
Magdalena menaruh obat salepnya di atas meja, kemudian dia mengambil bantal dan menaruhnya di tengah-tengah antara Reid dan dirinya.
"Apa yang sedang kau lakukan." Tanya Reid ketus.
"Sa... Saya sedang membuat batas, ingat ya Tuan..." Kalimat Magdalena terpotong karena Reid mendelik, sembari sudah tiduran di atas ranjangnya. Itu karena Magdalena memanggilnya Tuan lagi.
"Maksudnya, anda jangan melewati batas ini." Kata Magdalena menunjuk bantal yang membatasi tempat tidur mereka.
"Berbicara lah santai, kau tidak seperti istriku melainkan pelayanku." Kata Reid dingin.
"Ma... Maaf..." Kata Magdalena.
"Mulai sekarang jangan berbicara formal padaku, belajarlah untuk berbicara santai, ayah dan Joyce akan mengira kita bukan pasangan suami istri. Jika kau tidak sanggup bersandiwara kembali kan hutang pria itu padaku. Jadi kau tidak perlu menjalani ini semua."
Magdalena menelan ludahnya kasar, darimana ia akan mendapatkan uang sebesar itu untuk membayar hutang.
"Pokok nya jangan melewati batas ini!" Kata Magdalena menepuk bantal pembatas di antara mereka.
"Lakukan apa maumu." Kata Reid memejamkan mata sembari menyedekapkan tangan.
Magdalena kemudian membaringkan dirinya, ia masih memakai handuk kimono, dan membungkus tubuhnya menggunakan selimut yang tebal.
Namun, itulah awal mula seorang Reid menjadi goyah. Seumur hidupnya hingga usia 32 tahun, ia tak pernah merasakan hal yang sampai menekannya, tidak pernah sekalipun sampai ia harus merasakan frustasi yang dalam.
Saat itu malam semakin larut, dan udara semakin dingin, Reid terbangun ia ingin memakai selimut namun, Magdalena memakai seluruh selimut itu seperti membungkus tubuhnya layaknya kepompong.
Reid tak bisa menahan tawa kecilnya, ia menggelengkan kepala, saat itu Magdalena benar-benar seperti telur gulung. Namun, secara bersamaan Reid sadar bahwa ia baru saja tertawa melihat Magdalena, tertawa dan tersenyum itulah hal yang ia lupa kapan terakhir kali melakukannya.
Karena selimut di pakai Magdalena, akhirnya Reid mematikan AC nya. Reid turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.
Setelah beberapa menit berada di kamar mandi, Reid keluar dan hendak membaringkan tubuhnya lagi.
Tiba-tiba Magdalena bangun, namun masih setengah sadar.
"Panas sekali..." Kata Magdalena bergumam masih dengan menutup mata.
Magdalena melempar kan selimutnya, dan masih dengan menutup matanya, gadis itu mencari ikatan handuk kimono, dan seperti nya akan membuka ikatan handuk kimononya.
__ADS_1
"Hei... Hei... Ap... Apa yang sedang kau lakukan..." Kata Reid panik, ia pun menjadi syock dan terkejut.
Magdalena membuang selimutnya dengan kakinya, ia juga melepas ikatan handuk kimono, lalu membuangnya ke lantai sembari masih menutup mata karena kantuk yang teramat dalam, dan Magdalena kembali merebahkan diri.
Reid menjadi salah tingkah, pasalnya kini Magdalena hanya memakai gaun tidur yang tipis dan menerawang, bahkan baju tidur itu sangat seksi, memperlihatkan belahan dada Magdalena yang berisi dan kenyal, belum lagi ketika Magdalena tidur dengan posisi muring paha dan bagian bokonggnya ter ekspose.
Reid kemudian perlahan membaringkan dirinya, tanpa melihat ke arah Magdalena, namun tak di sangka Magdalena justru melanggar garis batas yang ia buat sendiri dan memeluk tubuh Reid seolah itu adalah bantal guling, parahnya lengan Reid pun di jadikan bantal untuk kepala Magdalena.
Posisi yang sangat nyaman untuk Magdalena untuk melanjutkan tidut nyenyaknya.
Namun, berbeda bagi Reid, pria itu bahkan tidak dapat memejamkan matanya, jantungnya pun bertedak tak karuan, pria itu frustasi dan tertekan begitu dalam.
Malam-malam panjang bagi Reid di mulai dengan keresahan, kegundahan, dan gejolak yang harus ia tahan, belum pernah ia merasakan hal seperti ini sebelumnya selama hidupnya 32 tahun.
Begitu banyak wanita mendekatinya, Reid justru merasakan jijik dan mual yang tak karuan, itu semua lantaran memiliki sebabnya.
Sejak kecil Reid melihat ayah nya sendiri selalu bermain wanita dan ibunya selalu hanya diam menerima, kemudian pada akhirnya salah satu wanita gundikk milik ayah Reid yang bernama Joyce adalah wanita yang tak mau melepaskan ayah Reid.
Kemudian tibalah dimana Joyce menjungkir balikkan kehidupan Reid dan ibu kandungnya.
Itulah sebabnya Reid selalu saja menyingkirkan wanita yang mendekatinya, Reid membenci wanita, Reid jijik dan mual pada wanita.
Setiap sel-sel syaraf yang tersembunyi di tubuh Reid yang telah usang pun semakin tak bisa di tahan dan di bendung, seolah sedang di guyur pelumas dan menjadi lebih baru.
Ketika Reid semakin berusaha melepaskan diri dari pelukan magdalena yang sedang tertidur pulas, justru Reid semakin terjerat dalam keadaan yang tak menguntungkan baginya. Magdalena justru semakin membuat posisi yang semakin membangkitkan naluri Reid yang sudah berpuluh-puluh tahun bersawang.
Reid berharap pagi cepat datang dan semua cepat berakhir.
Hingga akhirnya pagi datang, dan Magdalena masih menikmati tidurnya, matahari pun telah semakin tinggi Magdalena juga tak kunjung bangun.
Ketika burung-burung bertengger di balkon dan membuat suara, barulah Magdalena perlahan membuka kedua matanya.
Magdalena semakin erat memeluk seolah itu adalah bantal guling, gadis itu juga merenggangkan tubuhnya dan merasa sangat puas karena bisa tidur dengan sangat nyenyak.
"Apa tidurmu nyenyak?" Tanya Reid.
Magdalena mengangguk perlahan dan tersenyum, namun seketika mata bulat Magdalena terbuka.
__ADS_1
Saat itu Magdalena sedang memeluk Reid, bahkan kepalanya berada di dada Reid, tangannya pun juga berada di atas dada Reid.
Magdalena menelan ludahnya.
"Pasti ini hanya mimpi, ketika aku memejamkan mata aku akan terbangun lagi." Kata Magdalena memejamkan matanya lagi
Kemudian beberapa menit Magadalena memejamkan matanya dan membukanya lagi, ternyata itu bukan mimpi.
Dengan gerakan cepat Magdalena duduk, menyimpuhkan kakinya, dan melihat wajah Reid.
"A... Apakaaah... Aku..." Kata Magdalena gemetar.
Reid hanya diam, wajahnya dingin, Magdalena mengira bahwa Reid pasti marah besar.
"Maaa... Maafkan... A..." Belum selesai Magdalena melanjutkan kalimatnya Reid telah memotongnya.
"Pagi ini kita sarapan bersama di kamar, tidak perlu turun, Joyce hanya akan merusak suasana." Kata Reid duduk dan kemudian berdiri dari ranjang.
"A... Apakah anda... Maksudku... Apakah kau tidak marah... Anu... Sayang?" Kata Magdalena terbata-bata dan ketakutan. Magdalena memanggil Reid dengan kalimat sayang, karena itulah perjanjian yang Reid berikan padanya.
Reid memunggungi Magdalena, dan masih diam.
"Aku atau kau dulu yang mandi?" Tanya Reid, ia tidak menjawab pertanyaan Magdalena.
"Kau saja dulu." Kata Magdalena.
Reid kemudian pergi ke kamar mandi lebih dulu meninggalkan Magdalena yang di penuhi pertanyaan-pertanyaan membingungkan.
Magdalena takut jika Reid marah, Magdalena takut jika Reid menjadi kesal, wajahnya begitu dingin dan datar tak bisa di baca dan di terka, apalagi ia tidur semalam dengan memakai tangan Reid menjadikannya bantal untuknya.
"Pasti tangannya kesemutan sepanjang malam kan?" Kata Magdalena menggigit jarinya.
Magdalena melihat selimut dan handuk kimononya yang jatuh di lantai, ingatannya di bawa pada saat malam ketika ia sangat mengantuk dan ada di bawah alam sadarnya, ia ingat telah membuka handuk kimononya dan membuangnya. Namun, ia tidak ingat saat itu sedang tidur dengan Reid.
Magdalena kemudian mengambil selimut yang ada di lantai dan menelungkupkan tubuhnya dengan menyelimuti tubuhnya. Magdalena bersembunyi di balik selimut tebal.
"Asstagaaaa!!! Kenapa kau ini Magdalena!!! Dasar bodoohh!!!" Teriak Magdalena di dalam selimut tebalnya.
__ADS_1
Bersambung