Janda Kembang Paman CEO

Janda Kembang Paman CEO
EPISODE 21


__ADS_3

Waktu berjalan cukup lambat bagi Magdalena, berulang kali Magdalena meremas rambutnya dan menutupi kepalanya dengan buku saat jam kuliah berlangsung.


Magdalena tidak dapat berkonsentrasi, dia sangat takut dan menyesal telah membentak serta berteriak pada Reid, apalagi dia melampiaskan semua amarah dan kekesalannya, lalu pergi begitu saja dengan membanting pintu.


Alan yang duduk di dekat Magdalena hanya bisa melihat dan tak tahu apa yang terjadi pada Magdalena.


Ketika jam kuliah telah selesai, Alan tiba-tiba berdiri dan mendatangi meja Magdalena, lalu menaruh sebotol susu kemasan kecil di meja Magdalena.


Magdalena yang sedang mengemas buku ke dalam tas melihat susu itu dan kemudian ia mendongak ke atas.


Itu adalah Alan dengan wajah yang tampan, tentu saja Alan adalah pria terkenal di Universitas A karena ketampanan, dan kepintarannya, namun yang jauh lebih penting lagi adalah, dia pria yang tak pernah dekat dengan semua wanita, dia seperti membenci wanita dan sangat dingin dengan wanita.


Namun, sikap Alan yang seperti ini, tentunya akan menyulitkan Magdalena ke depannya, karena banyak wanita menjadi iri pada Magdalena.


"Kau muram sepanjang jam kuliah, minum itu." Kata Alan dan pergi meninggalkan Magdalena yang tertegun kenapa tiba-tiba Alan memberikannya susu.


"Aku tidak suka susu." Kata Magdalena cemberut sembari mengambil susu itu.


"Sayang sekali kau tidak suka!" Wenwen merebut susu kemasan itu dari tangan Magdalena.


"Aku suka, kalau begitu akan sayang jika di buang, maka akan ku minum." Kata Wenwen lagi.


Namun, Wenwen membual, ia tidak meminumnya melainkan di berikannya pada Sera.


"Ini Sera." Kata Wenwen.


Magdalena diam ia tidak ingin terlibat lebih jauh dengan mereka dan memilih untuk pergi.


"Hey!!! Kau bisu!!!" Teriak Hanah.


"Sudahlah, biarkan saja, dia mungkin harus segera pulang untuk mengurus pria tua nya yang penyakitan." Kata Sera meminum susu kemasan itu.


"Hii.... Menjijikkan..." Lanjut Wenwen bergidik dan membuat mulutnya mencibir.


"Namin kenapa Alan memberikannya susu, dan mereka menjadi terlihat lebih akrab? Hari ini mereka juga berangkat bersama." Kata Wenwen.


"Cari tahu." Perintah Sera.


"Tentu." Jawab Wenwen dan juga Hannah secara bersamaan.


Magdalena keluar dari kampus, dan ternyata seorang wanita dengan pakaian seksi yang mencolok serta memakai kacamata hitam dengan tas mewah ada di tangannya berdiri menunggu Magdalena.


"Kenapa kau ada di sini Belinda?" Sapa Magdalena.


"Menurutmu!" Kata Belinda kesal dan marah.

__ADS_1


"Panas sekali ayo masuk mobil! Aku menunggu lama sekali! Hari ini kau akan belajar Etiket!" Kata Belinda berjalan dengan kesal dan marah.


"Kalau kau lelah dan suasan hatimu tidak baik bisa besok saja kan?" Tanya Magdalena ikut masuk ke dalam mobil.


Mobil pun berjalan dan perlahan meninggalkan Kampus.


"Jangan cerewet! Siapa yang telah membuat suasana hatiku buruk! Aku menunggu sangat lama! Apalagi cuaca panas dan banyak pria kismin menggodaku! Dasar!!! Mereka pikir mereka siapa! Bahkan mereka tidak memiliki setara yang sama, mereka tidak diijinkan menggodaku!!! Mereka seharusnya malu!! Menjijikkan!!! Setidaknya jadilah orang kaya dan kalian boleh meminta nomorku!!! Sialan!!!"


"Siapa juga yang menyuruhnya menunggu dan di berdiri di bawah terik matahari, kenapa kau tidak pergi ke kafetarium atau kemana! Kau selalu merasa pintar tapi... Itu berbanding terbalik dengan semua sikapmu." Batin Magdalena.


Magdalena tak mengindahkan kalimat Belinda, ia memandang jalanan dengan tatapan kosong, namun pikirannya kini terbang begitu saja pada kenangan yang menempel dan terngiang-ngiang di otaknya sepanjang hari ini, Magdalena merasa gemetar dan bergidik, dengan kejadian dimana ia membantak dan berteriak pada Reid.


Mengingat itu kembali dada nya menjadi lebih sesak.


"Mampir ke toko buku dulu, aku harus membeli buku." Kata Magdalena.


"Kau pikir kau bos nya!" Teriak Belinda.


"Dia guru Etiket, tapi sikapnya justru jauh lebih mengerikan dari manusia biasa yang tak mempelajari Etiket." Keluh Magdalena pasrah di dalam hatinya.


Perjalanan tak membutuhkan waktu lama, dan mereka sudah sampai di mall.


Saat itu Belinda mengajak Magdalena untuk masuk ke dalam toko baju dan tas mewah, namun Magdalena lebih memilih untuk membeli buku lebih dulu.


"Hey!!! Kau ini jangan membangkang aku lah gurumu!"


Belinda menyedekapkan tangan dan hanya diam berdiri di dekat kasir karena tidak mood, namun ketika Magdalena selesai memilih beberapa buku dan hendak membayar, Belinda menyeringai ketus.


"Aku tidak akan membantumu meski kau di penjara karena tak memiliki uang untuk membayar, semua buku-buku itu mahal, lagi pula aku adalah guru Etiketmu, kau tak perlu membeli begitu banyak buku, coba ku lihat, banyak sekali buku yang kau beli, ini semua tentang bisnis, dan sikap, lalu Etiket, dan Table manner, apa lagi ini? Oh... Kau juga membeli buku tentang menjadi wanita bangsawan yang baik dan anggun? Hahaha.... Lucu sekali, lalu kau akan membayar semua ini dengan apa!" Pekik Belinda.


Magdalena pun mengeluarkan sebuah kartu.


Itu adalah Black Card, tanpa limit.


"Apa ini benar-benar bisa untuk membayar semua ini, suamiku mengatakan jika kau bisa membeli buku dengan ini."


"Blaackk... Blaackk... Blaackk Card...." Seketika wajah Belinda menjadi pucat, kepalanya mendadak pusing, ia ingin mengambil kartu Black Card itu namun Magdalena lebih cepat menyerahkan nya pada sang kasir.


Setelah urusan belanja buku selesai, Belinda kemudian memiliki ide licik.


"Kau tahu Magdalena, kau harus berpakaian sopan, lihat pakaian casual mu ini, memakai jeans dan juga memakai blouse biasa, kau ini akan ada di dekat Reid kau jangan membuatnya malu dengan penampilan udik dan kismin mu ini!" Belinda kemudian pergi dan di ikuti oleh Magdalena.


Belinda ternyata masuk ke dalam toko tas satu demi satu lalu pergi ke toko sepatu dan toko baju, dia menunjuk semua yang ia inginkan.


"Dari sini sampai sana."

__ADS_1


"Lalu ini, dan ini."


"Aku ambil semuanya, deret ini dan deret itu."


Belinda kalap bukan main, dan dia menggunakan black card itu dengan sesuka hatinya.


"Apakah tidak akan apa-apa..." Kata Magdalena pada Belinda.


"Aku gurumu yang akan mengajarimu Etiket, kau harus membayarku bukan? Di dunia ini tidak ada yang gratis, kau pikir sekolah Etiket dan sikap itu murah? Hey... Meski aku meminta seluruh toko ini kau tetap tidak dapat mengganti ilmu yang ku berikan padamu. Lagipula aku memakai uang Reid bukan uang mu, ini kartu milik Reid, bukan milikmu!" Belinda memandangi Magdalena dengan tatapan penuh merendahkan.


Kemudian Belinda memberikan Black Card milik Magdalena pada kasir, dan membayar semua belanjaannya.


Di Mansion, saat itu Reid sedang berada di ruangannya dan notifikasi muncul di ponselnya.


Reid memeriksanya.


Itu adalah penggunakan kartu yang ia berikan pada Magdalena.


Reid penasaran apa yang Magdalena beli dengan kartu itu.


"Mari kita lihat apa saja yang di beli." Kata Reid.


Namun, ketika Reid membuka Notifikasi itu, ia cukup di buat jijik, karena nominal yang tertera cukup banyak, dan ia melihat daftar toko mana saja yang tertera di notifikasi tersebut.


Meskipun itu adalah nominal uang tak seberapa untuk Reid, namun ada rasa tak suka di dalam diri Reid.


"Ternyata kau sama saja seperti wanita lain. Selalu kegirangan dengan barang-barang mewah. Tidak ada yang menarik dan spesial, ku pikir aku telah salah menilaimu Magdalena."


Namun, sebelum Reid selesai melihat notifikasi tentang pengeluaran Black Card.


Qartel telah masuk ke dalam ruangan.


"Tuan Reid anda harus keluar dan melihatnya." Kata Qartel.


"Ada apa?"


"Ada banyak kiriman belanja dari pusat perbelanjaan, semua barang-barang mewah."


Reid kemudian berdiri dan keluar dari ruangannya.


Benar saja, para petugas sedang mengeluarkan barang-barang branded dan ber merk itu dengan sangat hati-hati dari dalam mobil.


Reid juga melihat mobil-mobil berderet terparkir di depan halaman Mansionnya hanya untuk menurunkan belanjaan mewah yang banyak.


"Ya... Lagi-lagi wanita yang seperti itu, murahan, gila uang, dan juga berfoya-foya, membosankan." Kata Reid.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2