
Saat itu Belinda gelagapan, ia tak tahu jika ternyata Reid berdiri di sana dan mendengar apa yang ia ucapakan.
"Reid..."
Belinda memandang Reid dengan perasaan malu dan bersalah.
Namun, Reid tak memperhatikan Belinda ia berlenggang pergi dan menarik pergelangan tangan Magdalena dengan lembut.
Saat itu mata Reid hanya tertuju pada Magdalena, membuat Belinda mengigit bibir dan merasa marah.
Belinda melihat Reid membawa Magdalena masuk ke dalam mansion begitu saja.
"Aargghg!!!" Teriak Belinda dan menghentakkan kaki-kakinya.
"Magdalena... Kau pasti sengaja memancingku, karena kau tahu Reid ada di depan mansion." Geram Belinda.
"Nona Belinda..."
Tiba-tiba Belinda mendengar suara Qartel.
Belinda pun melihat ke belakang, dan itu memang Qartel.
"Apa." Jawab Belinda ketus.
"Saya harap anda benar-benar mempelajari berkas nya, jangan sampai Tuan Reid terkena masalah." Kata Qartel.
"Berisik! Pikirkan saja pekerjaanmu dasar pelayan!" Teriak Belinda dan pergi meninggalkan Qartel masuk ke dalam mansion.
Di dalam Mansion, tepatnya di dalam kamar Magdalena dan Reid, saat itu suasana kamar begitu canggung.
"Kau pulang telat lagi." Kata Reid.
"Kau pikir aku mau." Kata Magdalena melepaskan tasnya.
"Kenapa kau tak menolaknya."
"Aku bisa apa, dia Nyonya nya sekarang." Kata Magdalena.
Reid kemudian menarik lengan Magdalena.
"Kau Nyonya, dan kau bisa melakukan apapun." Kata Reid.
"Tapi aku bukan tipe wanita yang bisa melakukan apapun." Kata Magdalena.
"Tapi..."
"Aku lapar..." Kata Magdalena memotong kalimat Reid dengan kesal.
Magdalena memang sedang sangat lapar, hingga ia tak punya tenaga untuk berdebat.
"Aku akan hubungi Deborah." Kata Reid.
Kemudian mereka duduk di kursi, seperti biasa, para pelayan meletakkan makanan begitu banyak dan semua adalah kesukaan Magdalena.
"Deborah kau terbaik." Kata Magdalena.
"Saya tahu kesukaan dan pembangkit mood anda Nona Magdalena." Kata Deborah dan tersenyum kemudian pamit undur diri.
__ADS_1
Magdalena seperti biasa dengan cepat melahap makanannya, namun baru beberapa suap, ia melirik ke arah Reid. Pria itu memandanginya terus.
Perlahan Magdalena meletakkan daging steak nya, dan mengelap tangannya menggunakan tisu, lalu berpindah memakai sendok.
Reid seketika tertawa.
"Kenapa?" Tanya Magdalena penasaran.
"Tidak apa-apa..." Kata Reid, tapi dalam hati Reid begitu gemas melihat tingkah Magdalena.
Saat itu Magdalena belajar makan memakai garpu dan pisau, namun usahanya begitu sulit, dan sangat kaku, pergerakan tangannya sulit di kontrol, dagingnya sulit di potong.
"Padahal dagingnya empuk, kenapa sulit di potong." Kata Magdalena, sikunya kesana kemari dengan tangannya masih memegang pisau dan garpu.
Reid tersenyum dan berdiri.
"Kenapa tidak makan seperti biasanya." Reid kemudian berdiri di belakang Magdalena.
Tangan Reid maju dan memegangi kedua tangan Magdalena mengajari Magdalena mengiris daging.
Sejujurnya ketika Magdalena makan dan melihat Reid memandanginya, ada rasa malu di diri Magdalena, ia langsung terbayang dengan sosok Belinda yang berpendidikan dan sangat anggun, meski sifat dan sikapnya buruk, namun bisa-bisanya Magdalena tetap merasa malu dan rendah diri pada Belinda.
Magdalena merasa sangat rendah diri di hadapan pria tampan yang begitu dingin dan memiliki segalanya.
"Apa Belinda belum mengajarimu apapun." Tanya Reid masih memegangi kedua tangan Magdalena dan mengiris daging hingga kecil-kecil.
Magdalena menggelengkan kepalanya pelan.
"Sudah ku duga. Jadi kemana seharian ini kalian pergi?"
Magdalena diam.
Magdalena menggeleng, ia tak bisa memberitahu Reid bahwa ia ikut ke salon dan membantu Belinda menghafalkan apa yang ada di berkas itu.
"Sudah selesai..." Kata Reid melepaskan tangan Magdalena.
Sedangkan Magdalena melihat daging di priringnya sudah di potong-potong dengan sempurna.
"Kau tinggal makan dengan garpunya." Kata Reid kembali duduk.
Magdalena menurut dan memakannya dengan perlahan, menusuk dagingnya dengan garpu, dan membuka mulutnya dengan malu-malu.
Reid tak bisa lagi menahan tawa kecilnya, kemudian ia mengambil tisu dan membersihkan sudut mulut Magdalena.
Namun, ketika Reid membersihkan mulut Magdalena, tangannya tertahan dengan penglihatannya pada mulut magdalena, Reid menyentuh bibir Magdalena pelan.
"Sausnya..." Reid berbicara dan menelan ludahnya.
Magdalena hanya terpana melihat ke arah Reid. Betapa tampan dan mempesonanya Reid. Magdalena sadar Reid adalah pria tertampan yang pernah ia temui.
Reid maju perlahan dan kemudian wajahnya sedikit mendekat pada wajah Magdalena.
Sedikit demi sedikit bibir Reid maju dan tersisa beberapa inc lagi, Reid akhirnya berhasil mencium Magdalena.
Saat itu jantung Magdalena berdegup sangat kencang, bagaikan genderang perang.
Magdalena meremas garpunya dan pisau nya dengan keras, lalu menutup mata.
__ADS_1
Reid akhirnya berhasil mencium bibir Magdalena dengan melahapnya pelan, melumattnya pelan dan dalamm, begitu dalam hingga ciuman lembut itu cukup lama.
Reid kemudian menarik tubuh Magdalena ke atas pangkuannya, sembari masih terus menciumnya.
Sontak Magdalena terkejut dan membuat garpu serta pisaunya terjatuh ke lantai, menimbulkan suara cukup keras.
Reid terus mencium Magdalena dan memeluk punggung Magdalena.
Saat itu Reid mengarahkan kedua tangan Magdalena untuk merangkulnya, Magdalena pasrah dan menurut.
Ciuman dalam itu berubah menjadi ciuman yang ganas dan panas, membuat Magdalena kehabisan udara dan nafasnya hampir putus.
Reid tahu dan melepaskan ciumannya.
"Hhaaaaaahhh..." Magdalena melepaskan udara dalam dada dan menghirupnya kembali.
Reid tersenyum kecil.
Melihat Reid tersenyum dan memandanginya, Magdalena menjadi salah tingkah, ia merasa sangat malu dan memalingkan wajahnya.
"Kau harus bernafas saat aku menciummu..." Kata Reid.
Magdalena diam, ia berubah menjadi gadis malu-malu yang polos dan pasrah.
Merasakan bagaimana Reid memeluk punggungnya dengan lembut, hingga telapak tangan besar itu terasa begitu seperti melindunginya, kemudian Magdalena juga merasakan ciuman Reid begitu lembut dan bibir Reid sangat empuk.
Magdalena seketika seperti melayang ke atas awan.
"Apa seharusnya kita majukan saja." Kata Reid.
"Apa?" Tanya Reid.
"Kau tahu itu... Cucu untuk pak tua..." Bisik Reid.
"Ta... Tapi... " Magdalena menjadi sangat gugup.
Saat ini Magdalena masih duduk di atas paha Reid, dan pria itu masih membelai punggung Magdalena naik dan turun dengan lembut dan mesra.
Wajah Reid yang tersenyum, tenang dan begitu tampan membuat Magdalena seperti terhipnotis, begitu pula Reid, ini adalah pengalaman pertamanya selama usianya 32 tahun.
Reid tak berhenti tersenyum, ternyata mencium Magdalena membuatnya hampir berubah menhadi pria gila karena jika ia tak bisa menahannya, sudah pasti Reid akan melahap habis Magdalena hingga pagi dan tak akan membiarkannya pergi.
"Berikan aku satu ciuman lagi..." Bisik Reid di telinga Magdalena.
Bisikan itu tentu saja membuat Magdalena merinding apalagi Reid dengan sengaja mengecup dan mengulum telinga Magdalena dengan lembut dan pelan.
Magdalena yang masih duduk di pangkuan Reid, dan kedua tangannya yang melingkar di bahu Reid seketika meremas bahu Reid dengan jemari-jemari tangan Magdalena yang lentik.
"Kau merasakannya juga..." Bisik Reid lagi di telinga Magdalena.
"Aaa.. Aapaa.." Tanya Magdalena lemah tak bertenaga.
"Sesuatu... Kau pasti merasakannya juga... Sesuatu yang menjalar ke seleuruh syaraf tubuhnmu." Reid kemudian mencium leher jenjang Magdalena dan membuat bekas merah di leher putih Magdalena
Hisapan Reid membuat Magdalena benar-benar tenggelam dalam perasaan yang aneh.
Magdalena menutup matanya dan meremas bahu Reid, sedangkan Reid masih asyik dengan dirinya yang menciumi dan menelusuri leher Magdalena.
__ADS_1
Bersambung