor di belakang dan langsung maju meraih lengan Reid lalu memeluknya.


Reid reflek menghempaskan tangannya, ia tak mau di sentuh.


"Aaahkkk...!!!" Belinda terhempas ke lantai.


"Astaga Belinda..." Pekik Joyce.


"Kau keterlaluan Reid!!!" Kata Joyce.


"Siapa yang sudah lancang, aku sudah katakan jangan menyentuh sembarangan."


"Tidak apa-apa tante Joyce. Aku yang salah, aku lupa." Kata Belinda malu.


Barness ogah ikut campur ia acuh tak acuh dan ia pun memilih masuk ke ruangannya lagi.


"Sepertinya aku tidak bisa naik ke pesawat yang sama dengan Reid." Kata Belinda.


"Ya sudah, kau harus buat perhitungan yang pedih saat kita tiba di mansion." Kata Joyce.


"Tentu saja, aku sudah tidak sabar." Kata Belinda.


Penerbangan berlangsung lama, Reid dan Magdalena sarapan di dalam pesawat karena mereka tidak sempat sarapan.


"Nona, apakah anda ingin kudapan lagi?"


"Tidak ini sudah cukup." Kata Magdalena.


"Aku juga akan terheran jika kau masih mau kudapan, tubuh mu kecil namun semangat makan mu luar biasa." Kata Reid mengelap mulutnya.


Magdalena hanya diam.


Melihat Magdalena hanya diam, Reid menjadi penasaran, biasanya Magdalena akan membalas kata-katanya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Reid.


"Ya, hanya... Aku masih memikirkan bagaimana kau bisa berjanji akan memberikan cucu pada Tuan Barness."


Seketika wajah Reid menjadi sangat merah.


"Hey!! Kenapa kau membahasnya!!!" Teriak Reid.


"Karena... Karena aku masih kebingungan!! Setidaknya kau bilang pada Tuan Barness tidak bisa, maka kita tidak akan pernah menemukan titik temua karena aku pun sudah menandatangi perjanjian itu!"


"Lalu kau pikir... Bagaimana kau mengambil keputusan sepihak mu itu dan menandatangani nya!" Kata Reid.

__ADS_1


"Ayahmu... Dia pintar menjadikan orang menjadi lemah." Kata Magdalena terduduk lemas.


"Bagaimana jika kita adopsi anak! Aku pura-pura hamil." Kata Magdalena.


"Kau gila?" Kata Reid.


"Kalau begitu bagaimana jika menyewa rahim, kau hamili dia dan aku pura-pura hamil." Kata Magdalena.


"CETAKKK!!!" Reid menyentil dahi Magdalena.


"Aaauwww!!! Sakit....!" Magdalena menyentuh dahinya dengan meringis.


******


Setelah penerbangan yang sangat lama, Magdalena pun juga tertidur di dalam pesawat, di sepanjang penerbangan, Reid tersenyum kecil, karena Magdalena selalu saja bisa tidur.


Akhirnya Reid serta Magdalena sudah sampai di mansion, saat itu Magdalena duduk dan para pelayan melayani nya.


"Nona anda pasti lelah, mau saya pijit?" Tanya pelayan itu.


"Nona apa ada yang ingin anda minum?" Tanya pelayan lain.


"Atau Nona Magdalena ingin makan sesuatu?" Tanya pelayan satu lagi.


"Tidak, terimakasih aku hanya mau istirahat." Kata Magdalena.


Deborah hanya berdiri, dan memperhatikan, karena tidak ada yang Magdalena inginkan kemudian Debora serta para pelayan pergi dari kamar.


Sedangkan Reid berada di ruangan kerja bersama Qartel membahas sesuatu.


"Dalam waktu satu tahun Magdalena harus hamil." Kata Reid.


Qartel masih diam.


"Tapi, bukankah anda dan Nona Magdalena sudah tidur bersama, seperti nya akan mudah menaikkan tahap selanjutnya, anda juga berbagi kamar serta ranjang." Kata Qartel.


"Maksudmu?"


"Eghem..." Qartel berdehem, ia agak malu mengatakannya.


"Maaf Tuan apakah ada suatu kedekatan antara anda dan Nona Magdalena? Seperti bersentuhan ketika tidur?"


"Aku tidak pernah menyentuhnya, namun setiap malam hingga pagi, Magdalena selalu memelukku."


"Apakah anda menolaknya seperti biasanya terhadap para wanita yang ingin menyentuh anda?"


Reid menggelengkan kepala.


"Anda tidak mendorong atau memlintir tangan Nona Magdalena saat Nona memeluk anda dalam keadaan tidur?" Tanya Qartel lagi memastikan.


Reid menggelengkan kepala lagi.


"Artinya anda tidak masalah jika Nona Magdalena memeluk anda?"


Reid diam.


"Sepertinya anda harus menaikkan tahap kedekatan anda, jika anda dan Nona Magdalena sama-sama tidak masalah untuk tidur saling berpelukan."


"Tapi, Magdalena tidak sadar, saat sadar dia menjerit." Kata Reid.


"Artinya bisa di simpulkan jika anda tidak keberatan sama sekali, dan Nona Magdalena justru yang terkejut, jadi anda harus membujuk Nona Magdalena agar dia mau berhubungan badan dengan anda Tuan." Kata Qartel.


"Tapi... Arrghh...!!!" Reid menggeram dan mengoyak rambutnya karena stress.

__ADS_1


"Kenapa juga kami harus memberikannya cucu, awalnya dia hanya ingin aku menikah saja. Sialan. Sekarang semuanya menjadi rumit." Kata Reid.


Tak berapa lama ada pemberitahuan surel masuk.


Qartel mengeceknya dan itu dari universitas A.


"Tuan sepertinya, Tuan Barness telah memasukkan Nona Magdalena ke Universitas paling bergengsi." Kata Qartel sembari memberikan tabletnya.


"Mulai besok dia sudah harus masuk, agar tidak ketinggalan lebih banyak?" Tanya Reid.


"Benar Tuan." Kata Qartel.


"Aku akan beritahu dia." Reid membenarkan rambutnya dan pergi keluar.


Qartel menundukkan kepalanya.


Saat Reid masuk ke dalam kamar, ternyata Magdalena sedang melepas pakaiannya.


"Aaaaaa!!! Kenapa kau masuk!!!" Teriak Magdalena.


Reid menutup pintu dan berbalik melihat ke arah pintu.


"Kenapa kau tidak ganti di ruang walk in closet." Kata Reid masih berbalik badan menghadap pintu dengan suara rendah yang bergetar.


"Repot." Kata Magdalena.


"Besok pagi kau harus sudah berangkat ke Universitas A, Pria tua itu sudah mendaftarkanmu."


"Universitas A?" Kata Magdalena saat itu Magdalena bengong.


Reid mengira Magdalena sudah selesai, dan ia pun berbalik.


"Astaga...." kata areid berbalik kembali menghadap pintu.


Reid melihat tubuh Magdalena yang hanya memakai pakaian dalam, bahkan dua gunung kembar Magdalena begitu terlihat menantang dan berisi, dalam pikiran Reud, ia langsung memikurkan kekenyalan dan kelembutannya.


"Gila!" Kata Reid.


"Cepat selesaikan pakaianmu!" Kata Reid.


"Ahh... I... Iya..." Magdalena kembali tersadar dari lamunan dan syocknya.


"Universitas A , adalah Universitas bergengsi, selain memiliki kredibilitas tinggi, mereka telah menciptakan para manusia yang unggul, aku sangat ingin pergi ke sana, apa kah aku bisa masuk ke sana jika dengan kemampuanku sendiri?" Kata Magdalena.


"Tentunya tidak. Mungkin kau bisa masuk karena pintar, namun, kau akan di depak jika tak punya uang, selain pintar kau juga harus punya uang untuk bisa menyumbang Universitas A, dan kau akan di hormati." Kata Reid.


Magdalena menelan ludahnya, dan ia sudah selesai memakai pakaiannya.


"Jadi, berapa yang Tuan Barness sumbangkan ke Universitas tersebut." Kata Magdalena.


"Setara dengan membangun Mansion, jadi belajar lah yang benar!" Kata Reid.


"Apaa....!" Magdalena kembali syock dan terduduk di tepi ranjang.


Reid hanya diam, ia sedikit melirik, apakah Magdalena sudah selesai, dan ia melihat Magdalena terduduk menganga.


"Astaga... Dasar, kenapa tidak bilang jika sudah selesai!" Kata Reid.


"Hei...." Panggil Reid sembari mendekat pada Magdalena.


Namun Magdalena masih syock dengan kabar bahwa Barness menyumbangkan ke Universitas setara dengan pembangunan Mansion.


"Apa yang harus ku lakukan...." Kata Magdalena.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2